Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Sunday, July 21, 2019

√ Syarat Menjadi Guru Yang Baik

Untuk menjadi guru yang baik dan sanggup melakukan pembelajaran dengan sebaik-baiknya, seorang guru dituntut untuk mempunyai kualitas yang dituntut dari profil seorang guru, seperti:
1) mempunyai kepribadian yang baik,
2) mempunyai pengetahuan dan pemahaman profesi kependidikan,
3) mempunyai pengetahuan dan pemahaman perihal bidang spesialisasi,
4) mempunyai kemampuan dan ketrampilan profesi.
Di samping itu guru juga dituntut untuk mempunyai beberapa kemampuan seperti: menguasai bahan pembelajaran dan kemampuan untuk memilih, menata, dan mengemas bahan pelajaran ke dalam cakupan dan kedalaman yang sesuai dengan target kurikuler yang gampang dicerna oleh siswa, mempunyai penguasaan perihal teori dan ketrampilan mengajar, mempunyai pengetahuan perihal masa pertumbuhan dan perkembangan siswa serta mempunyai pemahaman perihal bagaimana siswa belajar
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Thursday, July 18, 2019

√ Ketrampilan Menjelaskan (Salah Satu Ketrampilan Ynag Harus Dimiliki Guru)

Ketrampilan menjelaskan

Penjelasan bahan pelajaran yang gampang dipahami siswa merupakan bab penting dalam proses pembelajaran, oleh alasannya yaitu itu guru dibutuhkan bisa mengorganisasikan bahan pelajaran dengan perencanaan yang sistematis, sehingga gampang dipahami oleh siswa.

Ketrampilan ini bertujuan untuk:
• membantu siswa dalam memahami konsep, hukum, prinsip, atau prosedur
• membantu siswa menjawab pertanyaan
• melibatkan siswa untuk berpikir
• mendapat balikan dari siswa
• membantu siswa menghayati proses nalar

Ketrampilan menjelaskan terdiri dari:
a. komponen perencanaan, seperti: pokok-pokok bahan pelajaran, dan hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik siswa
b. komponen penyajian, seperti: kejelasan bahasa, berbicara, mendefinisikan istilah, penggunaan pola dan ilustrasi, pinjaman tekanan pada bagian-bagian yang penting, dan balikan wacana klarifikasi yang disajikan dengan melihat mimik siswa ketika mengajukan pertanyaan.

Hal-hal apa sajakah yang perlu Anda perhatikan dalam menerapkan ketrampilan menjelaskan:
• klarifikasi diberikan pada awal, tengah, ataupun final pembelajaran
• harus relevan dengan tujuan
• bahan klarifikasi harus bermakna
• klarifikasi harus sesuai dengan kemampuan dan latar belakang siswa.
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Monday, July 15, 2019

√ Budbahasa Dalam Islam

“Tiadakah engkau perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan suatu perumpamaan.Kalimat yang baik ialah umpama pohon yang baik. Akarnya teguh, cabangnya hingga ke langit. Ia memperlihatkan buahnya di tiap demam isu dengan izin Rabb-Nya....” (Ibrahim: 24-27)

Bangunan iman kita menyerupai pohon, ada iman yang teguh, tertancap dan terpatri dalam benak layaknya akar. Adapun cabang yang diumpakan sebagai ibadah yang memperlihatkan manfaat bagi diri kita pribadi. Serta budpekerti yang diumpamakan sebagai buah, buah yang dinikmati dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Akhlak merupakan buahan yang manisnya sanggup dinikmati banyak orang di setiap saat, kapan saja dan dalam kondisi bagaimanapun.

Diamnya bermanfaat, bicaranya apalagi. Cemberutnya bermanfaat, senyumnya apalagi. Tawanya bermanfaat, sedihnya bermanfaat. Sabarnya bermanfaat, marahnya memberi pelajaran. Duduknya bermanfaat, berdirinya bermanfaat. Dalam tidurnya ada manfaat, terjaganya lebih-lebih lagi.

