Showing posts with label Sang Pemimpi. Show all posts
Showing posts with label Sang Pemimpi. Show all posts

Sunday, April 8, 2018

√ Sang Pemimpi(N): Menjadi Internet Marketer Teladan

Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini yaitu kenyataan hari esok. (Hasan Al-Banna)


Bermimpi yaitu hal yang menyenangkan, selain tidak memerlukan biaya sepeser pun, memiliki mimpi berarti selangkah lebih maju dari orang lain yang hanya sibuk memikirkan hari ini.


Bermimpi yaitu hal yang luar biasa, apalagi kalau punya mimpi yang tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga kebermanfaatan yang bisa kita sebarkan di masyarakat luas.


Saya yaitu pemimpi baru. Bergerak lantaran titah Sang Raja Diraja; Allah swt. yang diperjalankan dari nasab ke nasab hingga sampailah titah itu pada seorang pria paling mulia yang pernah berjalan di Muka Bumi ini, Muhammad saw.


Raja Diraja itu merekam percakapanNya dengan Muhammad dalam surat Al-Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu yaitu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”


Saya punya sebuah mimpi untuk menjadi ummat yang dikabarkan Tuhan dalam lembaran-lembaran suci itu; yakni ummat yang saling ingat-mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, juga mencegah kemungkaran dengan cara yang dimengerti di zaman Saya hidup, yakni Generasi Z atau Generasi Net yang lahir dalam interval tahun 1995 – 2010.


Bahasa mereka yaitu internet. Maka, mendigitalisasi Rahmat Tuhan menjadi penting hari ini. Setidaknya, lantaran Saya belum merasa bisa menawarkan manfaat di dunia nyata, Saya ingin bermanfaat di dunia maya.


Saya yaitu pemimpi. Inilah kisah hidup saya.



Melihat Dunia


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: i.ytimg.com

Skenario Tuhan, Saya dilahirkan di Tasikmalaya pada hari Minggu tanggal 27 Agustus 1995 dengan nama Muhamad Mulkan Fauzi, nama yang abnormal di telinga. Saya yakin nama ini tidak banyak digunakan di Indonesia.


Nama yang Saya pakai hari ini yaitu satu di antara berbaris-baris nama yang disiapkan almarhum kakek. “Pilihlah …” mungkin dahulu ia berkata ibarat itu pada orang renta Saya. Entah apa yang mendasari mereka berdua setuju menentukan nama langka ini, yang terang … nama yaitu do’a.


Muhamad Mulkan Fauzi artinya: Muhamad Raja yang menang, sukses, atau jaya. Aamiin. Semoga memang begitu. Sukses darul abadi dunianya. Sukses pribadi dan sosialnya. Sukses menginspirasi banyak orang dan terinpirasi banyak orang.


Kehidupan kanak-kanak Saya tidak jauh berbeda dengan bawah umur lain, hanya, kata orang renta Saya, perkembangan motoriknya mengalami akselerasi; tidak tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, kemudian berlari. Tidak. Kata orang renta Saya, “Kamu itu tidak berjalan. Setelah bisa berdiri, eksklusif berlari.”


Satu hal lagi: saya tidak minum ASI.


Hidup ibarat anak Indonesia normal lainnya, Saya masuk ke jenjang pendidikan yang ditawarkan pemerintah; TK, SD, SMP, SMK. Persis sama dengan dominasi pelajar ketika itu, buku paket hanya di bawa dari Rumah ke Sekolah, dibuka kalau disuruh, mengerjakan soal kalau diperintah, kemudian dinilai.


Begitu setiap hari.


Tuntutan sekolah hanya satu: mendapat nilai bagus. Dengan demikian, semua siswa bisa naik kelas, sekolah hening –tidak tercoreng nama baiknya-, orang renta bahagia, guru merasa bangga. Tidak terlalu penting bagaimana cara siswa mendapat nilai itu.


Buktinya, berapa banyak pengawas ujian yang hanya duduk membaca koran ketika tahu siswanya saling lempar kode pakai jari tangan; satu jari berarti A, dua jari berarti B, tiga jari berarti C, dst. Atau bahkan, tidur; tidak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai pengawas. Keterlaluan memang. Tapi itulah kenyataannya.


