Tuesday, January 30, 2018

√ 2 Pola Teks Deskripsi Wacana Keluarga Dalam Bahasa Indonesia

2 Contoh Teks Deskripsi Tentang Keluarga dalam Bahasa Indonesia - Keluarga berisi orang-orang yang begitu kita cintai. Yuk simak dua pola deskripsi mengenai keluarga di dalam artikel berikut. :)

Teks Deskripsi 1


Aku, Diana Subagja ialah anak sulung dari tiga bersaudara. Aku ialah mahasiswa yang kuliah di Jurusan Ilmu Pendidikan. Ya, saya ingin menjadi seorang guru. saya berpikir bahwa guru ialah profesi yang begitu mulia, dan saya juga begitu senang mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Guru ialah keinginan ku selama ini. 

Ayah ku, Diki Subagja ialah pengusaha yang memiliki dua restoran dengan Bebek sebagai hidangan spesialnya. Meskipun ayah ialah pengusaha yang begitu menyayangi akan pekerjaannya, ia selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Sebisa mungkin, ia pulang di awal petang semoga bisa berjumpa dengan anak-anaknya sebelum mereka semua tidur. Seorang yang demokratis, ya itulah ayah. Ia membebaskan anak-anaknya untuk menjadi apapun yang mereka sukai. Ia belum pernah sekalipun memaksa atau membujukku untuk meneruskan usaha restoran yang telah dibangunnya semenjak 10 tahun lalu. Begitu ayah tahu saya ingin menjadi seorang guru, sama sekali ia tidak membantahnya, ia malah mendukung dan mengirimku untuk kursus mengajar selama 6 bulan di Amerika. Ia ingin, apapun profesi yang digeluti oleh anak-anaknya kelak, itu ialah pilihan mereka sendiri dan mereka begitu berdedikasi atas profesi tersebut. 

Ibu, Andika Sukmayanti, ialah perempuan yang cantik. Tetapi saya begitu sedih, alasannya ialah saya telah kehilangan beliau. Ibu meninggal sewaktu si kembar Dwiki dan Andra, 15 tahun yang lalu. Ibu ialah seorang guru di sekolah dasar. Ia ialah guru yang baik, bahkan hingga sekarang, setiap tahunnya beberapa siswa yang pernah ibu ajar, selalu berziarah ke makam ibu. Ibu juga merupakan alasanku menjadi guru, saya begitu berambisi untuk meneruskan usaha ibu semenjak ia meninggal. Ibu juga selalu berpesan kepadaku, untuk menjaga adik kembarku setiap dikala dan mengajarkan mereka hal-hal baik dalam kehidupan. 

Sekarang, kedua adikku telah duduk di kelas 1 SMA. Mereka tumbuh sebagai belum dewasa yang cendekia dan baik. Sepertinya, mereka lebih berpeluang untuk menjadi seorang pengusaha, meneruskan bisnis ayah. Mereka selalu suka apabila diajak ayah untuk melihat pemotongan bebek, proses memasaknya, dan bahkan mereka sering praktik menjadi pelayan untuk mengatakan hidangan ke pelanggan. Lagi-lagi, ayah tidak pernah memaksa mereka, semua itu pilihan adik-adikku. 

Aku bersyukur, bisa menjaga keluargaku dengan baik. Sesuai pesan ibu. :)
Advertisement

Teks Deskripsi 2


Aku ialah anak ke-2 dari lima bersaudara yang terdiri dari dua anak pria dan tiga anak perempuan. Aku memiliki seorang abang perempuan, namanya Tania, saya biasa memanggilnya mbak Tan. Mbak Tan ialah seorang mahasiswa di jurusan Ekonomi, Universitas Lampung. Ia sudah menginjak ke semester 6, dan berjanji kepada ayahku, bahwa satu tahun lagi ia akan lulus. Sementara saya sendiri, Aldo Ariando ialah siswa Sekolah Menengan Atas kelas 3 di sebuah sekolah swasta di Lampung. Tahun ini saya harus berguru ulet untuk mendapat nilai yang baik di ujian nasional, dan kembali berusaha semoga diterima di Universitas negeri. 

Tiga adikku, Panji, Dewi, dan Nadia ialah siswa Sekolah Menengah Pertama dan SD. Panji sebentar lagi naik ke kelas 2 Sekolah Menengah Pertama sementara Dewi dan Nadia ada di kelas yang sama. Ya, keduanya ialah anak kembar dan kini sedang duduk di kelas 3 SD. Hal yang saya banggakan dari adik-adikku dan abang perempuanku, Mbak Tan, ialah mereka semua cerdas dan siswa yang pintar. Bahkan, Mbak Tan pernah mendapat beberapa kali kursus singkat di Amerika dan Australia. Aku percaya, Mbak Tan akan menjadi salah satu ekonom ahli di Indonesia. 

Ayah, dia ialah tulang punggung keluarga kami. Sehari-hari Ayah bekerja sebagai guru di SMA, ia ialah Pegawai Negeri Sipil yang begitu sederhana. Ayah selalu memprioritaskan kebutuhan kami, dibandingkan berinisiatif menabung untuk membeli mobil. Ayah berpikir, bahwa ia sangat senang apabila semua anaknya bisa memperoleh pendidikan yang baik dan sanggup bersekolah setinggi mungkin. Teman-teman seangkatan ayah di sekolah tempatnya mengajar, sudah memiliki kendaraan beroda empat glamor dan rumah yang besar. Sementara ayah, tetap membawa motor Honda tahun 2001 nya. Ia amat setia dengan motor tersebut, meski saya tahu, ia bisa saja membeli motor baru. Begitulah ayah, ia lebih baik menyimpan uangnya untuk biaya sekolah kami. Ia takut kalau nanti saya dan adik-adikku membutuhkan biaya besar untuk melanjutkan sekolah, ia tidak bisa membayarnya.

Senada dengan ayah, ibu juga tidak duduk perkara apabila tidak dibelikan embel-embel atau baju gres setiap tahunnya. Ibu selalu gembira berada di rumah kami yang sempit untuk mengurus anak daripada pergi ke mall untuk sekedar berkeliling. Ia ialah perempuan cerdas yang bersahaja. Didikannya telah menciptakan kami, selain berhasil di bidang pendidikan, juga baik dalam moral. Ibulah yang mengajarkan kami untuk berdisiplin, tidak pelit mengembangkan makanan kepada teman, dan menghormati orang tua. Bagi ibu, ia merasa jauh lebih senang mendapati anak-anaknya berprestasi di bidang akademik dan memiliki susila bergaul yang baik, ketimbang ia memiliki harta berlimpah serta setiap hari bisa memakai kendaraan beroda empat mewah. 

Ayah, Ibu, Mbak Tan, Panji, Dewi, Nadia, saya menyayangi kalian semua. :) 

Sumber http://www.kelasindonesia.com