Berjalannya bermanfaat, berhentinya bermanfaat. Saat ada nikmat menyambangi, beliau berbagi. Saat peristiwa alam menimpa, ada banyak pelajaran dari dirinya. Saat luang bermanfaat sebagaimana ketika sibuk. Saat muda memperlihatkan manfaat, pun hingga ketika tua. Saat sehat memperlihatkan manfaat, begitu pula ketika sakit. Saat kaya memperlihatkan manfaat, tak kurang juga ketika miskin. Saat hidup memberi manfaat, begitupun ketika wafat. Semua sisinya memberi manfaat bagi sekelilingnya(Salim A.Fillah: 2005) begitulah akhlak, buah dg banyak sekali manfaat.

Sulit bagi kita untuk berubah dan berbuah layaknya perumpamaan di atas. Akan tetapi, jikalau belum berbuah, minimal kita tidak berduri dan tak beracun. Setidak-tidaknya “Seorang mukmin itu ialah seseorang, di mana orang lain senantiasa merasa kondusif dari verbal dan tangannya”.

Aku ingin berubah, layaknya sebuah pohon yang besar lengan berkuasa akarnya, rindang dahannya dan lebat buahnya. Agar sanggup berubah menyerupai perumpamaan di atas, maka hanya Islam yang bisa menjawabnya. Berubah berdasarkan Islam merupakan sesuatu hal yang terbaik. Karena Islam tidak merubah huruf seorang muslim.

Islam tidak merubah huruf yang khas dari pemiliknya selama tidak bertentangan dengan akidah. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan huruf yang menyejarah. Mari kita ingat huruf yg dimiliki oleh sahabat-sahabat Nabi SAW.

Ada Abu Bakar dg huruf Ash Shiddiqnya(benar, membenarkan dan dibenarkan), ada Umar dengan karakternya yang jujur(Al-Faruq), ‘Utsman dengan huruf Dzun Nurainnya(pemalu), Ada Khalid yang bergelar pedang Allah, serta Ali dengan huruf Cerianya. Dan Masih banyak lagi karakter2 Sahabat Nabi SAW yang mempunyai huruf yang khas dan dibingkai dengan kemuliaan akhlak.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Mario Teguh

 pengalaman kerja dan buku yang dikarangnya sudah benar √ Mario Teguh

Biodata

Nama Asli: Sis Maryono Teguh (Mario Teguh)
Tempat/ Tanggal Lahir: Makasar, 5 Maret 1956
Agama: Islam
Istri: Linna Teguh
Anak: Audrey

Pendidikan
* New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, AS, 1975
* Jurusan Linguistik & Pelajaran Bahasa Inggris, IKIP Malang (S-1)
* Jurusan Interaksi Bisnis, Sophia University, Tokyo, Jepang
* Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (Operations System, MBA)

Pengalaman Profesional

* Citibank Indonesia (1983 - 1986) as Head of Sales
* BSB Bank (1986 - 1989) as Manager Business Development
* Aspac Bank (1990 - 1994) as Vice President Marketing & Organization Development
* Exnal Corp Jakarta (1994 - present) as CEO, Senior Consultant

Spesialisasi
Business Effectiveness Consultant

Buku:

* Becoming a Star (2006)
* One Million Second Chances (2006)

(Wow, dilihat dari Riwayat pendidikan, pengalaman kerja dan buku yang dikarangnya sudah benar2 menginspirasi saya, hehehehe)
tapi ada yg unik juga dari pak mario, trnyata nama mario berasal dr nama depannya maryono. hoho,,, super!!!!
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Friday, July 12, 2019

√ Seorang Mahasiswa Mematahkan Pernyataan Seorang Profesor

Seorang Profesor dari sebuah universitas populer menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan membuat segala yang ada?".


Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang membuat semuanya".


"Tuhan membuat semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.


Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan membuat segalanya, berarti Tuhan membuat Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan berdasarkan prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita dapat berasumsi bahwa Tuhan itu yakni kejahatan".


Mahasiswa itu melamun dan tidak dapat menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi beliau telah pertanda jika Agama itu yakni sebuah mitos.


Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh aku bertanya sesuatu?".


"Tentu saja," jawab si Profesor,

Mahasiswa itu bangun dan bertanya, "Profesor, apakah hambar itu ada?"



"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja hambar itu ada.


Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.


Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, hambar itu tidak ada.

Menurut aturan fisika, yang kita anggap hambar itu yakni ketiadaan panas. Suhu -460F yakni ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi membisu dan tidak dapat bereaksi pada suhu tersebut. Kita membuat kata hambar untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."


Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.


Gelap itu juga tidak ada. Gelap yakni keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya dapat kita pelajari, gelap tidak.


Kita dapat memakai prisma Newton untuk meme-cahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari banyak sekali panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak dapat mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap digunakan insan untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"


Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, menyerupai yang telah kukatakan sebelumnya.


Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak kasus kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut yakni manifestasi dari kejahatan."


Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak.


Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan yakni ketiadaan Tuhan. Seperti hambar atau gelap, kajahatan yakni kata yang digunakan insan untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.

Tuhan tidak membuat kajahatan. Kajahatan yakni hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti hambar yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.



Nama mahasiswa itu yakni "Albert Einstein" .

Tuesday, July 9, 2019

√ Kecerdasan Konvensional Dan Kecerdasan Sukses


Suatu hari terdapat dua anak insan yang mendapat perlakuan yang berbeda dari lingkungannya. Anak yang pertama selalu dipuji oleh sekitarnya alasannya kepandaiannya menuntaskan banyak sekali macam soal dan kiprah sekolahnya. Sehingga ia sering mendapat banyak piala, akta penghargaan dan nilai akademik yang bagus.
Sedangkan anak yang kedua mendapat perlakuan yang berbeda dari anak yang pertama. Ia tidak terlalu pandai, sehingga lingkungan menganggapnya biasa saja. Hanya ia mempunyai julukan si lihai alasannya ia mempunyai kemampuan motorik dan budi yang lebih diantara teman-temannya yang lain.
Suatu ketika dua anak tersebut berjalan mengintari gunung. Di tengah perjalanan mereka bertemu beruang yang sangat kelaparan. Mereka terjebak dan tak bisa kemana-mana. Anak yang pertama berkata ”Beruang itu sanggup menangkap kita dalam waktu 11 detik” perhitungan yang luar biasa, pernghitungan s= v x t dalam keadaan yang genting dan dihitung dengan waktu yang sangat singkat. Anak yang kedua tidak bisa menghitung kecepatan lari beruang layaknya anak pertama. Ia hanya berkata ”aku memang tak bisa menghitung kecepatan sepertimu, namun yang kutahu yang harus saya lakukan ialah saya harus berlari lebih cepat darimu”. Dan akhirnya, anak pertamalah yang dimangsa oleh beruang walaupun ia sanggup menghitung waktu beruang untuk menangkapnya.
Jadi, dalam kejadian di atas, anak pertama yang mempunyai kecerdasan konvensional (kecerdasan yang dibuktikan dengan nilai akademik yang tinggi) tidak bisa mengalahkan kecerdasan sukses yang dimiliki oleh anak yang kedua.
Contoh yang lain ialah ketika kita mendapat nilai ujian yang baik. Ternyata nilai ujian yang baik itu hanya berlaku ketika kita masih berada di dingklik sekolah dan dikala mencari kerja. Pada dikala kita masih sekolah kita akan mendapat kebanggaan dari guru, orang bau tanah dan teman-teman sekolah yang lain. Begitu pula dikala kita melamar pekerjaan, penyelenggara lowongan kerja pun menyeleksi kita melalu nilai yang kita peroleh. Namun ternyata nilai ujian itu tidak sanggup kita gunakan untuk meminjam uang di bank, kredit motor, dan nilai tersebut tidak sanggup kita gadaikan. Karena memang nilai ujian itu tidak mempunyai nilai yang cukup berharga dan tidak bisa menyelamatkan kita dari tantangan kehidupan. Jadi, lagi-lagi kecerdasan konvensional yag ditunjukjkan dengan nilai hasil ujian bukanlah segala-galanya.