Prestasi akademik pertama yang Saya dapatkan yaitu juara umum ke-3 untuk siswa dengan nilai rata-rata terbaik se-SMP. Setelah itu, berturut-turut jadi juara kelas. Dan di penghujung tahun terakhir SMK, Saya mendapat predikat juara umum ke-2 Ujian Nasional se-SMK N 2 Tasikmalaya.


Tidak ada kebingungan lain kecuali satu hal, pada ketika itu, yang tidak pernah bisa Saya cari pemecahannya. Ketika orang renta Saya bertanya, “Cita-cita kau mau jadi apa?” pengecap Saya selalu kelu. Tidak pernah terbesit dalam pikiran menjadi apa pun. Hidup hanya mengalir ibarat air.


Terjebak Paradigma Masyarakat


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: photodistillations.com

Saya baru sadar, hidup ibarat air mengalir itu ternyata tidak baik. Saya lupa, kalau air selalu mengalir ke daerah yang lebih rendah. Sejak lulus SMK, balasannya saya punya satu tujuan: Menjadi orang sukses.


Sukses yang entah. Saya pun tidak tahu caranya.


Akhirnya, Saya tetap mengalir ibarat air. Lebih tepatnya air keruh. Ingin sukses, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Kemudian Saya coba-coba tarungkan isi kepala ini di dunia orang-orang intelek. Singkat cerita, tahun 2013 Saya diterima di salah satu universitas Yogyakarta tanpa perlu susah payah.


Ibu yaitu orang yang paling bersemangat menyuruh Saya kuliah. Sementara ayah, menawarkan kendali sepenuhnya; membiarkan Saya menentukan masa depan sendiri. Meskipun memang, tersirat impian yang sama dengan Ibu semoga Saya bisa kuliah.


Wajar. Memang, orang renta mana yang tidak mau anaknya sekolah tinggi?


Ah, tapi hanya satu semester Saya bertahan di universitas itu. Lalu pulang ke kampung halaman tanpa bilang-bilang ke pihak lembaga. Rasanya Saya menjadi lebih kusut dari hari-hari yang lalu. Alasannya banyak. Tidak perlu Saya sebutkan. Yang jelas, ketika itu Saya menganggap sistem perkuliahan tidak menemukan kecocokan dengan isi kepala Saya; atau sebaliknya.


Satu semester lagi tersisa semoga genap waktu satu tahun. Di sisa-sisa waktu itu, ada rasa ingin tau yang ingin segera terbayarkan. Apa sebabnya Saya tidak betah duduk di dalam kelas, mendengarkan dosen, menulis cacatan; mengerjakan ujian, kemudian sanggup nilai?


Akhirnya, Saya mendaftar kuliah lagi di universitas swasta lokal –sekarang sudah negeri- di tahun 2014. Lalu hengkang lagi tahun ini, 2016. Tapi rasa ingin tau Saya terbayar sudah. Saya kemudian menentukan untuk tidak terjebak oleh paradigma masyarakat yang berkata: Kalau mau sukses, sekolah-lah yang tinggi!


Keluar Sangkar, Memilih jalan ksatria


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: angeladigiovanni.com

Setiap insan diciptakan dengan kemampuan terbang sesudah jatuh. Kenapa menentukan merangkak sesudah itu? (Jalaludin Ar-Rumi)


Saat pertama memutuskan untuk tidak menyusuri jalan yang diambil mayoritas, Saya merasa gagal. Ijazah dan piagam penghargaan; sertifikat-sertifikat keahlian yang Saya miliki semasa sekolah dahulu menjadi tidak ada artinya. Apa yang Saya dapatkan dari semua itu? Kebanggaan sesaat. Hanya itu.


Kemudian, dengan pertimbangan yang matang; dimulai dari analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) kehidupan, tes MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) kepribadian, dan sarana penunjang ‘audit diri’ lain.


Saya memutuskan dengan cara yang secama dan dalam tempo yang sematang-matangnya bahwa, Saya mesti belajar, bukan sekolah; berguru di daerah yang menciptakan Saya mengeluarkan gagasan, bukan hanya menghafal. Mencoba menjajakkan diri di ranah Afektif, daripada ‘berjodi’ di lingkungan kognitif.


