Wednesday, April 17, 2019

√ Mengenai Ideopolitor (Ideologi, Politik, Dan Organisasi)


Forum sehabis rapat seringkali lebih “nendang” daripada rapat itu sendiri. Tulisan ini lahir sehabis diskusi singkat paska rapat dengan dua orang senior saya. Tulisan ini juga melengkapi klarifikasi yang telah dilontarkan. Kebetulan juga malam ini aku melontarkan kembali gosip wacana ideologisasi. Saya kira pas memberikan tema pembahasan ini dengan kapasitas aku sebagai anggota majelis pendidikan kader. Berbicara ideologisasi berarti berbicara wacana kaderisasi.

Kaderisasi yang dimaknai sebagai sebuah proses untuk membuat kader.
Kaderisasi dalam konteks organisasi Muhammadiyah merupakan aktivitas dan kegiatan yang tidak akan pernah kunjung selesai (never ending job). Kegiatan yang bersifat never ending job ini dalam konteks kelokalan membuat aku merasa kesulitan. Kesulitan dalam merumuskan titik awal dimana proses kaderisasi ini harus dimulai. Kesulitan ini terutama disebabkan lantaran semakin kompleksnya problem  pengkaderan dan semakin minimnya kader yang ada.

Keberanianlah yang kesannya memantabkan hati dan pikiran pada satu titik tumpu. Semoga titik tumpu ini bukanlah daerah yang ringkih untuk dijadikan pijakan awal mengiringi semangat kaderisasi. Titik tumpu ini dinamai Ideopolitor. Ideopolitor ini secara aplikasi dan pengertian berbeda dengan ideopolitor yang dimaksud dalam buku Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Namun istilah ini dipakai lantaran sudah cukup terkenal di kalangan warga persyarikatan. Dan istilah ideologi, politik dan organisasi (idepolitor) telah mewakili semangat kaderisasi.

Ideopolitor ini diperlukan menjadi titik tumpu pada usaha peneguhan ideologi Muhammadiyah, pewarisan nilai dan revitalisasi kader. Secara sederhana sanggup dijabarkan bahwa peneguhan ideologi Muhammadiyah disarikan melalui pemilihan bahan ideopolitor yang bersumber pada kelompok bahan ideologi Muhammadiyah, kelompok bahan pengembangan wawasan, kelompok bahan sosial kemanusiaan dan kepeloporan. Pewarisan nilai sanggup bersumber pada kelompok bahan muatan lokal. Dimana bahan muatan lokal ini difokuskan pada sejarah usaha Muhammadiyah di tingkat lokal. Sedangkan revitalisasi kader sanggup diambil dari kelompok bahan kepemimpinan dan keorganisasian.

Ideopolitor ini mempunyai target pendengar dari kalangan pimpinan cabang, majelis, ortom dan simpatisan. Namun, perlu disadari juga bahwa pembahasan yang sangat ideologis menyebabkan lembaga ideopolitor ini peminatnya tidak sebanyak kajian umum, tabligh akbar ataupun SKBM. Namun tidak masalah. Ideopolitor diniatkan bukan untuk meningkatkan kuantitas namun menguatkan kualitas kader. Jadi, harus diingat kembali makna dari kader yakni anggota inti yang menjadi cuilan terpilih dalam lingkup dan lingkungan pimpinan serta mendampingi (tokoh-tokoh) di sekitar kepemimpinan.
Kader inti tentu lebih sedikit jumlahnya daripada kader pendukung. Sehingga tidak perlu risau ataupun bingung jika yang ikut ideopolitor nanti jumlahnya hanya sanggup dihitung dengan jari. Tidak usah pula ada rasa gak yummy dengan pembicara yang dihadirkan di lembaga ideopolitor apabila jumlah yang menjadi pendengar ideopolitor sangat minim.

Forum ideolpolitor ini berdasarkan irit aku dibutuhkan sebagai sarana ideologisasi dan kaderisasi persyarikatan. Selama ini lembaga yang khusus membahas ideologi Muhamammadiyah di luar kegiatan pembelajaran Al-Islam Kemuhammadiyahan di sekolah juga belum ada. Dan biar ideopolitor ini lebih masif pengaruhnya, maka hendaknya diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kader dengan pelaksana dari ortom ataupun AUM.

NB: Persyarikatan Muhammadiyah yang dimaksud di atas yakni Muhammadiyah dalam konteks mikro. Artinya Muhammadiyah dalam konteks kelokalan dimana penulis tinggal. Bukan pada konteks makro nasional. Ideopolitor yang dimaksud merujuk pada pengkaderan fungsional yang bersifat leboh fleksibel dengan prinsip penyelenggaraan yang bersifat desentralistis-otonomis-sistemik.

 Ditulis seketika hingga di rumah sehabis rapat.
Borobudur pukul 00.59, 24 Juli 2018


Sumber http://rahmahuda.blogspot.com