Contoh Khutbah Jumat wacana Kematian – Assalaamu’alaykum. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk sedikit menyebarkan teks khutbah jumat yang berkenaan dengan kematian / mengingat mati.
Di artikel ini akan disampaikan secara eksklusif bahan khutbah / isi khutbah yang sanggup anda sampaikan sebagai khatib. Untuk rukun-rukun khutbah dan segala syaratnya, sanggup cek postingan sebelumnya: contoh khutbah jumat.
Baik, saya akan eksklusif saja ke teks khutbah jumat wacana kematian.
Teks Khutbah Jumat wacana Kematian
Innalhamdalillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu … (dst.)
Asyhadu an-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa’ala aalihi washahbihi ajma’in.
Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.
A’udzubillahiminasy syaithaanirrajiim. Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Al-ayah.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah.
Pertama dan utama mari untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. yang telah memperlihatkan kita beraneka ragam kenikmatan. Dari yang remeh temeh hingga kenikmatan yang tidak akan pernah ada bandingannya, yaitu, kenikmatan mencicipi Islam dan iman. Semoga Allah swt. senantiasa melindungi kita dari segala macam godaan yang sanggup menggelincirkan kita dari ketaatan hingga simpulan hayat.
Shalawat dan salam tidak lupa kita hadirkan untuk Nabi kita tercinta, Nabi Muhammad saw. yang telah mengajarkan kita adab mulia sehingga kita sanggup menjadi insan beradab. Kepada keluarga, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan semua yang mengikutinya hingga simpulan zaman.
Semoga kita mendapat syafaat kelak di akhirat.
Dan saya selaku khatib, juga mewasiatkan kepada para jamaah shalat jumat untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. semoga Allah merahmati kita semua.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah.
Kullu nafsin dzaaiqatul maut …
Setiap yang bernyawa niscaya akan mencicipi kematian. Kehidupan dunia kita, yang dimulai dari rahim orang tua, pada balasannya akan berakhir di liang lahat. Kematian yakni satu hal niscaya yang akan menghampiri kehidupan setiap makhluk yang hari ini mencicipi hidup.
Mungkin ada insan yang hidup hingga 100 tahun, tapi ada pula yang hidup hanya beberapa menit saja. Begitulah kematian, akan tiba tanpa memandang umur kita sudah berapa, tanpa memandang kita sedang melaksanakan apa.
Kullu nafsin dzaaiqatul maut …
Kita hidup di dunia ini hanya sementara. Maka janganlah kita menimbulkan dunia ini sebagai tujuan hidup, atau kita akan sangat menyesal. Rasulullah saw. mengibaratkan kehidupan kita di dunia mirip seorang musafir yang berteduh di bawah pohon.
Sabdanya,
Dari sini, Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk tidak memperdulikan dunia, namun bukan berarti meninggalkannya. Karena dunia diciptakan sebagai ujian, maka sebaik-baiknya kita yakni yang sanggup melewati ujian itu dengan baik.
Sebagaimana Allah swt. juga berfirman di dalam Al-Quran surat Al-Qasas ayat 77,
Kita yakni tamu di dunia ini, jadi janganlah kita memuliakan dunia, tapi berusahalah semoga kita dimuliakan oleh dunia. Memperdaya dunia, bukan diperdaya dunia. Mempermainkan dunia, bukan dipermainkan dunia.
Karena sungguh celaka orang yang diperbudak, dipermainkan, dan memuliakan dunia, lantaran dunia itu hanya sementara dan kita semua akan kembali ke kawasan asal kita: kampung akhirat. Sebab kalimat selanjutnya dari ayat yang tadi khatib bacakan yaitu, wamal hayaatud dunyaa illaa mataa’ul ghuruur, bahwa bekerjsama kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Sungguh dunia ini yakni ujian. Apa-apa yang menciptakan kita senang, seringkali Allah tidak suka. Karena memang siasat iblis dan tentaranya untuk menyesatkan insan yakni dengan kesenangan-kesenangan yang menipu. Hal ini telah Allah peringatkan di dalam Al-Quran surat Al-Hijr ayat 39,
Subhanallah, sungguh kita sanggup lihat di sekitar kita, aneka macam yang sudah terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia. Semoga kita terhindar dari itu semua.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah.
Dunia yakni panggung sandirawara, maka ambillah tugas yang sanggup menyelamatkan kita dari siksa api neraka.
Cukuplah kematian menjadi nasehati bisu untuk kita semua, cukuplah kematian menjadi pengingat bahwa semua kesenangan di dunia itu ada ujungnya, dan cukuplah kematian menjadi sarana kita mendekat kepada Allah swt., menghiba ampunanNya, mengharap ridhaNya, mengharapkan rahmatNya.
Karena sungguh, tidak ada yang sanggup lagi memasukkan kita ke Surga melainkan rahmat dari Allah swt. Sungguh mengerikan membayangkan diri kita dipanggang di dalam api Neraka yang menyala-nyala.
Maka, jamaah jumat yang Allah muliakan. Mari kita tingkatkan amal shaleh kita dalam rangka mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Semoga simpulan kehidupan kita yakni simpulan kehidupan yang baik dan husnul khotimah.
Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin.
Barakallahu lii walakum filquraanilkariim wa ja’alanallahu minalladziina yastami’uunalqaula fayattabi’uuna ahsanah. Aquulu qoulii hadzaa waastaghfirullaha lii walakum.
Sebelum diakhiri, kami memohon maaf apabila muncul iklan yang tidak pantas di website ini dan tidak relevan dengan artikel yang tersuguhkan di atas. Beberapa iklan sudah kami blokir, beberapanya lagi terus muncul dengan gambar gres dan itu di luar kuasa kami. Tetapi kami tetap berusaha memblokirnya. Terima kasih.
Demikianlah tumpuan teks khutbah jumat wacana kematian yang sanggup anda bawakan sebagai khatib dikala shalat jumat berlangsung. Semoga bermanfaat. Salam jumat mubarok.
Sumber https://satriabajahitam.com