Manusia punya posisi dan keahliannya masing-masing. Kaprikornus maaf saja bila Saya hari ini berkata bahwa, sekolah itu tidak penting.


Tidak penting bila hanya otak kiri yang diasah. Tidak penting bila sesudah keluar jenjang Sekolah Menengah Atas, belum bisa mandiri. Tidak penting bila parameter cerdasnya siswa dilihat dari nilai rapor saja.


Jalan ksatria yang ditempuh ini tidaklah gampang dan sistematis. Banyak sandungan yang niscaya menghadang di setiap langkahnya; dan Saya sadari itu semua. Tapi justru, itulah yang akan menciptakan kehidupan ini benar-benar hidup. Membuat insan menjadi benar-benar manusia.


Pak Anies Baswedan pernah berkata, “Anak muda, pilih jalan yang menanjak, jangan pilih jalan yang menurun atau mendatar. Memang tidak mudah, tapi di sana ada rute menuju puncak-puncak; di sana kita bisa gaungkan pesan, kirimkan gagasan untuk perubahan. Anak muda tidak pilih jalan yang mudah, mereka pilih jalan yang tangguh, jalan yang keras.”


Belajar di Universitas Kehidupan


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: c1.staticflickr.com

Menjadikan setiap daerah yang Saya kunjungi sebagai ruang kelas, orang-orang yang Saya temui sebagai guru, dan masalah-masalah yang Saya temui sebagai mata pelajaran yaitu sebenar-benarnya menikmati embusan nafas. Dari sana Saya belajar banyak hal berkaitan dengan saripati-saripati kehidupan.


Manusia itu dinamis. Orang yang sanggup mengerti perubahan-perubahannya, memanfaatkan potensi-potensi mereka ke posisi maksimal, memahami masalah-masalah pribadi dan sosialnya, orang itulah Sarjana Manusia.


Muhamad Mulkan Fauzi, S. Ma.


Biarkanlah Saya membahagiakan diri dengan gelar itu.


Universitas Kehidupan ternyata lebih mengasyikkan. Martabat dan kehormatan orang yang bergiat bimbing di sana tidak ditentukan menurut transkrip nilai di selesai semester; tidak terletak pada gelar di ujung nama, pangkat di atas pundak, ataupun piagam di dada. Melainkan di dalam hati orang-orang yang dia bantu tanpa pamrih.


Digitalisasi Rahmat Tuhan


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: i.imgur.com

Berbekal niat yang mudah-mudahan mulia. Saya kemudian berpikir, tidak asik kalau menjadi orang ‘sadar’ sendirian. Maka, sembari terus berguru perihal hal-hal yang tidak mungkin diajarkan di sekolah, Saya bertekad mengajak sebanyak-banyaknya orang –yang terpuruk- untuk keluar dari jerat paradigma masyarakat itu.


Banyak sahabat Saya yang merasa gagal lantaran tidak bisa masuk universitas. Maka, hei! Saya ingin katakan bahwa, sukses itu yaitu soal sikap; bagaimana Saya dan Kamu bersikap bukan sebagai orang gagal!


Mencari ilmu itu wajib, kuliah tidak.


Bukan berarti kuliah tidak ada gunanya, tapi bagi sebagian orang … jalan kemenangannya tidak ditakdirkan di sana.


Silakan kuliah kalau Kamu senang di sana. Terlebih, kalau mimpimu harus melewati jalan itu. Yang terpenting adalah, jangan kuliah hanya untuk diri sendiri. Setelah lulus, jangan jadi orang ‘miskin’ yang ketergantungan dengan honor atau apapun. Berkaryalah dan karyakan orang lain!


Tapi kalau kuliah hanya mengakibatkan dirimu semakin tidak baik; ujian nyontek, kiprah copy paste, tidak pernah baca buku hanya main game online, tidak ikut organisasi hanya kuliah-pulang, ruang geraknya hanya kampus – kost – warteg. Lebih baik Kamu berhenti kuliah.


Saya tidak kerasan berada di ruang kelas lantaran hal-hal di atas ada di sekitar Saya. Rasanya Saya masuk ke lingkungan yang stagnan; tidak akan menciptakan Saya menjadi orang yang lebih baik. Maka, Saya mencari jalan lain.


