Fort Marlborough: Saksi Sejarah Kekuasaan Inggris di Bumi Rafflesia Bengkulu – Di hari kedua #FamtripBengkulu2017, kami berkesempatan untuk mengunjungi jejak-jejak bersejarah di Bengkulu.
Setelah mengunjungi Pantai Panjang, Museum Negeri Bengkulu, dan Rumah Pengasingan Bung Karno, para blogger penerima Famtrip Bengkulu pun mengunjungi Fort Marlborough atau Benteng Marlborough.
Fort Marlborough ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan di Bengkulu. Sebuah warisan penuh sejarah yang sudah usang ada di tanah Bengkulu.
Tentang Fort Marlborough, Bengkulu: Saksi Perkembangan Tanah Bengkulu Dalam 3 Abad Terakhir

Daftar Isi
Seperti namanya yang familiar dengan nama-nama Inggris pada umumnya, benteng ini merupakan benteng peninggalan yang juga menjadi bukti kekuasaan Inggris di tanah Sumatera.
Menjadi benteng terkuat kedua Inggris di Wilayah Timur sesudah Fort St. George di Madras, India, Fort Marlborough merupakan basis pertahanan Inggris di tanah Nusantara dan menjadi benteng peninggalan Inggris terbesar di tempat Asia Tenggara.
Benteng ini dibangun dalam rentang tahun 1713-1719 oleh East India Company (EIC) di bawah komando Joseph Collett sebagai sang Gubernur Jenderal yang berkuasa dan pribadi menjadi basis pertahanan yang amat tangguh di British Bencoolen.
Baca Juga: Rafflesia Arnoldii: Puspa Langka dan Sebuah Kejutan
Fort Marlborough berdiri tegap menghadap selatan membelakangi Samudera Hindia. Benteng ini mempunyai luas sekitar 44.100 m2 dan berdiri 8,5 meter di atas permukaan laut.
Nama Fort Marlborough sendiri merujuk pada nama Duke of Marlborough I yang ketika itu menjadi pendekar dalam perang Inggris-Prancis.
Sekitar seabad sesudah benteng ini didirikan, Thomas Stamford Raffles tiba sebagai pemimpin kolonial Inggris di tanah Bengkulu (1818-1824) dan kemudian menciptakan Bengkulu semakin populer.
Mungkin kalian ingin tau mengapa Inggris tidak terus menjajah Indonesia dan malah Belanda yang usang berkuasa? Sekitar tahun 1825, Inggris dan Belanda melaksanakan perjanjian untuk memudahkan kendali dalam mengontrol wilayah jajahan masing-masing.
Baca Juga: Mengintip Persiapan Menyambut Flower Garden Festival 2018 di Taman Bunga Inaya, Bengkulu
Belanda yang ketika itu menduduki Singapura dan Malaysia, mengambilalih Bengkulu untuk menguasai Indonesia, sementara Inggris mengambilalih Singapura dan Malaysia demi memperkuat basis jajahan masing-masing kolonial.
Fort Marlborough diduduki oleh kolonial Belanda sampai Perang Dunia II. Jepang pun mengambilalih daerah jajahan sesudah menundukkan Belanda dan menguasai Nusantara.
Belanda juga sempat kembali menduduki Fort Marlborough sampai tahun 1950-an ketika Agresi Militer Belanda dan kemudian diambilalih oleh Tentara Nasional Indonesia AD sampai 1977 sebelum diserahkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk dijadikan cagar budaya dan objek pariwisata sampai ibarat sekarang.
Menjelajahi Jejak Kekuasaan Inggris di Fort Marlborough, Bengkulu

Ketika pertama masuk, suasana jadul ala periode ke-17 pribadi terasa, ya walaupun tidak pernah hidup di zaman tersebut.
Pun kemudian, kita disambut oleh prasasti kuno yang sengaja dipindahkan ke penggalan dalam pintu masuk dengan goresan pena klasik ala British.
Masing-masing prasasti tersebut bertuliskan nama Richard Watts dan George Shan, son of M. Thomas Shan.

