Sunday, August 6, 2017

√ Menakar Potensi Perjuangan Indonesia


Pedagang Bunga, sumber: http://kolom.abatasa.co.id/kolom/detail/nasehat/969/pedagang-yang-jujur.html

Beberapa waktu kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka hasil Sensus Ekonomi tahap listing perjuangan di Indonesia. Jumlah perjuangan yang beroperasi di Indonesia per Mei 2016 ialah sebanyak 26,71 juta unit. Banyak sekali bukan?

Dari hasil SE2016, lapangan perjuangan yang paling lebih banyak didominasi di Indonesia ialah perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan kendaraan beroda empat dan sepeda motor, yaitu 12,23 juta unit. Semua tersebar dari ujung barat ke ujung timur, dari utara ke seletan Indonesia. BPS juga mencatat bahwa tempat yang paling banyak jumlah usahanya masih terpusat di Pulau Jawa, dengan jumlah sebanyak 7.195.726 unit. Sementara itu, tempat yang paling sedikit usahanya jelas, Pulau Maluku dan Papua. Dari sini sebetulnya sudah terlihat bahwa terjadinya ketimpangan ekonomi di Indonesia itu lebih disebabkan oleh ketimpangan jumlah usahanya. Ini kasarannya.

Lalu, ketika kita tengok berdasarkan supply tenaga kerjanya, balasannya juga timpang. Jumlah tenaga kerja terbanyak juga masih berpusat di Jawa dan terkecil juga Papua. Maka daripada itu, perlu kita analisis berdasarkan rasio jumlah perjuangan terhadap tenaga kerja. Caranya dengan membagi antara jumlah Usaha mikro kecil dan perjuangan menengah besar terlebih dahulu.

Hasil listing SE2016 ternyata menunjukkan bahwa jumlah UMK sebanyak 12.151.822 dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 20.009.990. Sedangkan jumlah UMB ada sebanyak 180.839 dengan jumlah tenaga kerja 2.359.409 orang. Bila dirasiokan, rata-rata UMK mempunyai tenaga kerja sebanyak 1-2 orang dan UMB cuma sebanyak 13-14 orang. Ini mengindikasikan bahwa perjuangan yang ada di Indonesia hingga kini belum strenght dalam menyerap supply tenaga kerja. Selain itu, kemajuan teknologi semakin kapabel menggantikan tenaga insan dengan mesin dan robot.

Secara geografis, sebetulnya peluang ekonomi di Indonesia sanggup merata dengan adanya kanal jalan yang memadai. Pemerintah harus menggenjot perjuangan konstruksi terlebih dahulu sebab, kemajuan infratsruktur pada waktu bisa mengimpuls munculnya perjuangan gres di sekitarnya. Terlebih lagi, baru-baru ini pemerintah sudah membuka kanal jalan trans Sumatera, Kalimantan dan Papua, setidaknya akan membuka peluang bisnis dan investasi lebih sebagai upaya mengurangi ketimpangan ekonomi antar wilayah.

Kebijakan percepatan pembangunan yang terus bergulir dinyakini bisa mendorong terjadinya transmigrasi penduduk. Sebab, dengan seni administrasi inilah pemerataan sumber daya insan dari aspek kualitas akan menjadi harapan. Di sektor mikro, menggenjot iklim investasi gampang dan murah serta mekanisme yang efisien juga bisa diimplementasikan. Apalagi, lapangan perjuangan lain menyerupai penyediaan makan minum, industri manufaktur dan transportasi masih besar peluangnya untuk dikembangkan.

Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/