Sebelumnya memang, Saya sudah bergiat di sosial media mengurusi akun anonim dakwah; tapi, lantaran waktu itu disibukkan juga dengan aktivitas kampus, jadinya tidak maksimal.


Sekarang, sesudah memutuskan untuk berhenti mendatangi kampus, Saya bisa lebih fokus mengurusi akun dakwah itu. Mendigitalisasi rahmat Tuhan. Sebab, rahmatNya bukan hanya untuk orang ‘alim saja, tapi juga untuk orang-orang yang sedang berubah jadi lebih baik.


Menemukan Visi


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: kids.nationalgeographic.com

Membaca buku menjadi rutinitas. Enak, sambil online-ngadmin; sambil juga baca buku. Entah berapa buah buku yang sudah di baca. Bukan banyak, hanya tidak ingat saja jumlahnya.


Selain itu, Saya jadi daerah pembuangan problem teman-teman. Dengan kata lain, banyak dicurhati masalah-masalah mereka. Seringnya, sih, Saya kutipkan saja kata-kata dari buku yang sudah dibaca. Selesai.


Dalam rutinitas itu, Saya teringat pesan yang pernah ayah sampaikan ketika dahulu lulus SMP. “Kerja itu yang duduk, sanggup uang.”


Itu jugalah yang mendasari Saya menentukan jurusan komputer di SMK; tapi ternyata salah duga. Masuk jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), malah akan menciptakan Saya mengurusi hardware; manjat tower, ngukur kabel, servis komputer, dll. Saya pernah melaksanakan itu.


Tuhan memang Mahabaik. Angin zaman telah berubah arah lagi. Sekarang banyak bermunculan tokoh ‘pengangguran bahagia’ di beranda facebook Saya. Dengan penuh minat Saya perhatikan mereka. Tahu mereka siapa? Ya, mereka yaitu pedagang online dan Internet Marketer.


Untuk pertama kali dalam hidup, ada hal yang ingin sekali Saya lakukan. Pandangan Saya mendadak jauh ke depan. Saya berpikir apa yang bisa dilakukan kalau Saya jadi mereka. Satu-dua-tiga hal sudah Saya tuliskan di secarik kertas, mudah-mudahan tercapai.


Mulai dari sini, Saya gres sadar bahwa visi itu sangat penting. Hidup tanpa visi sama saja dengan kita naik taksi kemudian bilang ke supirnya, “Pak, Saya punya waktu dan uang. Antarkan Saya ke mana pun, terserah.” yang kemudian menghasilkan dua kemungkinan:



  1. Saya tidak ke mana-mana; supirnya hanya berkeliling kompleks.

  2. Saya tidak tahu sedang di mana; supirnya bawa Saya ke jalan tol, kemudian diturunkan di tengah perjalanan.


Saya yaitu Sang Pemimpi.


Bermimpi menjadi ummat terbaik yang saling ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran lewat Internet. Mengajarkan kerja-kerja kasatmata untuk meraih kehidupan darul abadi dan dunia yang layak.


Bertemu Sintesa


Kenyataan hari ini yaitu mimpi kita kemarin √ Sang Pemimpi(n): Menjadi Internet Marketer Teladan
sumber: arraziibrahim.com

Di sinilah Saya sekarang. Langkah pertama menuju mimpi yang diisyaratkan ayah beberapa tahun lalu.


Semua hal besar dimulai dari hal kecil; jarak terjauh yang pernah dicapai oleh Dzulkarnain dimulai dari langkah kakinya yang pertama.


Terlebih dari itu, jauh di dalam hati dan pikirannya tergambar sebuah visi yang besar sehingga membuatnya mengikrarkan niat yang balasannya menggerakkan tubuh karunia Tuhan itu; yang sama-sama memiliki dua mata, dua lengan, dua kaki, serta satu hati yang dijaga membara untuk berjuang, meraih apa yang dia yakini.


Langkah pertama selalu berat. Bahkan bisa jadi yang terberat. Sebab, bila rasa sesal yaitu yang paling selesai mengetuk pintu hati, maka kekhawatiranlah yang menjadi sandungan paling awal dari apa pun. Khawatir tidak sesuai rencana, khawatir gagal, dll.


