Friday, April 13, 2018

√ Emha Ainun Nadjib Ya … Cak Nun. Dapat Jadi Siapapun.

EMHA AINUN NADJIB – Memiliki nama orisinil Muhammad Ainun Nadjib. Nama dia di buku-buku ialah Emha Ainun Nadjib, tapi kita sering mengenalnya dengan sebutan Cak Nun.


Tulisan ini mau dianggap biografi terserah, mau dianggap ngutip terserah. Pokoknya terserah. Seperti halnya beliau, sak karepmu, mau dipanggil kiyai, mbah, ‘ulama, ustadz, budayawan, atau apapun. Sebab dia tidak butuh nama-nama itu. Sesuaikan saja dengan kebahagiaanmu.


 Memiliki nama orisinil Muhammad Ainun Nadjib √ Emha Ainun Nadjib ya … Cak Nun. Bisa Makara Siapapun.


Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 Mei 1953. Karni Ilyas, moderator nyentrik ILC itu selalu memanggilnya sebagai seorang selebritis yang hakiki.


Ya, bagaimanapun anda menyebutnya, dia senang-senang saja. Bahkan ketika anda menyebutnya kafir atau sesat sekalipun. Tapi apa iya segampang itu mengkafirkan seorang Cak Nun yang sanggup mempersuasi abangan untuk bertahap mengkaffahkan diri? Ya … dengan menjadi dirinya sendiri.


Mengenalkan Allah dengan cara mengajak berpikir, barangkali jadi metoda yang diusung oleh Cak Nun. Dan ini ialah proses yang tampaknya mengundang golongan lain untuk menyebutnya dengan landihan yang tidak-tidak.


Cak Nun ya Cak Nun. Sudah menyerupai itu saja menyebut beliau.


Dengan semangat Islam, Emha Ainun Nadjib selalu berusaha untuk tidak membenci pada siapapun. Menerima siapapun saja yang ingin berkomunikasi dengannya.


Seperti misalkan ketika Maiyah (majlisnya Cak Nun) di Sleman, kedatangan tamu Ust. Felix Siauw yang notabene bergerak di organisasi HTI, Cak Nun tetap menerimanya. Padahal rerata jamaah Maiyah dia ialah orang-orang ‘galak’, begitu kata seseorang di kolom sentilan detikcom.


Ya .. ndak usah ditarik lebih jauh lagi jikalau pemikiran Cak Nun banyak tidak sependapatnya dengan HTI. Apa kata Cak Nun soal ini?


“Saya ini ingin menjadi perekat bagi semua pihak. Bertabayun, berdiskusi, tukar pikiran, dan malam ini, kita kedatangan tamu jauh dari Jakarta, ust Felix Siaw, yang dikala ini ada di tengah-tengah kita entah di sebelah mana.”


Begitu yang ditulis mitra Ust. Felix dikala membersamai dia sinau bareng Cak Nun. Lalu Cak Nun melanjutkan,


“Saya banyak tidak sependapat dengan pemikiran dia (ust Felix Siaw) dan dia juga banyak tidak sependapat dengan saya. Setiap orang memang tidak harus sependapat tetapi kebersamaan dan diskusi perlu terus dibangun.”


Anda lihat? Betapa kemudian keduanya mempunyai jiwa keterbukaan yang lebar. Ust. Felix sudi tiba ke Maiyah Emha Ainun Nadjib, dan Cak Nun pun berbahagia kedatangan tamu Ust. Felix. Jadi,


Emha Ainun Nadjib ya Emha Ainun Nadjib. Sudah menyerupai itu saja menyebut beliau.


Ada sebuah video singkat yang dibentuk oleh akun instagram @edhnx, judulnya Identitas. Isinya, Cak Nun bicara begini,






“Jangan diagamakan itu NU, jangan diagamakan itu PKS, jangan diagamakan itu Hizbut-tahrir, jangan diagamakan Muhammad, jangan diagamakan ahlussunnah, jangan diagamakan itu syiah. Kamu kok sibuk amat sama identitas.


Mbok, dilihat kelakuan saya itu bagaimana gitu aja lho. Saya ini nyuri apa tidak kan gitu kan? Saya ini orang ambisius apa tidak, saya ini orang yang sanggup dipercaya apa tidak, kondusif gak jikalau kau sama saya, urusan sama saya kondusif apa tidak. Mbok gitu …


Kok yang dilihat kok benderanya apa. Lha, Rasulullah itu ndak NU, ndak Muhammadiyah, ndak Sunni, ndak Syiah, ndak Hizbut-tahrir, ndak PKS, ndak PKB. Kita ini bertengkar tiap hari menurut identitas itu.