Setelah melewati jembatan menuju pintu masuk, terdapat tiga makam kuno yang masing-masing merupakan milik Residen Thomas Parr yang tewas dibunuh oleh rakyat Bengkulu pada tahun 23 Desember 1807, Charles Murray yang tewas sesudah berusaha menyelamatkan Thomas Parr, dan Robert Hamilton.
Saat memasuki benteng ini, tim travel blogger disambut dengan tarian akhlak Bengkulu dan musik Dol. Suasana seketika ramai dibaluti perasaan penuh kehormatan.
Pasalnya, tarian yang bertajuk Sekapur Sirih ini biasanya dipersembahkan untuk tamu kehormatan akhlak maupun kerajaan.
Namun remaja ini, tarian Sekapur Sirih juga dipakai sebagai ritual penyambutan tamu dari luar Bengkulu. Sungguh sebuah bukti akhlak yang kaya dan lestari!
Setelah melewati jembatan ke arah pintu masuk kedua, dua ruangan menyambut kami, masing-masing merupakan Ruang Pegawai EIC di sisi kiri dan Sel Militer di sisi kanan.
Berbelok ke sisi kanan terdapat rongga-rongga sel yang dulunya dipakai sebagai sel tahanan. Terus berjalan maka tibalah kami di sebuah museum yang ketika itu gres saja diresmikan. Di situlah kita bisa melihat dengan terperinci jejak kekuasaan kolonial Inggris di Bengkulu.
Terdapat patung dua pemimpin beda zaman di dalamnya, Sir Thomas Raffles dan Bung Karno. Di seisi museum ini terpampang banyak sekali informasi sejarah yang menarik sekali dibaca. Jadi, bagi kau pecinta sejarah, tempat ini akan membuatmu betah.
Di tengah benteng terdapat sebuah lapangan dengan beberapa meriam berderetan, dipisahkan oleh segaris jalan yang masih tertata rapi. Ukuran lapangan itu cukup luas, kira-kira setengah ukuran lapangan sepakbola.

Di lapangan itulah kami kembali disuguhkan atraksi Dol. Pengalaman wisata yang kami rasakan pun semakin lengkap. Belum lagi setiap anggota begitu semangat berusaha menawarkan keahlian di hadapan kami para audiens.


Seluruh penabuh Dol dan pengiring lainnya sangat jago memainkan instrumennya. Mereka pun dengan semangat menawarkan keahliannya menabuh. Sesekali anak kecil turut menari mengikuti iringan.
“Ini gres namanya wisata”, pikirku dalam hati. Jarang-jarang saya bisa menikmati perpaduan budaya barat ala Inggris dan budaya Bengkulu dengan efek Melayu dalam satu momen sekaligus yang keduanya masih sangat kental.
Baca Juga: Lesehan Pancur, Curup, Bengkulu: Jamuan Siang Kala Menjelajah Bengkulu
Dalam keriuhan gema musik, kita diberi kesempatan untuk mencoba menabuh Dol. Tinggal mengikuti iringan yang ada, tidak sulit untuk cepat terbiasa dengan nada tabuhannya.
Kemudian, kami diberi kesempatan untuk menjelajahi banyak sekali sudut Fort Marlborough. Sudut pertama yang kami eksplor yaitu penggalan rooftop. Di atasnya terdapat sebuah meriam yang menghadap ke arah Samudera Hindia.

Terang saja, pemandangan dari atas rooftop ini bukanlah pemandangan biasa. Kita bisa melihat hamparan maritim lepas Samudera Hindia yang anggun dengan desiran ombak menghantam bibir Pantai Tapak Padri yang terhubung dengan Pantai Panjang.
Coba bayangkan kalau musuh tiba dari arah laut, bisakah satu meriam ini meredam serangannya?
Catatan Bagi Kamu yang Ingin Berkunjung ke Fort Marlborough
Datanglah pada pagi atau siang menjelang sore biar cuaca tidak terlalu panas dan ketika tidak terlalu ramai. Karena benteng ini sangat luas, usahakan biar menjelajahi setiap bagian.
Ada banyak spot yang bisa kau tilik lebih dekat, beberapa di antaranya yakni:
- Museum
- Ruang Pegawai EIC
- Ruang Sel Tahanan
- Terowongan (yang katanya dulu dipakai sebagai escape route tentara Inggris bila benteng ini dikepung, bisa tembus sampai Pantai Panjang)
- Rooftop
- Gudang Persenjataan/Mesiu
- Dua Jembatan/Ravaline
- Makam & Prasasti
- Dan bermacam-macam spot Instagramable lainnya
Yang pasti, jangan cepat puas bila kau sudah menjelajahi beberapa destinasi di atas alasannya yaitu masih banyak hidden spots yang bisa kau manfaatkan untuk berfoto sembari memenuhi feed Instagram-mu dengan foto-foto kece.
Peta Lokasi, Alamat Lengkap, dan Harga Tiket Masuk Fort Marlborough, Bengkulu
- Alamat Lengkap: Jl. Benteng, Kebun Keling, Tlk. Segara, Kota Bengkulu, Bengkulu 38119
- Jam Operasional: Pukul 08.00 – 17.00 WIB
- Harga Tiket Masuk: Rp 5,000 (Dewasa), Rp 3,000 (Anak – anak)
Penutup