Tapi, Saya yakin, bersama Tuhan … semua ‘kan baik-baik saja.


Saya yaitu Sang Pemimpi(n), yang sedang berusaha meraih abjad terakhirnya. Menjadi pemimpin diri sendiri dan mengemudikannya di atas jalan berkah. Mencari seorang pendamping untuk saling menyemangati. Lalu, menarik sebanyak-banyaknya orang untuk ikut di belakang.


Sendiri mengokohkan. Berdua bertumbuh. Banyak bermanfaat.


Salam Satriabajahitam,

Ksatria berhati baja, yang menyalakan lilin di dunia hitam.



Sumber https://satriabajahitam.com

Saturday, April 7, 2018

√ Semalam, Dua Gunung

 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Bila di posting sebelumnya, Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantren Sintesa, maka kali ini izinkan Saya menyebarkan drama yang pernah Saya alami beberapa waktu silam.


Mendaki dua gunung dalam satu malam.


Semenjak pasang internet di Rumah, Saya lebih sering menghabiskan waktu di depan layar daripada menikmati keindahan alam semesta.


Makanya, Saya agak sedikit terganggu dengan foto-foto para pecinta alam, katanya, yang diposting di sosial media.


Saya sebut ‘katanya’ alasannya yaitu dalam kenyataannya mereka hanya melabeli diri dengan nama ‘Cinta Alam’; tidak benar-benar cinta alam.


Buktinya apa? Nanti Saya kasih tahu di bawah.


Sementara foto yang menciptakan Saya terganggu, Kamu niscaya sering melihatnya. Iya, foto kertas betuliskan, “Indonesia itu indah, bro, jangan di Rumah terus.”


Saya lupa tanggal pastinya, tapi seiring banyaknya orang yang upload foto itu, menciptakan Saya sedikit tertarik mencoba mendaki gunung.



Libur Telah Tiba. Hore. Hore. Hore


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Saya mendaki dua gunung ini bersama teman satu organisasi ekstra kemahasiswaan. KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), namanya.


Wacana yang diangkat adalah: My Trip My Tafakur.


Iya. Kami membawa nama ‘muslim’ di organisasi, masa’ hanya naik gunung, foto-foto, terus turun lagi. Gak ada nasihat yang diambil selama perjalanan, kan gak lucu, ya?


Jadilah hari itu diputuskan. Bertafakur di Gunung Papandayan dan Cikurai, Garut.


Kenapa dua gunung ini?


Alasan pertamanya adalah: dekat. Pft.


Alasan lainnya alasannya yaitu salah satu rekan organisasi Saya ketika itu, rumahnya sempurna di Lereng Gunung Cikurai.


Intinya, silaturahim ke Rumahnya, sungkem ke orang tuanya. Barangkali jadi jalan rezeki, kan? Lagipula, kata rekan Saya, di tempatnya banyak ladang pertanian. Kaprikornus sekalian saja. Siapa tahu dikasih bumbu.


Mari Bersiap Siaga


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Saya anak rumahan. Sedikit tidak mungkin punya perlengkapan untuk mendaki. Satu-satunya yang saya miliki hanyalah jaket gunung.


Jaket yang dibeli dengan niat gaya-gayaan saja. Serius.


Akhirnya, Saya sanggup carier model jadul. Itu pun sanggup pinjam dari rekan SMK. Tidak apa-apa, yang penting bawa nyali.


Peralatan yang Saya bawa ketika itu tidak banyak. Hanya mie rebus, syal, dan botol berisi air mineral ukuran besar.


Oh, ya, alasannya yaitu barang bawaan Saya sedikit, jadinya dititipi barang punya orang lain; matras, peralatan masak dan nesting, dan gas portabel.


Percaya atau tidak, Saya naik gunung pakai celana pelatihan dan sepatu jogging.


Mari Mendaki


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Kami berangkat dari Tasikmalaya sekira pukul 07:00 WIB, hingga di Papandayan sekira pukul 8:30. Lalu pribadi mendaki tanpa basa-basi.


Papandayan termasuk gunung yang ‘kurang pas’ untuk didaki. Karena, berdasarkan Saya, lebih menyerupai daerah rekreasi daripada daerah pendakian.


