Friday, February 16, 2018

√ Kecam Praktik Pengumpulan Data Facebook, Pendiri Whatsapp Ikut Gerakan #Deletefacebook

Facebook ketika ini menjadi sosial media terbesar di dunia dengan jumlah pengguna paling banyak yang berasal dari seluruh dunia. Mengingat banyaknya isu langsung yang kita kirimkan ke Facebook, masuk akal jika sosial media ini sering dijuluki sebagai harta karun data pengguna. Hal ini dapat menimbulkan tindakan penjualan data pengguna kepada perusahaan pemasaran, pengiklan, peneliti, dan lain sebagainya.


Facebook sendiri belakangan ini diduga telah melaksanakan praktik membuatkan data, sehingga memunculkan gerakan DeleteFacebook. Tak tinggal diam, salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton baru-baru ini juga tetapkan untuk bergabung dengan gerakan DeleteFacebook. Melalui akun Twitter pribarinya, Acton menuliskan “sudah waktunya” menghapus Facebook.




WhatsApp sendiri ketika ini telah menjadi potongan dari Facebook sesudah akuisisi perusahaan pada tahun 2014 lalu, dimana itu menjadi salah akuisisi terbesar dengan angka $16 miliar. Namun Acton sendiri bergotong-royong sudah meninggalkan WhatsApp pada tahun 2017 lalu, dimana kemudian ia membentuk sebuah yayasan nirlaba atau non-profit yang berjulukan Signal. Bahkan Acton juga menginvestasikan dana sebesar $50 juta pada layanan aplikasi perpesanan yang dirancang untuk fokus pada privasi dan enkripsi pengguna.


Menengok insiden sebelumnya yang berkaitan dengan gerakan Delete, sepertinya gerakan ini cukup memperlihatkan efek kerusakan reputasi. Sebagai contoh, gerakan DeleteUber yang pernah terjadi sebelumnya mengakibatkan 200.000 akun Uber telah dihapus, dimana hal tersebut menguntungkan kompetitor Uber sebab mengalami kenaikan jumlah unduh aplikasi.


Sehubungan dengan praktik pengumpulan data Facebook, perusahaan diperlukan untuk menghadapi penyelidikan oleh Komisi Perdagangan Federal, tetapi belum dapat diperkirakan apa hasil dari penyelidikan tersebut.



Sumber aciknadzirah.blogspot.com