Mari kita efisien untuk kebaikan. Fastabiqul khayrat.”


Barangkali anda tidak oke dengan pendapat itu. Ya itu tidak masalah. Tapi coba juga lihat video ini (dari akun IG @noureez12) dengan judul Hayya ‘alal Falah.






“Di dalam kehidupan yang Allah merahmatinya … dan memberi cobaan-cobaan yang indah. Tantangan-tantangan yang seperti merupakan kesulitan, tapi bekerjsama mengandung kenikmatan dan keindahan yang luar biasa. Ucapkan, “Allahu Akbar, Allahu akbar.” setiap dikala di dalam hatimu, kemudian perbaharui sumpahmu, “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah.”


Kemudian tidak berhenti salat … di dalam ibadah mahdahmu maupun salat di dalam ibadah muamalahmu; di kantor-kantormu, di daerah kerjamu, di perjalanan, di rumahmu, di dalam diammu, di dalam duduk maupun berdirimu, di manapun saja dan kapan saja engkau melaksanakan SALAT.


Artinya engkau meletakkan seluruh pekerjaan dan perjuanganmu itu sebagai bentuk sujudmu kepada Allah swt. Maka sesudah Hayya ‘alash shalah, hayya ‘alash shalah yang engkau lakoni tiap hari, siang dan malam, engkau akan masuk ke dalam Hayya ‘alal falah.”


Apa anda setuju? Makara kenalilah Emha Ainun Nadjib menurut apa yang anda suka. Sesederhana itu.



Kehidupan Pribadi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)


 Memiliki nama orisinil Muhammad Ainun Nadjib √ Emha Ainun Nadjib ya … Cak Nun. Bisa Makara Siapapun.


Ini menurut apa yang tertulis di Wikipedia. Kami hanya menulisnya ulang dengan bahasa sendiri.


Cak Nun ialah anak keempat dari 15 bersaudara. Memiliki jiwa ‘pemberontak’ semenjak mondok di Gontor, dia mengakhiri studi formalnya di semester satu UGM Fakultas Ekonomi.


Tapi Cak Nun ialah pemberontak yang dirindukan. Setelah ‘diusir’ dari Gontor alasannya ialah melaksanakan ‘demo’ terhadap pimpinan pondok dengan alasan sistemnya yang kurang baik, beberapa sobekan kalender kemudian dia malah diundang mengisi program majlis di sana.


Antara tahun 1970 – 1975, Emha menggelandang di Malioboro, Yogyakarta. Belajar sastra kepada Umbu Landu, orang yang paling mensugesti perjalanan spiritual Cak Nun. Masa-masa itu, dia juga bertemu dengan seniman sarat makna lain menyerupai Ebiet G. Ade.


Menikah dengan Novia Kolopaking secara dramatis, sesudah gagal di pernikahannya yang pertama. Cerita ihwal mereka sanggup anda lihat di youtube. Tinggal ketik saja di kotak pencarian Cak Nun dan Novia Kolopaking.


Salah satu putra yang mewarisi pemikiran dia ialah Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih kita kenal sebagai Noe Letto.


Ya, Emha Ainun Nadjib ialah ayah dari vokalis grup band sufistik itu. Tak heran jikalau lirik-lirik dari lagu-lagu yang dilahirkan dari rahimnya selalu ditelisik oleh siapapun saja pencari makna, termasuk kami.


Maiyah Indonesia Cak Nun


 Memiliki nama orisinil Muhammad Ainun Nadjib √ Emha Ainun Nadjib ya … Cak Nun. Bisa Makara Siapapun.


Secara rutin Cak Nun berkeliling Indonesia mengadakan majlis Maiyah. Di antara daerah yang sudah rutin disambangi oleh dia adalah:



  • Yogyakarta dengan tajuk Mocopat Syafaat

  • Jakarta dengan tajuk Kenduri Cinta

  • Jombang dengan tajuk Padhangmbulan

  • Semarang dengan tajuk Gambang Syafaat

  • Surabaya dengan tajuk Bangbang Wetan

  • Mandar dengan tajuk Paparandang Ate

  • Sidoarjo dengan tajuk Maiyah Baradah

  • Malang, Hongkong, dan Bali dengan tajuk Obro Ilahi

  • Banyumas Raya dengan tajuk Juguran Syafaat

  • Magelang dengan tajuk Maneges Qurdoh


Di majlis maiyah itu, Cak Nun melaksanakan dekonstruksi pemahaman atas rujukan komunikasi antar golongan, nilai-nilai yang harus dianut, pendidikan cara berpikir, dan menuntaskan solusi masyarakat.


