Showing posts with label Publikasi. Show all posts
Showing posts with label Publikasi. Show all posts

Thursday, July 11, 2019

√ 83Tahun Sumpah Pemuda: Hiduplah Mahasiswa!

Program Pengenalan Akademik(PPA) yaitu serangkaian program untuk memperkenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru. Pada ketika PPA, seringkali para pencetus mahasiswa dari banyak sekali organisasi, baik organisasi intra maupun ekstra memimpin mahasiswa gres untuk meneriakkan dua kata, yaitu “hidup mahasiswa!”.

Setelah mendengar kata-kata itu, mari kita renungkan bersama, apakah ketika ini mahasiswa benar-benar hidup? Adakah perbedaan antara mahasiswa ketika ini dengan mahasiswa (mahasiswa=pemuda) 83 tahun yang lalu?

Beberapa pihak menyampaikan bahwa mahasiswa ketika ini terkesan mati suri. Kebanyakan dari mereka terjebak dalam sikap hedonis, pragmatis, materialis dan krisis akan harapan tinggi untuk bangsanya. Perilaku tersebut tercermin dari referensi hidup yang mereka jalani.

Mereka lebih betah nongkrong dan berlama-lama di tempat-tempat yang tidak jelas. Tempat yang terkesan tidak mencerdaskan. Mereka lebih menentukan cara-cara instan dalam mendapat sesuatu. Misal untuk mendapat nilai elok ada yang rela menjual intelektualitasnya dengan mencontek ketika ujian. Selanjutnya mereka tidak mau bergerak untuk merubah diri demi bangsanya jikalau tidak ada untung secara bahan untuk dirinya.

Alih-alih merubah diri, harapan mereka pun dihiasi dengan nafsu-nafsu eksklusif yang tak mempunyai kegunaan bagi bangsa. Bahkan seringkali cita-citanya itu merugikan bangsanya sendiri. Dalam pikiran mereka hanya tertanam bagaimana caranya semoga lulus cepat, kemudian bekerja, kemudian menikah. Kalau ibarat itu, bagaimana bantuan mahasiswa untuk bangsa dan negara.

Mahasiswa ketika ini yang dikenal sebagai intelektual muda berbeda dengan perjaka Indonesia 83 tahun yang lalu. Pemuda ketika itu mau mengesampingkan ego kedaerahannya, menomor duakan kepentingan diri dan kelompoknya, serta bersedia mengorbankan jiwa dan hartanya untuk berkumpul dalam kongres pemuda. Kemauan mereka didasari harapan besar untuk mempersatukan bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, ketika kongres perjaka dua, sekumpulan perjaka dari banyak sekali tempat di Indonesia tersebut bersumpah untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Akhirnya sehabis 17 tahun dari insiden sumpah perjaka itu, harapan perjaka yang berkumpul dalam kongres perjaka tersebut terwujud. Indonesia merdeka!

Kemauan dan pengorbanan untuk mewujudkan harapan bangsanya itulah yang membedakan perjaka (yang diwakilioleh mahasiswa) ketika ini dengan perjaka 83 tahun yang lalu. Kini kita jauh dari harapan besar dan enggan berkorban demi bangsa dan negara.

Sebenarnya yang kita butuhkan ketika ini yaitu kemauan dan keikhlasan untuk berkorban demi bangsa dan negara. Ingat, mensejahterakan kehidupan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut mewujudkan ketertiban dunia masih menjadi pekerjaan kita bersama. Bercita-citalah untuk bangsa Indonesia! HIDUPLAH MAHASISWA!


Nama :
NIM :1401410099
blog : kangmasguru.blogspot.com
fb : rahma huda putranto
Jurusan/ Fakultas/ Universitas: Pendidikan Guru Sekolah Dasar/ Fakultas Ilmu Pendidikan/ Universitas Negeri Semarang
dimuat di: okezone kamis, 3 November 2011
link: http://kampus.okezone.com/read/2011/11/03/367/524231/

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Monday, July 1, 2019

√ Nomor Satu, Nomor Dua Dan Keharusan Menentukan Yang Ketiga

PEMILU presiden dan wakil presiden berbeda dengan pemilihan legislatif. Dilihat dari jumlah pilihan, pemilu legislatif mensajikan banyak kemungkinan pilihan sebab diikuti oleh banyak partai dan banyak calon legislatif. Namun, pemilu presiden dan calon wakil presiden yang hanya diikuti oleh dua pasang calon menciptakan pemilih hanya mempunyai dua pilihan yang harus dipilih. Kalau tidak menentukan calon pasangan nomor satu, ya menentukan pasangan nomor dua.

Kedua pasang calon tersebut mempunyai perbedaan yang dibalut dengan persamaan. Kedua pasang calon merupakan tokoh nasional, orang kaya, disukai media, mempunyai basis massa, mempunyai tim sukses yang kuat, mempunyai pengalaman memimpin, dan pernah menjadi korban black-negative campaign.

Pemilu yang diikuti oleh dua pasang calon ini menjadikan gelombang tunjangan yang cukup besar. Mendukung salah satu calon dan tidak mendukung calon yang lain. Sehingga tak jarang terjadi kontradiksi antara pendukung kedua calon di dunia maya maupun dunia nyata. Pertentangan yang paling kentara terjadi di media sosial, hal ini ditunjukkan dengan sering terjadinya tweet war atau perang status yang menghasilkan debat panas yang menjurus berangasan di kolom-kolom komentar.

Ketika membaca komentar-komentar negatif yang berkaitan dengan salah satu calon maka secara tersirat memperlihatkan adanya bumbu kebencian terhadap calon yang tidak didukung. Sulit untuk mencegah kemontar negatif mengudara di dunia maya. Karena semua orang dengan gampang membuatkan dan mengakses informasi yang sanggup dibaca oleh semua orang di penjuru dunia hanya dalam hitungan detik.

Komentar negatif di dunia maya sering berlindung pada dalih “kebebasan berpendapat”. Oleh karenanya, tidak ada yang sanggup mencegah orang berkomentar negatif di dunia maya selain pengendalian dari dalam diri setiap orang. Dalam menukung dan membenci sesuatu Al-Quran mengingatkan dalam surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya “...boleh Kaprikornus kau membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Kaprikornus (pula) kau menyukai sesuatu, Padahal ia Amat jelek bagimu...”. Oleh karenanya, dalam rangka dukung-mendukung alangkah baiknya kita tetap menjaga verbal dan tindakan kita.

Pada akhirnya, kehadiran dua pasang calon ini memperlihatkan kepastian kepada rakyat bahwa ke depan Indonesia akan dipimpin oleh salah satu di antara kedua pasang calon sebagai putra terbaik bangsa yang siap mengabdikan diri untuk ibu pertiwi. Oleh sebab itu, kita wajib menjaga diri biar pemilu presiden ini tidak menjadi blunder yang sanggup memecah keutuhan bangsa, sehingga pilihan nomor tiga untuk sila ketiga pancasila yaitu sebuah keharusan, yaitu “Persatuan Indonesia”.
 

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Negeri Semarang

dimuat dalam: http://kampus.okezone.com/read/2014/07/08/367/1009878/nomor-satu-nomor-dua-dan-keharusan-memilih-yang-ketiga



Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Monday, January 14, 2019

√ Keberhasilan Jadwal Hari Pertama Sekolah (Suara Gemilang, Vol. 19 No 8 Agustus 2016)


“Keberhasilan Program Hari Pertama Sekolah” terbit di Majalah Berita Daerah “Suara Gemilang” Volume 19 No. 8 Agustus 2016. ISSN 1858-0033

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com