Monday, August 7, 2017

√ Interview / Wawancara Pada Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan Sugiyono

AsikBelajar.Com | Dalam hal wawancara atau interview, Creswell (2012) menyatakan “Interview survey are form on which the researcher records answers supplied by the participant in the study. The researcher asks a question from an interview guide, listens for answers or observes behavior, and records responses on the survey“. Wawancara dalam penelitian survey dilakukan oleh peneliti dengan cara merekam balasan atas pertanyaan yang diberikan ke responden. Peneliti mengajukan pertanyaan kepada responden dengan ajaran wawancara, mendengarkan atas jawaban, mengamati perilaku. dan merekam semua respon dari yang disurvei. Selanjutnya Burke Johnson; Larry Cristensen (2004) menyatakan bahwa “interview is a data collection methods in which an interviewer (the researcher or some one working or the researcher) asks question of an interviewee (the research participant)”. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dimana pewawancara (peneliti atau yang diberi kiprah melaksanakan pengumpulan data) dalam mengumpulkan data mengajukan suatu pertanyaan kepada yang diwawancarai.


Wawancara dipakai sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melaksanakan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan dirl pada laporan wacana diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam memakai metode interview dan juga kuesioner (angket) ialah sebagai berikut.

1. Bahwa subyek (responden) ialah orang yang paling tahu wacana dirinya sendiri

2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti ialah benar dan sanggup dipercaya

3. Bahwa interpretasi subyek wacana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya ialah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.


Wawancara sanggup dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan sanggup dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan memakai telpon.


1. Wawancara Terstruktur

Wawancara terstruktur dipakai sebagai teknik pengumpulan data, jika peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan niscaya wacana informasi apa yang akan diperoleh. Oleh alasannya ialah itu. dalam melaksanakan wawancara. pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, pengumpulan data sanggup memakai beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Supaya setiap pewawancara memiliki ketrampilan yang sama, maka diharapkan pelatihan kepada calon pewawancara.


Dalam melaksanakan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai ajaran untuk wawancara, maka pengumpul data juga sanggup memakai alat bantu menyerupai tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang sanggup membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar. Peneliti bidang administrasi pembangunan misalnya, jika akan melaksanakan penelitian untuk mengetahui respon masyarakat terhadap banyak sekali pembangunan yang telah diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka perlu membawa foto-foto atau brosur wacana banyak sekali jenis pembangunan yang telah dilakukan. Misalnya pembangunan gedung sekolah, bendungan untuk pengairan sawah-sawah, pembangunan pembangkit tenaga listrik dan lain-Iain.


Berikut ini diberikan pola wawancara terstruktur, wacana tanggapan masyarakat terhadap banyak sekali pelayanan pemerintah Kabupaten tertentu yang diberikan kepada masyarakat. Pewawancara melingkari salah satu balasan yang diberikan responden.


1. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan pendidikan di Kabupaten ini?

a. Sangat Bagus

b. Bagus

c. Tidak bagus

d. Sangat tidak bagus


2. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan bidang kesehatan di Kabupaten ini?

a. Sangat Bagus

b. Bagus

c. Tidak bagus

d. Sangat tidak bagus


3. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan bidang transportasi Kabupaten lm?

a. Sangat Jelek

b. Jelek

c. Bagus

d. Sangat Bagus


4. Bagaimanakah tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelayanan urusan KTP Kabupaten ini?

a. Bagus sekali

b. Bagus

c. Jelek

d. Sangatjelek


5. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan penerangan jalan di Kabupaten ini?

a. Sangat baik

b. Baik

c. Tidak baik

d. Sangat tidak baik


6. Bagaimanakah tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelayanan terusan air di Kabupaten ini?

a. Sangat Jelek

b. Jelek

c. Bagus

d. Sangat bagus


7. Bagaimanakah tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelayanan bidang keamanan di Kabupaten ini?

a. Sangat bagus

b. Bagus

c. Jelek

d. Jelek sekali


8. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan bidang sarana dan prasaranajalan di Kabupaten ini?

a. Sangat baik

b. Baik

c. Jelek

d. Sangatjelek


9. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan rekreasi di Kabupaten ini?

a. Sangat memuaskan

b. Memuaskan

c. Tidak memuaskan

d. Sangat tidak memuaskan


10. Bagaimanakah tanggapan Bapak/lbu terhadap pelayanan air minum di Kabupaten ini?

a. Sangat bagus

b. Bagus

c Jelek

d. Sangat jelek


2. Wawancara Tidak Terstruktur

Wawancara tidak terstruktur. ialah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak memakai ajaran wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang dipakai hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.


