Bursa Kerja, sumber foto: http://www.rmol.co/read/2016/03/06/238400/Gerindra-Desak-Pemerintah-Lindungi-Tenaga-Kerja-Lokal-
Indonesia hingga ketika ini masih terbelenggu oleh duduk perkara pengangguran. Kadang naik, kadang turun. Mengapa sih kok hingga demikian dinamisasi ketenagakerjaan di Indonesia?.
Salah satu indikator ekonomi makro yang memengaruhi naik atau turunnya pengangguran yaitu inflasi. Inflasi ibarat konteks pada umumnya, harga-harga komoditas memgalami kenaikan selama waktu tertentu. Nah, alasannya materi baku menjadi naik, secara otomatis biaya produksi juga naik. Pelaku perjuangan tentu galau dalam kondisi demikian. Ia mempunyai dua pilihan, menurunkan honor karyawan, atau...mengurangi jumlah karyawan.
Seiring dengan kebutuhan hidup si karyawan yang juga meningkat ketika inflasi. Dampaknya mereka harus menuntut gaji/upah dinaikkan lah. Supaya apa yang mereka dapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi, realitanya, pelaku perjuangan lebih menentukan untuk mengurangi karyawannya untuk menekan ongkos produksinya. Apalagi beliau berpikir, tenaga insan kan sanggup disubstitusi dengan mesin. Maka, dari sinilah PHK harus terjadi dan berakibat menambah jumlah pengangguran.
Di sektor lain misal pertanian. Sama halnya dengan pelaku perjuangan tadi, hanya saja teknik mereka berbeda. Ongkos produksi yang melambung tanggapan inflasi mendorong para petani berhenti bertani dan menunggu ada peluang perjuangan lain. Begitu besar efek inflasi bagi perekonomian sebuah negara.(*) Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/
