Gunung Kemukus merupakan salah satu gunung yang berlokasi di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, Jawa tengah. Berbeda dengan gunung lainnya, Gunung Kemukus menyimpan misteri sebagai lokasi pesugihan melalui ritual sec pada setiap malam Jumat. Mitos ini dipercaya bebuyutan sampai Gunung Kemukus mendapat stigma negatif.
Masyarakat setempat meyakini bahwa pesugihan melalui ritual sec di Gunung Kemukus bersahabat kaitannya dengan Pangeran Samudera yang melaksanakan hubungan terlarang dengan salah satu ibu tirinya yakni Dewi Ontrowulan. Tim Kisah Tanah Jawa yang melaksanakan pemeriksaan melalui teknik retrokognisi mengungkapkan bahwa mitos ini tidak benar.
Pangeran Samudera merupan putra dari salah seorang selir dari penguasa terakhir Kerajaan Majapahit. Beliau yaitu seorang santri, murid dari Sunan Kalijaga. Antara Pangeran Samudera dan Dewi Ontrowulan sempat terjadi cerita asmara, namun sesudah kemudian Dewi Ontrowulan diangkat menjadi selir, Pangeran Samudera tahu diri alasannya yaitu mustahil menjalin kasih dengan ibu tirinya.
Pangeran Samudera selama hidupnya tidak pernah menikah, ia memperdalam agama dengan belajar kepada Kyai Ageng Gugur di kaki Gunung Kemukus. Setelah berguru, Pangeran Samudera mendirikan sebuah pondok di Gunung Kemukus. Suatu ketika ketika Pangeran Samudera sakit, Dewi Ontrowulan tiba merawat sampai sang pangeran tutup usia. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi antara keduanya.
Kisah mitos pesugihan dengan ritual sec berawal dari seseorang yang tertidur di bawah pohon besar di gunung Kemukus yang diberi pesan melalui mimpi oleh sosok pangeran, bahwa jikalau ingin kaya harus bekerjasama sebanyak tujuh kali dengan orang yang sama, bukan dengan pasangan sah, setiap hari pasaran kamis wage atau kamis pahing.
Sosok pengeran dalam mimpi tersebut dikaitkan dengan Pangeran Samudera, padahal bukan. Kisah ini terus beredar dari verbal ke verbal sampai Gunung Kemukus dikenal sebagai daerah pesugihan melalui ritual sec. Banyak juga perempuan yang kemudian menjual diri di Gunung Kemukus sebagai wujud ritual yang salah kaprah.
Sumber https://phinemo.com