Saturday, December 29, 2018

√ Solusi Stres Melalui Administrasi Persepsi

Stres harus dihadapi dengan bijak. Stres sanggup diobati memakai obat-obatan kimiawi. Namun pengobatan stres paling baik berasal dari diri sendiri. Pengelolaan stres melalui administrasi persepsi menjadi salah satu metode pengobatan dari dalam diri.

Stres terbukti membahayakan kesehatan jiwa dan fisik. Jiwa yang terkena stres seringkali tidak damai dan galau gulana. Stres pun berakibat pada gangguan fisik, mulai dari meningkatnya detak jantung hingga kerusakan organ penting manusia.

Stres mempengaruhi keadaan fisik sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dikala akan melaksanakan presentasi atau tampil di depan umum ada sebagian orang yang stres sebab "nervous". Orang yang nervous (baca: tegang) seringkali ke toilet/ kamar kecil sebelum presentasi dilakukan.

Begitu pula dengan jumlah detak jantung. Detak jantunh orang yang terkena stres meningkat berkali lipat. Seringkali berdetak 90 kali per menit. Semakin usang stres, maka konsekuensi logisnya yaitu jantung ini semakin keras dan berat dalam memompa darah. Pada level ini tergambar dengan terperinci bagaimana stres memicu serangan jantung.

Stres biasanya dipicu dari sebuah situasi di luar kendali diri. Solusi cerdas menghadapi stres ada pada hal-hal yang berada di bawah kendali diri, salah satunya yaitu persepsi. Stres sanggup disikapi dengan pengelolaan persepsi. Persepsi dibuat oleh pikiran kita. Oleh balasannya dikala stres menyerang, nalar pikiran harus diaktifkan.

Lebih jelasnya ada pada pola berikut. Misalnya ada orang terjebak pada antrian panjang dikala membeli pertalite di SPBU. Payahnya lagi ia tidak sanggup berpaling dari SPBU ini sebab materi bakar yang ada di kendaraan beroda empat yang ditumpanginya tidak mencukupi untuk berpindah ke SPBU lain. Akhirnya ia marah-marah dan ngomel sebab antrian panjang itu.

Peristiwa di atas sesungguhnya memperlihatkan opsi lain selain murka dan ngomel. Orang yang antri tersebut sesungguhnya sanggup menyebarkan persepsi gres terhadap antrian panjang itu. Dia sesungguhnya sanggup berpikir bahwa antrian panjang ini sanggup membuatnya berlama-lama dengan istri yang ada di sampingnya. Atau sanggup juga menyebarkan persepsi gres bahwa antrian panjang sanggup ia gunakan untuk membaca buku yang ia sukai.

Pungkasnya stres sanggup ditanggulangi dengan administrasi persepsi. Mengalihkan emosi negatif menuju kemungkinan baru. Kemungkinan gres ini selanjutnya menimbulkan persepsi gres yang positif. Emosi kasatmata inilah yang meredam stres. Terciptalah kesehatan fisik dan mental yang sehat.

Terinspirasi sehabis membaca buku filosofi teras.
#filosofiteras #stoisisme

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com