Ada satu dongeng lagi, dongeng seorang anak kelas 3 SD yang menyelamatkan tetangganya yang tidak bisa berenang. Suatu hari di siang hari yang sangat panas terdapat seorang ayah dan anaknya yang gres berumur 5 tahun. Anak yang berumur lima tahun tersebut mencicipi panasnya udara di siang hari, sehingga tiba-tiba ia menceburkan diri ke dalam kolam yang yang sangat dalam. Ayahnya hanya bisa berteriak minta tolong di pinggir kolam alasannya ia tidak bisa berenang. Tiba-tiba ada seorang anak yang menceburkan diri ke kolam dan berenang menyelamatkan anak tersebut. Ternyata yang berenang menyelamatkan anak berumur 5 tahun itu ialah seorang siswa kelas 3 SD yang di sekolahnya hanya mendapat nilai pas-pasan. Sekali lagi kecerdasan konvensional tidak selalu mampu/ menjadi tolok ukur utama penyelesaian masalah.
Berdasarkan dongeng di atas, kecerdasan konvensional ialah kecerdasan tradisonal yang kebanyakan orang menganggap tolok ukur utama keberhasilan ialah nilai akademis yang di sanggup di sekolah. Sedangkan berdasarkan Sternberg dan grigorenko dalam buku learning metamorphosis, kecerdasan sukses ialah sekumpulan kemampuan terpadu yang diharapkan seseorang untuk mencapai kesuksesan hidup, terlepas bagaimana seseorang mengartikan kesuksesan itu dalam konteks sosio-kultural.
Orang yang mempunyai kecerdsan sukses, bisa memahami dirinya sendiri, mengerti akan kekurangan dan kelebihan diri sehingga bisa memakai kelebihan diri untuk menghadapi suatu problem dan menutupi kekurangan dirinya. Sehingga orang yang mempunyai kecerdasan sukses lebih bisa menghadapi permasalahan dan tantangan hidup dibandingkan orang yang mempunyai kecerdasan konvensional.
Secara singkat, orang yang mempunyai kecerdasan sukses mempunyai tiga kemampuan, yaitu kemampuan analisis, kreatif dan praktis. Kemampuan analisis ialah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, membandingkan dan membedakan. Kemampuan kreatif ialah kemampuan untuk membuat, membuat atau menemukan. Sedangkan kemampuan simpel ialah kemampuan utnuk menerapkan, mempraktikkan dan memakai apa yang telah ia pelajari.
Kesimpulannya ialah bagi orang bau tanah atau pendidik, janganlah menganggap anak yang mendapat nilai akademik yang jelek ialah anak yang kurang cendekia dan tidak bisa menuntaskan permasalahan hidup. Hendaknya setiap guru dan orang bau tanah bersikap bijaksana dengan menghargai ketrampilan yang dimiliki anak. Entah itu ketrampilan di bidang olahraga, karya ilmiah, sastra, seni ataupun akademik.
“Murid-murid anda sudah ditakdirkan dan dibekali keunikan masing-masing oleh Sang Pencipta. Anda tidak perlu mati-matian membuat murid anda menjadi bintang kelas kalau kemampuannya justru menjadi bintang lapangan, atau bintang panggung. Beri mereka kesempatan untuk memaksimalkan keunikan dan potensi yang dimilikinya. Mereka mempunyai hak untuk menjadi bintang dengan pilihannya sendiri”(learning metamorphosis).

Referensi: Iriyanto. 2012. Learning Metamotphosis, Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Esensi Erlangga Group.

Semarang, 5 September 2012

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Thursday, July 4, 2019

√ Pengalaman Memimpin Muhammadiyah

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah (1)
Republika, Selasa, 09 April 2013, 09:26 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dari sekian banyak teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh para ahli, sepertinya tipe kepemimpinan yang selaras dengan kultur Muhammadiyah yaitu yang bercorak demokratik-konsultatif. Tipe kepemimpinan otokratif dan serbakomando, tidak akan pernah efektif dalam organisasi modern dan egalitarian ini.

Pengurus Muhammadiyah dari sentra hingga ke tingkat ranting bersifat sukarela tanpa gaji. Tidak ada akad keuangan atau jabatan duniawi yang ditawarkan, semuanya menurut perintah kepercayaan untuk berbuat yang terbaik bagi kepentingan masyarakat luas.

