![]() |
Siapa yang salah dalam insiden G30S/PKI, sumber foto: dokpri. |
Ideologi PKI yang komunis itu terang terkubur puluhan tahun lalu. Juga secara gamblang TAP MPR Indonesia terang menyatakan bahwa PKI ialah organisasi yang dilarang. Maka sungguh gila ketika negara ini bantu-membantu berjalan secara normal, namun oleh banyak oknum yang tak bertanggungjawab dipakai untuk meletup-letupkan kembali PKI ini. Data pun nyatanya belum ada pihak yang secara valid menjelaskan kepada pemerintah, bahwa PKI telah hidup kembali, atau reinkarnasi dari ketiadaannya. Bukti yang lucu juga terlihat hanya berupa simbol-simbol semata, palu dan arit. Padahal simbol pun sebatas simbol, jikalau tertangkap berair juga segera ditindak oleh aparat.
Memang benar jikalau dikatakan bahwa PKI pernah menjadi partai terbesar di negeri ini. Bahkan, ia pernah menjadi pesaing berat Masyumi di panggung perpolitikan nasional. Tapi, apakah hanya lantaran kini yang menang ialah PDIP lantas diejawantahkan seenaknya sebagai munculnya kembali PKI? Sepertinya terlalu prematur kesimpulannya.
Bangsa Indonesia ini telah "dipasak" dalam-dalam oleh rezim Orde Baru. Dengan cara mewajibkan nonton film saja, memori akan kekejaman insiden G30S/PKI sudah terpatri dalam sanubari.
Kalau kita amati, film G30S/PKI sendiri hanyalah sebatas informasi, bahwa segenting itulah situasi ketika itu dan bagaimana sanggup terjadi pembunuhan tujuh perwira Tentara Nasional Indonesia oleh pihak tertuduh, yaitu PKI. Sudah hanya sebatas itu. Tetapi kalangan oknum media ketika ini justru memanfaatkan deskripsi tersebut serta temperamen-temperamen politik dalam film itu sebagai materi bakar propaganda pemerintahan yang resmi. Ini sungguh mengatakan politik yang tak lagi murni diterapkan.
Meningkatnya pendidikan nasional mengakibatkan masyarakat semakin jeli dan kritis sekaligus tak gampang dibodohi. Sebagaimana tatacara bermedia sosial yang baik, konfirmasi informasi dengan data yang terang sewajarnya dijadikan acuan.
Itulah mengapa beberapa judul Gestapu itu ialah G30S/PKI. Terdapat makna tanda miring "/" dalam judul itu. Secara historis, kaum PKI dan organisasi masyarakat (ormas) yang berhubungan pada PKI tak hanya sebagai pelaku utama Gestapu, baik Pra maupun pasca, tetapi tak sedikit pula pihak PKI yang menjadi korban sampai rakyat sipil tak berkaitan pun yang menjadi korban salah tangkap.
Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur (Abdurrahman Ad Dakhil Wahid) menuturkan soal dalih pemaafan terhadap kaum PKI.
Gus Dur menyatakan bahwa korban kebiadapan Gestapu memang selain rakyat sipil, banyak ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang dulu menjadi korban. Soeharto malah mencitrakan seakan-akan seluruh kesalahan pembunuhan massal hanya didalangi oleh PKI. Sedangkan Tentara Nasional Indonesia dianggap sebagai pihak yang bersih.
Kita sanggup buktikan pernyataan Gus Dur ini. Tentunya bukan opini atau sekadar hoax, tetapi kita ungkap datanya. Berikut data pihak-pihak selain PKI yang ikut serta dalam Gestapu 1965 yang bersumber dari buku karya John Roosa (2008):
![]() |
Data pihak yang ikut ambil serpihan G30-S, sumber foto: John Roosa (2008) |
Aksi ambil serpihan inilah yang semakin menciptakan "lucu" film G30S/PKI. Sebab penonton hanya melihat begitu asyiknya upaya pembantaian tujuh perwira Tentara Nasional Indonesia yang diisukan sebagai Dewan Jenderal ketika itu. Padahal nyatanya, pihak militer sendiri mendominasi pihak yang mengambil serpihan insiden Gestapu. Oleh lantaran itulah, ada benarnya jikalau judul yang pas dituliskan G30S/PKI, alasannya ada beberapa pelaku dan beberapa korban. Tak hanya saja dari PKI yang menjadi biang kerok Gestapu, tapi bangsa ini tak pelak bersaksi bahwa dulu ada dilema internal dalam kubu TNI.(*) Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/