Saturday, March 24, 2018

√ Imbas Negatif Pariwisata Yang Memperhatikan Pembangunan Satu Sisi


Dewasa ini, kebutuhan akan pariwisata seakan menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Peningkatan kebutuhan ini diikuti dengan meningkatnya pembangunan destinasi-destinasi wisata baru. Tak hanya pemerintah, pihak swasta dan masyarakat pun berlomba-lomba membuatkan pariwisata lokal daerahnya untuk menarik minat wisatawan.





Dalam membuatkan kawasan menjadi destinasi wisata harus dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan aneka macam aspek menyerupai aspek sosial, lingkungan, ekonomi dan budaya yang berlaku. Namun lantaran kurangnya pengetahuan, rata-rata pihak pengembang hanya memperhatikan aspek ekonomi tanpa memperdulikan sisi lainnya. Dikutip dari I. Mokuginta dan E. Maryani dalam tulisannya yang berudul Rencana Pengembangan Pariwisata Propinsi Jawa Barat, pengembangan pariwisata yang tidak seimbang sanggup memicu aneka macam dampak negatif sebagai berikut.





  1. Sulit membuat civil society – mengingat bahwa pariwisata merupakan kegiatan intrusive, dampak nyata maupun negatif dari wistawan yang berkunjung akan sangat mempengaruhi kehidupan dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata yang hanya mementingkan aspek ekonomi akan mempermudah masuknya dampak negatif pada kehidupan dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat.
  2. Masyarakat cenderung pasif – dikala acara pariwisata yang tumbuh berbenturan dengan nilai-nilai sosial budaya yang dianut oleh masyarakat setempat maka akan menjadikan terjadinya penolakan. Pada kasus yang lebih parah, hal ini sanggup memancing amarah masyarakat bahkan memicu terjadinya bentrokan yang berujung kekerasan fisik.
  3. Sulit untuk mencapai kondisi yang berkelanjutan (sustainability) – pengembangan pariwisata yang hanya menitikberatkan sisi ekonomi mendorong kecenderungan terjadinya over exploitation pada sumber daya alam, sehingga menjadikan penurunan kualitas destinasi wisata dan minat wisatawan.
  4. Sulit membuat acara ekonomi masyarakat – hal ini disebabkan lantaran biasanya masyarakat setempat belum mempunyai cukup keahlian, sehingga dalam praktiknya aspek laba ekonomi perlu dikorbankan terlebih dahulu.




Lalu bagaimana pengembangan pariwisata sebaiknya dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu memperluas pemahaman pelaku pengembang wacana pariwisata. Sehingga aspek sosial, budaya, dan lingkungan di luar ekonomi sanggup menjadi tiang utama dalam pengembangan suatu kawasan menjadi destinasi wisata baru. Sejatinya pariwisata merupakan pengembangan potensi dari ketiga aspek tersebut.



Sumber https://phinemo.com