Situasinya sungguh berbeda dengan lingkungan perusahaan melalui sistem karier, promosi, dan imbalan penggajian yang telah ditentukan. Agak mendekati apa yang berlaku di lingkungan perusahaan ini, yang berlaku dalam kultur partai politik belakangan ini sudah mengarah kepada janji-janji duniawi itu, sesuatu yang sanggup mencederai sistem demokrasi. Politik yang semestinya untuk mengabdi pada kepentingan umum telah berkembang menjadi ladang mencari rezeki.

Berbicara ihwal rujukan korelasi antara pemimpin dan pengikut, dalam perusahaan tentu corak komunikasi otak (rasional) lebih diutamakan, dalam Muhammadiyah, komunikasi antara hati (spiritual) akan lebih efektif. Sesuatu yang mengalir dari hati akan mendarat di hati pula. Saya menggantikan posisi Prof Dr M Amien Rais yang sangat terkenal ketika itu sebagai Ketua PP Muhammadiyah dalam situasi politik bangsa yang genting, suatu masa peralihan dari sistem otoritarian menuju sistem demokrasi. Sebagai seorang yang belum banyak dikenal publik, tiba-tiba harus memimpin organisasi sebesar Muhammadiyah, terus terang saya merasa ragu dan gamang.

Amien Rais telah berkibar sebagai tokoh publik nasional dan internasional, khususnya semenjak 1993, ketika melontarkan isu ihwal perlunya suksesi kepemimpinan nasional dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Surabaya. Lontaran ini telah memicu kemarahan luar biasa dari Presiden Soeharto dan para pendukungnya, termasuk yang ada di kalangan Muhammadiyah, selama beberapa tahun berikutnya hingga rezim Orde Baru itu jatuh pada Mei 1998. Perasaan gamang yang sering dibayang-banyangi sosok kharismatik Amien Rais berjalan sekitar setahun sehabis saya memimpin Muhammadiyah. Kemudian, secara berangsur yang dibantu oleh banyak pihak, termasuk tokoh-tokoh lintas iman, saya mulai menemukan diri sendiri di tengah-tengah pergolakan politik nasional dalam iklim euforia demokrasi yang nyaris tanpa kendali itu.

Muhammdiyah sebagai representasi dari salah satu sayap umat Islam terbesar di Indonesia, di samping NU, harus dipimpin oleh seorang yang berasal dari tempat terbelakang yang secepatnya mesti pintar merangkak ke panggung nasional. Jelas tidak gampang bagi saya yang ketika itu sudah berusia 63 tahun.

Saya lahir di sebuah nagari tersuruk Sumpur Kudus yang terletak di pedalaman Sumatra Barat pada 31 Mei 1935. Ketika kecil tidak punya mimpi apa pun untuk beranjak jauh dari tempat terbelakang itu. Memang kemudian saya pernah mencar ilmu di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Lintau (Tanah Datar) dan Yogyakarta antara tahun 1950 dan 1956, tetapi modal itu terasa belum cukup untuk menduduki posisi puncak di Muhammadiyah.

Sekiranya Amien Rais tidak berputar haluan memasuki dunia politik, mungkin saya tidak akan pernah menjadi orang pertama di lingkungan Muhammadiyah. Maka, tidaklah heran, mengapa saya terkejut karena tiba-tiba harus tampil ke posisi seorang yang dituakan dalam Muhammadiyah. Sebelumnya hanyalah sebagai anggota pimpinan sentra dan sebagai wakil ketua semenjak 1994, ketika Amien Rais menggantikan posisi Ketua PP KH Azhar Basjir yang wafat pada tahun itu. Azhar Basjir, seorang kiai dengan pemahaman agama yang dalam dan lurus.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/04/09/mkyus1-pengalaman-memimpin-muhammadiyah-1
-------------

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah (2)
Selasa, 16 April 2013, 20:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Ahmad Syafii Maarif

Berbeda dengan gaya kepemimpinan Azhar Basjir yang tenang dan lembut sesuai dengan sifat seorang kiai, di bawah Amien Rais, Muham madiyah harus berhadapan dengan negara di bawah sistem politik yang tabu untuk dikritik. Seluruh kekuasaan negara terpusat pada satu tangan, seorang jenderal lagi, sekalipun di depan lembaga Muktamar Muhammadiyah di Aceh pada Juli 1995 pernah mengakui sebagai "bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia".

