Thursday, August 17, 2017

√ Inflasi Juga Motivator


Inflasi Membuat Daya Beli Turun, sumber foto: aciknadzirah.blogspot.com/search?q=penyebab-inflasi-di-indonesia?m=1

Bicara soal inflasi memang tak ada habisnya. Karena kata "harga" menempel di setiap lini acara ekonomi kita sehari-hari. Inflasi begitu legit kiprahnya alasannya stabilitas ekonomi suatu negara juga ditentukan seberapa besar kontrol terhadap besaran inflasi.

Soal harga, soal keputusan. Bagi siapa? Utamanya bagi produsen yang setiap waktu berkarya menghasilkan suatu barang atau jasa untuk memenuhi ajakan kita. Apabila harga materi baku naik, produsen yang orientasi dasarnya yaitu keuntungan, pastilah tak mau dong rugi. Inflasi mendorong produsen untuk meningkatkan volume barang yang dihasilkannya. Lho kok malah begitu?

Begini, bila inflasi terjadi, tentu sedikit banyak kuat pada naiknya harga materi baku dan margin perdagangan. Masak produsen tidak ingin untung?. Nah, oleh lantaran itu, biasanya dia harus memperbanyak produknya, atau melaksanakan derivasi produk atau produk sampingan untuk menjamin risiko bila dia mengalami kerugian jawaban inflasi.

Harga produknya mahal kok malah nambah jumlahnya?. Saat inflasi, ibarat yang telah terulas sebelumnya, risiko uang itu besar, uang terasa "panas" sehingga harus segera dibelikan barang. Takutnya, ke depan malah harganya lebih tinggi. Bagi produsen, ketika inflasi yaitu ketika dia menerapkan "aji mumpung", yaitu dengan menambah produksinya dan melaksanakan efisiensi perusahaan sehingga efek baliknya tak terlalu besar.

Barang saya harganya mahal, wah mumpung nih, meskipun materi bakunya mahal lantaran langka, misal, tapi saya lakukan efisiensi tenaga kerja atau memproduksi barang sampingan dari barang saya. Kira-kira begitulah mekanismenya.

Kendati demikian, perlu diketahui bahwa inflasi yang bermanfaat memotivator produsen untuk menambah jumlah produksinya, itu inflasi yang kecil, tak lebih dari 10%. Tapi, justru berakibat jelek bagi produsen bila yang terjadi yaitu hyperinflasi atau kisaran inflasi mencapai lebih dari 10%.
Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/