Yang niscaya bila ke Bengkulu, jangan lupa singgah ke Fort Marlborough, sempatkan waktu apapun ceritanya 😀 Pengalaman wisata bersejarah ke sini akan membuatmu merinding kalau ‘beruntung’, alasannya yaitu sama ibarat wisata sejarah lainnya, ada cerita-cerita mistis yang turut membaluti benteng ini.
Dan sesudah mengunjungi benteng ini, yang terpampang di wajah kami hanyalah raut penuh senyum berisi kegembiraan, terutama diberi kesempatan untuk menjadi penerima #FamtripBengkulu2017 oleh Dinpar Bengkulu bersama Alesha Wisata, teman-teman blogger Bengkulu, Ayo Jalan-Jalan, dan rekan-rekan lainnya yang membimbing dan menemani.
Videonya Boleh Dilihat-lihat Dulu Kok 😉
ARTIKEL LAINNYA:
- Tips Mendaki Gunung Untuk Siapapun
- The Food Factory
- Pendakian Gunung Sindoro 3.153 Mdpl via Jalur Kledung, Jawa Tengah
- Menanjaki Gunung Ciremai, Jawa Barat
- Pendakian ke Gunung Cikuray, Jawa Barat
- Pendakian ke Gunung Merbabu, Jawa Tengah
- Catatan Pendakian ke Gunung Semeru, Jawa Timur
- Pendakian ke Gunung Sumbing, Jawa Tengah
- Pendakian ke Gunung Slamet, Jawa Tengah
- Famtrip Genting Highlands Kuala Lumpur, Malaysia 2017
- Theme Park Hotel Resort World Genting Highlands, Kuala Lumpur
- Menikmati Sedapnya Hidangan Bubbles and Bites, Genting Highlands
- The Visitors’ Galleria
- A Short Visit to Bira Island, Thousand Islands
- A Day Trip Without Digital Tech
- Solo Trip to Taman Alam Lumbini, Berastagi, Tanah Karo
- [Infographic] 10 Top Travel Hacks
- Kunjungan ke Floating Market Lembang
- Gereja Katedral Jakarta: Gereja Nasrani Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga
- Wisata ke Tebing Keraton Bandung
- Menjelajahi Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah
- Catatan Perjalananku Menjelajahi Nusa Penida, Bali
- Gunung Batu Lembang, Jawa Barat
- Bira Island, Pulau Seribu
- Floating Market, Bandung
- Rafflesia Arnoldii, Festival Bumi Rafflesia, Bengkulu
- Lesehan Pancur, Curup, Bengkulu: Jamuan Siang Kala Menjelajah Bengkulu
- Gunung Papandayan: Sebuah Pendakian yang Cocok Menjadi Weekend Getaway
- Menjelajahi Mangrove Forest Nusa Lembongan, Bali
- Mengintip Persiapan Menyambut Flower Garden Festival 2018 di Taman Bunga Inaya, Bengkulu
- Fort Marlborough: Saksi Sejarah Kekuasaan Inggris di Bumi Rafflesia Bengkulu
- Barleu Coffee Bandung, Minimalis di Remangnya Bandung Malam
- Ambrogio Patisserie, Tempat Nongkrong Asik di Bandung
- Menanjaki Gunung Ciremai 3.078 Mdpl, Garut, Jawa Barat
- Hamparan Bunga, Pesawat, dan Indahnya Alam di Danau Mas Harun Bastari, Bengkulu
- Gunung Slamet: Perjalanan ke Titik Tertinggi Jawa Tengah
- Pendakian Gunung Cikuray, Garut – Jawa Barat
- Pantai Ladeha, Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan Pulau Nias
- Bunga Bangkai: Konservasi Amorphophallus Titanum di Bengkulu
Sumber https://walterpinem.me