Dalam situasi yang serbatertekan itu, pernyataan presiden Soeharto ini menerima tepuk tangan yang membahana dari akseptor muktamar. Bahkan, di beberapa daerah, pernyataan ini dicetak untuk "melunakkan" perilaku penguasa setempat terhadap Muhammadiyah.

Anda bisa bayangkan betapa sulitnya posisi Muhammadiyah dalam konstelasi politik nasional yang sangat kritikal itu. Saya mendampingi kepemimpinan Amien Rais yang kadang- kadang memang tidak gampang diikuti dan dipahami, sering menempuh jalan sendiri, tetapi saya banyak mencar ilmu bersama anggota PP yang lain.

Sebagian kami kadang kala berada dalam situasi harap-harap cemas. Pihak istana sebetulnya ketika itu sudah ingin sekali biar Amien Rais tidak berada di puncak pimpinan Muhammadiyah karena dirasa sudah sangat mengganggu kemapanan sistem kekuasaan.

Harapan pihak istana ternyata sia- sia karena yaitu sebuah kemustahilan memisahkan Muhammadiyah dengan Amien Rais. Tokoh ini di ketika panas itu sangat diperhitungkan secara nasional oleh mitra dan lawan.

Seorang wartawan bahkan pernah menyebutnya sebagai sosok "yang telah putus urat takutnya" karena mengamati tingkat keberanian Amien Rais yang spektakuler itu.

Bulan Juli 2000 dalam muktamar ke-44 di Jakarta, saya terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah dengan bunyi terbanyak. Sekitar tiga bulan menjelang muktamar, Amien Rais "sedikit marah" karena saya tidak begitu rajin berkunjung ke daerah-daerah. Dikhawatirkan, saya tidak akan terpilih sebagai ketua dalam muktamar itu. Sebagai seorang yang mulai mengenal medan, saya hambar saja. Terpilih, ya syukur, tidak ya syukur. Terserah saja kepada para pemilih.

Tidak ada tim sukses yang dibentuk, semuanya biar mengalir menyerupai air saja. Apalagi bagi saya, model-model tim sukses terasa bernuansa politik, sedangkan Muhammadiyah yaitu organisasi kemasyarakatan yang menjaga jarak sama dengan semua kekuatan politik. Kata orang, di bawah kepemimpinan saya, Muhammadiyah berjalan lebih tenang dan kondusif karena dipimpin oleh seorang yang bukan politisi.

Selain itu, Presiden Soeharto mungkin tidak begitu mengenal saya menyerupai mengenal Amien Rais.
Akan tetapi, ada ujian agak berat atas kepemimpinan saya ketika muncul informasi awal 2001 bahwa Presiden Abdurrahman Wahid akan dijatuhkan oleh MPR, pimpinan Amien Rais.

Pengikut Gur Dur, khususnya di Jawa Timur, serta-merta mengamuk dan merusak masjid-masjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah. Bahkan, gedung Sekolah Menengan Atas Muhammadiyah di Situbondo dibakar habis.

Dalam situasi serba sulit ini, terang tidak gampang bagi saya memimpin Muhammadiyah, sekalipun punya korelasi baik dengan elite NU, termasuk Ketua Umum nya KH Dr A Hasyim Muzadi.

Pada tingkat akar rumput, korelasi baik ini tidak berhasil meredakan amuk massa yang terkait dengan kekuasaan itu. Akal sehat sama sekali tidak ber fungsi.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam menyikapi situasi tidak normal itu, saya nilai sangat arif, tidak terpancing untuk melayani brutalitas massa, dengan menciptakan pernyataan tertanggal 5 Februari 2001 yang berbunyi: 1) Mendukung gerakan demokrasi dengan cara hening dan konstitusional. 2) Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. 3) Menyerahkan kepada abdnegara keamanan untuk sanggup segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin menyidik dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. 4) Mengimbau kepada masyarakat Jawa Timur biar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan memecah-belah dari pihak-pihak tertentu .