Contoh:

Bagaimanakah pendapat Bapak/Ibu Ierhadap kebijakan pemerintah wacana impor gula ketika ini? Dan bagaimana dampaknya terhadap pedagang dan petani?


Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering dipakai dalam penelitian pendahuluan atau malahan untuk penelitian yang lebih mendalam wacana responden. Pada penelitian pendahuluan. peneliti berusaha mendapat informasi awal wacana banyak sekali informasi atau permasalahan yang ada pada obyek, sehingga peneliti sanggup menentukan secara niscaya permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti. Untuk mendapat citra permasalahan yang lebih lengkap, maka peneliti perlu melaksanakan wawancara kepada fihak-tihak yang mewakili banyak sekali tingkatan yang ada dalam obyek. Misalnya akan melaksanakan penelitian wacana iklim kerja perusahaan, maka sanggup dilakukan wawancara dengan pekerja tingkat bawah, supervisor, dan manajer.


Untuk mendapat informasi yang lebih dalam wacana responden, maka peneliti sanggup juga memakai wawancara tidak terstruktur. Misalnya seseorang yang dicurigai sebagai penjahat, maka peneliti akan melaksanakan wawancara tidak terstruktur secara mendalam, hingga diperoleh keterangan bahwa orang tersebut penjahat atau bukan.


Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara niscaya data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceriterakan oleh responden. Berdasarkan analisis terhadap setiap balasan dari responden tersebut, maka peneliti sanggup mengajukan banyak sekali pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada suatu tujuan. Dalam melaksanakan wawancara peneliti sanggup memakai cara “berputar-putar gres menukik” artinya pada awal wawancara, yang dibicarakan ialah hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan dan jika sudah terbuka kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan, maka segera ditanyakan.


Wawancara baik yang dilakukan dengan face to face maupun yang memakai pesawat telepon, akan selalu terjadi kontak pribadi, oleh alasannya ialah itu pewawancara perlu memahami situasi dan kondisi sehingga sanggup menentukan waktu yang sempurna kapan dan di mana harus melaksanakan wawancara. Pada ketika responden sedang sibuk bekerja, sedang memiliki problem berat, sedang mulai istirahat, sedang tidak sehat. atau sedang marah, maka harus hati-hati dalam melaksanakan wawancara. Kalau dipaksakan wawancara dalam kondisi menyerupai itu, maka akan menghasilkan data yang tidak valid dan akurat.


Bila responden yang akan diwawancarai telah ditentukan orangnya, maka sebaiknya sebelum melaksanakan wawancara, pewawancara minta waktu terlebih dulu, kapan dan dimana sanggup melaksanakan wawancara. Dengan cara ini, maka suasana wawancara akan lebih baik, sehingga data yang diperoleh akan lebih lengkap dan valid.


Informasi atau data yang diperoleh dari wawancara sering bias. Bias ialah menyimpang dari yang seharusnya, sehingga sanggup dinyatakan data tersebut subyektif dan tidak akurat. Kebiasaan data ini akan tergantung pada pewawancara, yang diwawancarai (responden) dan situasi & kondisi pada ketika wawancara. Pewawancara yang tidak dalam posisi netral, contohnya ada maksud tertentu, diberi sponsor akan memperlihatkan interpretasi data yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh responden. Responden akan memberi data yang bias, jika responden tidak sanggup menangkap dengan terang apa yang ditanyakan peneliti atau pewawancara. Oleh alasannya ialah itu peneliti jangan memberi pertanyaan yang bias. Selanjutnya situasi dan kondisi menyerupai yangjuga telah dikemukakan di atas, sangat mensugesti proses wawancara, yang pada risikonya juga akan mensugesti validitas data.


Sumber:

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Hal.188-192.



Sumber https://www.asikbelajar.com