Sunday, May 21, 2017

√ Data Terbaru: Jumlah Populasi Penduduk Indonesia Dan Tantangannya

Jumlah Populasi Penduduk Indonesia Terbaru √ Data Terbaru: Jumlah Populasi Penduduk Indonesia dan Tantangannya
Populasi penduduk yang padat mengakibatkan masalah

Penduduk merupakan aspek utama yang menjadi dasar pembangunan setiap negara. Penduduk dunia ketika ini demikian cepat dan tumbuh melesat dibandingkan sebelum kala ke-20. Populasi penduduk dunia ketika ini, berdasarkan data  realtime worldometers.info (2018), berjumlah 7.618.442.600 jiwa. Pertumbuhan populasi setiap harinya mencapai 4 persen . Tahun 2018, populasi dunia telah tumbuh sebesar 26.675.800 jiwa.
Jumlah Populasi Penduduk Indonesia Terbaru √ Data Terbaru: Jumlah Populasi Penduduk Indonesia dan Tantangannya
Data 10 negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia, dokpri
Di Indonesia sendiri, data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa populasi penduduk per 2017 sebanyak 262 juta jiwa. Sedangkan berdasarkan data realtime worldometer.info per April 2018, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 266.304.680 jiwa. Jumlah populasi ini menempatkan Indonesia masih berada di 20 negara dengan jumlah populasi penduduk terbesar di dunia.
Jumlah Populasi Penduduk Indonesia Terbaru √ Data Terbaru: Jumlah Populasi Penduduk Indonesia dan Tantangannya
Pertumbuhan penduduk dunia, sumber: worldometer.info
Menurut BPS, penduduk di Indonesia selama rentang waktu 2010 hingga 2015 tumbuh sebesar 1,38 persen. Kendati demikian, pada rentang tahun 2015 hingga 2020, pertumbuhan penduduk Indonesia diperkirakan turun menjadi 1,19 persen. Seiring dengan masuknya Indonesia dalam zona Bonus Demografi, data hasil proyeksi menunjukkan akan terjadi penurunan pertumbuhan hingga 0,62 persen dalam rentang tahun 2030 hingga 2035. Ini merupakan gerbang cita-cita bagi Indonesia untuk memaksimalkan segala kebijakan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih unggul.

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa semakin padat populasi penduduk, maka permasalahan suatu negara akan semakin kompleks. Sebab, negara sebagai wadahnya harus menghadirkan kesejahteraan dan kehidupan yang layak bagi semua penduduknya. Walaupun ada cita-cita Indonesia akan bangkit, tetapi permasalahan yang berlandaskan kependudukan dan tatanan sosial masih membayangi. Bonus Demografi sanggup berhasil, sanggup juga tidak, tergantung kecepatan perbaikan pembangunan serta pemerataan hasil pembangunan itu sendiri.

Penduduk yang kian padat sudah mengeliminasi tata ruang. Kalau zaman dulu, konsep pembangunan diarahkan secara mendatar, kini menjadi bertingkat. Teori Robert Malthus soal jumlah penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan jumlah masakan mengikuti deret hitung, sedikit banyak telah terbukti. Pertumbuhan populasi penduduk Indonesia yang cepat berdampak pada kerentanan ekonomi.

Distribusi pendapatan kurang merata akhir kebijakan ekonomi nasional masih berpihak pada penduduk ekonomi menengah ke atas. Konsep ekonomi menetes ke bawah atau trickle down effect justru menjadi trickle up effect. Nyatanya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ada percumanya bilamana Indonesia mengklaim sebagai negara yang kaya SDM, alasannya yakni kemiskinan masih tampak begitu terperinci di depan mata. BPS mencatat, persentase penduduk miskin Indonesia hingga Maret 2017 masih sebesar 26,58 persen. Bila dibandingkan antara kemiskinan di perkotaan dan perdesaan, data BPS menunjukkan bahwa kemiskinan paling banyak terdapat di perdesaan dengan persentase sebesar 13,47 persen di tahun 2017.
Jumlah Populasi Penduduk Indonesia Terbaru √ Data Terbaru: Jumlah Populasi Penduduk Indonesia dan Tantangannya
Fakta pengangguran di Indonesia
Penduduk Indonesia memang gres memasuki fase Bonus Demografi, tetapi jumlah pengangguran juga masih ada. Bonus Demografi yang identik dengan rasio ketergantungan yang rendah justru diwarnai oleh pengangguran terbuka, yang notabene didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menegah Atas (SMA), data BPS menunjukkan bahwa dari sebanyak 7 juta penganggur di Indonesia, 11 persennya merupakan lulusan Sekolah Menengah kejuruan dan 8,29 persennya lagi merupakan lulusan SMA. Pada waktu Bonus Demografi sudah “menyapa” malah disuguhi banyaknya generasi penganggur. Hal ini menjadi pekerjaan rumah negara di bidang pendidikan. Tak semata memperjuangkan kuantitas lulusan, aspek kualitas lulusan juga perlu menajadi perhatian.

Kalau dipikir-pikir, yang namanya Sekolah Menengah kejuruan yakni jenjang pendidikan yang secara umum dikuasai didominasi oleh pengajaran berbasis praktikum. Logikanya, sehabis lulus, walau mereka tak mencari pekerjaan pun, mereka sanggup membuat pekerjaannya sendiri. Kondisi yang sebaliknya justru menunjukkan kurangnya partisipasi lulusan Sekolah Menengah kejuruan terhadap seruan pasar kerja. Selain adanya persaingan ketat, kualifikasi ketenagakerjaan, dan pilih-pilih jenis pekerjaan, faktor kemalasan juga ikut memengaruhi keinginan menganggur.

Itu gres soal pengangguran. Tak jauh berbeda ketika populasi penduduk kita sandingkan dengan kebijakan di bidang kesehatan. Tahun 2018 ini Indonesia juga menghadapi tantang serius soal penanganan negara di bidang kesehatan. Tingkat penyebaran penduduk yang tak merata di setiap tempat berdampak pada sulit negara untuk hadir dalam upaya penjaminan kesehatan penduduknya.

Selain infrastruktur yang tengah dibangun, jumlah tenaga kesehatan di Indonesia pun masih terbilang kurang. Baru saja kita menyimak betapa mirisnya bencana gizi jelek di Asmat sana. Keterjangkauan secara wilayah menjadikan pemerintah kesulitan untuk memberi solusi kesehatan. Selain itu, populasi penduduk yang bertambah membuat pemerintah mengocok berulang kali bagaimana mengupayakan semoga setiap penduduk mendapat kesetaraan hak mendapat jaminan kesehatan.

Ini gres tiga hal yang dikaitkan pribadi dengan populasi penduduk. Belum lainnya, sudah niscaya perkara akan menjadi lebih kompleks lagi. Sebab itu, perkara penduduk di Indonesia tak sanggup kita anggap enteng. Di balik jumlahnya yang terus meningkat, terdapat masalah-masalah gres yang perlu diantisipasi. Jumlah penduduk memang tak sanggup dikurangi, tetapi masih sanggup untuk ditekan.

Selain memakai kegiatan Keluarga Berencana (KB), generasi mudanya juga perlu disentuh dengan pendidikan perencanaan keluarga. Hilirnya akan memberi imbas konkret pada Rasio Total Kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR). Buktinya, TFR Indonesia sudah menyentuh angka 2 yang mengartikan bahwa kegiatan “dua anak, cukup” sanggup dikatakan relatif berhasil.(*)

Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/