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/04/16/mlcmsl-pengalaman-memimpin-muhammadiyah-2
-----------

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah (3)
Selasa, 23 April 2013, 07:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sekalipun Muhammadiyah disakiti dan harta miliknya dirusak, reaksi yang diberikan yaitu dalam bentuk pernyataan di atas, yaitu biar aturan ditegakkan. Dengan sengaja menyamarkan nama pelaku teror itu, Muhammadiyah tidak rela karena politik kekuasaan persaudaraan umat di tingkat bawah menjadi kacau dan berantakan. Ongkosnya akan sangat tinggi kalau teror dibalas dengan teror. Orang yang beradab niscaya bisa menahan diri sebagai menunjukan keadaban.

Anarkisme di Jawa Timur menjadi perhatian utama PP Muhammadiyah. Kontak dengan PWM Jawa Timur terus dilakukan sambil mendesak abdnegara biar tindakan kekerasan dihentikan secepatnya. Anak-anak muda NU yang akrab dengan saya terus dihubungi biar memakai dampak mereka untuk meredakan situasi yang panas, tetapi tidak membawa hasil. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi target tindakan brutal selama berbulan-bulan hingga Presiden Abdurrahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan dingklik kepresidenannya pada 23 Juli 2001, sehabis berkuasa semenjak 20 Oktober 1999.

Pengalaman memimpin Muhammadiyah dalam kondisi semacam itu sungguh sangat membekas dalam hati dan perasaan saya. Ternyata sebagian umat Islam ketika tokoh idolanya sedang berada dalam proses kejatuhan karena dinilai melaksanakan kesalahan menjadi tidak stabil dan tidak normal, bahkan bisa berbuat apa saja yang tidak boleh agama. Sejarah Islam dalam bilangan kala tidak sunyi dari pengalaman pahit serupa ini, tetapi kita tidak mau mencar ilmu untuk tidak mengulanginya.

Alhamdulillah, beberapa bulan sehabis itu korelasi NU-Muhammadiyah di tingkat dasar berangsur pulih secara perlahan, tetapi pasti. Kata orang, kepemimpinan saya telah lulus ujian, sekalipun Muhammadiyah harus berkorban. PBNU bukannya tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya. Oleh karena itu, pinjaman mereka tawarkan untuk perbaikan kembali, tetapi PWM Jawa Timur dengan sopan menolaknya dengan alasan: “…secara impulsif warga Muhammadiyah telah mulai melaksanakan perbaikan.” Jawaban ini sebetulnya tajam, tetapi dianyam dalam bahasa simbolis yang santun, sejalan dengan salah satu diktum dalam kepribadian Muhammadiyah yang berbunyi: “Memperbanyak mitra dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.”

Saya dan teman-teman pimpinan yang telah bekerja keras semenjak muktamar tahun 2000 untuk merajut tali persaudaraan yang nrimo dengan kalangan NU tentu cukup terluka dengan apa yang dialami Muhammadiyah di Jawa Timur. Tetapi, di awal tahun 2002, upaya menguatkan persaudaraan itu saya teruskan lagi dengan hasil yang lumayan. Inilah rupanya risiko yang harus dilalui Muhammadiyah karena anggota masyarakat tertentu belum bisa membedakan antara figur Amien Rais sebagai Ketua MPR dengan Muhammadiyah yang ketika itu sudah berada di bawah kepemimpinan saya. Sampai dengan muktamar ke-45 di Malang, Juli 2005, gangguan terhadap Muhammadiyah sudah jauh berkurang, bahkan hingga hari ini, sehabis saya semenjak tahun itu tidak lagi berada dalam kepengurusan PP Muhammadiyah karena usia sudah 70 tahun.

Itulah sekilas pengalaman dari seorang anak kampung tersuruk dalam peran gerakan Muhammadiyah berhadapan dengan realitas umat dan bangsa. Suka dan getir saling melengkapi. Dalam segala cuaca, stamina spiritual memang tidak boleh melemah, sekalipun tidak jarang saya merasa sangat lelah.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/04/22/mlnr53-pengalaman-memimpin-muhammadiyah-3habis
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com