Essai dan Buku-Buku Emha Ainun Nadjib


 Memiliki nama orisinil Muhammad Ainun Nadjib √ Emha Ainun Nadjib ya … Cak Nun. Bisa Makara Siapapun.


Entah sudah berapa goresan pena yang terekam oleh kertas. Yang jelas, Cak Nun sangat rajin mengejawantahkan pemikirannya ke tulisan-tulisan. Dari mulai essai, buku, hingga pun pada postingan di blog officialnya.


Berikut daftar buku yang sudah ditulis Cak Nun (Emha Ainun Nadjib),



  • Tuhan pun ‘Berpuasa’

  • Slilit Sang Kiai

  • Kafir Liberal

  • Markesot Bertutur

  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai

  • Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem

  • Keranjang Sampah

  • Demokrasi Tolol Versi Saridin

  • Sastra yang Membebaskan

  • Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah

  • Meyibak Kabut Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto

  • Sajak-sajak Sepanjang Jalan

  • Demokrasi La Roiba Fih

  • Kiai Kocar-kacir

  • Iblis Nusantara Dajjal Dunia

  • Kagum pada Orang Indonesia

  • Suluk Pesisiran

  • Yang Terhormat Nama Saya

  • Gelandangan di Kampung Sendiri

  • Doa Mohon Kutukan

  • Folklore Madura

  • Jogja Indonesia Pulang Pergi

  • Titik Nadir Demokrasi: Kesunyian Manusia dalam Negara

  • Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta: Sebuah Trilogi

  • Cahaya Maha Cahaya

  • Kerajaan Indonesia

  • Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan

  • Dari Pojok Sejarah

  • 99 untuk Tuhanku

  • Terus Mencoba Budaya Tanding

  • Indonesia Bagian dari Desa Saya

  • Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

  • Pak Kanjeng

  • Markesot Bertutur Lagi

  • Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya

  • Syair Lautan Jilbab

  • BH

  • Surat kepada Kanjeng Nabi

  • Bola-bola Kultural

  • Kiai Sudrun Gugat

  • Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia

  • Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu

  • Istriku Seribu

  • OPLeS: Opini Plesetan

  • Perahu Retak

  • Jejak Tinju Pak Kiai

  • Sesobek Buku Harian Indonesia

  • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan

  • Abacadabra Kita Ngumpet

  • Orang Maiyah

  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba

  • Secangkir Kopi Jon Parkir


Kata Mutiara Cak Nun


 Memiliki nama orisinil Muhammad Ainun Nadjib √ Emha Ainun Nadjib ya … Cak Nun. Bisa Makara Siapapun.


Lha, kata mutiara Cak Nun. Kami agak terpaksa menggunakan diksi tersebut alasannya ialah orang-orang mencari argot Cak Nun (yang jero) dengan terms itu: kata mutiara Cak Nun.


Oleh alasannya ialah itu … kami tuliskan saja beberapa. Sisanya cari sendiri.


1. Kejahatan ialah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, ialah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, ialah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian ialah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan ialah kemuliaan hati yang berlebihan. (Cak Nun)


2. Manusia Indonesia tidak jera ditangkap sebagai koruptor, tetapi berpikir besok harus lebih matang taktik korupsinya. Mereka melaksanakan hal-hal melebihi saran setan dan pemikiran iblis, pada dikala yang sama bersikap melebihi Tuhan dan Nabi


3. Seringkali orang merasa sanggup memahami sesuatu, padahal bekerjsama ia hanya memahami pemahamannya sendiri belaka. Orang melihat dan merasa telah berhasil melihat, padahal yang dicapainya hanyalah batas penglihatannya saja.


4. Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses ialah suatu pencapaian yang melampaui maut,yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan tamat menyatu.


5. Apa gunanya ilmu jikalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku menyerupai samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian jikalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?



Sumber https://satriabajahitam.com