Jalurnya landai, tidak terlalu menghabiskan tenaga. Makanya, banyak pemula menyerupai Saya memulai mencoba mendaki dari sini, Gunung Papandayan.


Tapi jangan salah … pemandangannya luar biasa indah. Tempatnya terurus. Maklum. Pulang pergi lereng-puncak sanggup dilakukan dengan cepat. Kaprikornus yang ngakunya penjaga gunung ini sanggup rajin ‘sapu-sapu’.


Pemula menyerupai Saya sanggup menghabiskan waktu dua setengah jam untuk hingga di Pondok Salada, daerah luas di Gunung Papandayan yang sering digunakan para pendaki untuk mendirikan tenda.


Ada toiletnya, lho.


Katanya, bawah umur KKN UNPAD yang buat. Atau ITB. Saya lupa lagi.


DI Pondok Salada ada bunga keabadian; bunga edelweiss. Entah, Saya kurang tahu kenapa disebut bunga abadi. Kalau ingin tahu, silakan cari sendiri saja, ya.


Hutan Mati


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Menurut Saya, Hutan Mati yaitu daerah paling indah di Papandayan. Ada aura-aura misterius yang menarik orang-orang untuk menginjakkan kaki di sana.


Pasirnya putih, pohonnya hitam.


Semacam keseimbangan yang digambarkan oleh alam. Saya lupa berapa foto yang diambil di spot ini. Yang jelas, kami lupa diri. Wew.


Wajar. Prinsip para pecinta alam ‘kan salah satunya: Jangan mengambil apapun kecuali foto.


Ya sudah, foto-foto sepuasnya. Jangan protes.


Isi Energi Dulu


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Setelah puas mengambil beberapa gambar untuk dijadikan kenangan, Saya dan rekan-rekan lekas turun ke lereng untuk melanjutkan ke jadwal selanjutnya, makan gratis. Di mana? Ya, di Rumah rekan Saya tadi.


Rasa lelah yang menjangkiti berangsur-angsur pulih. Lebih tepatnya, terlupakan. Di Rumah rekan Saya itu, badan tidak mendapat porsi istirahat yang cukup. Alasannya: kami mahasiswa.


Maksudnya?


Mahasiswa suka diskusi. Kaprikornus … dari awal hingga di Rumah rekan Saya ini, tidak pernah damai barang semenit pun. Terus saja ngobrol. Apa saja.


Hingga akhirnya, hingga pada diskusi ihwal waktu. Kapan harus melanjutkan mendaki ke Gunung Cikurai?


Ada perdebatan yang cukup panjang, alasannya yaitu Cikurai ini tidak menyerupai Papandayan yang landai. Gunung ini kebalikannya!


Saya pernah bercakap-cakap dengan rekan kuliah yang sering naik-turun gunung. Ketika ditanya, “Gunung mana yang paling cape di daki?”


Jawab rekan Saya: Cikurai.


Sepakat! Mari Mendaki (lagi)


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Kalau tidak salah ingat, kami mencapai mufakat sekira pukul 20:00.


Hasilnya: Langsung manjat lagi hari ini.


Alamak! Tahu kalian jam berapa Saya dan rekan-rekan berangkat ke lereng Cikurai? Jam 24:00.


Sudah malam, gelap, jalan menuju lerengnya juga butuh perjuangan. Sampai-sampai salah satu motor di rombongan kami berasap, tidak besar lengan berkuasa manjat.


Itu gres perjalanan ke lerengnya saja.


Setelah hingga di pos pemberhentian, kami bariskan motor supaya aman, kemudian melaju sejurus kemudian.


Pukul 01:00 kami mulai mendaki, melewati kebun teh yang tanahnya licin bekas hujan. Wajar, sih, kan Saya pakai sepatu jogging.


Saya kurang mengerti jalur apa yang diambil, silakan cari sendiri opsi jalur yang ada di Gunung Cikurai. Saya tidak akan menulis apa yang tidak saya ketahui. Atau lupa.


Baru hingga pos satu, Saya sudah kelelahan. Entah, rekan-rekan Saya sudah hingga di pos berapa, yang terperinci Saya tertinggal jauh.


Sekira pukul 02:30 malam, Saya memutuskan untuk berhenti di awal pos dua menuju pos tiga. Sendiri. Air habis. Gerimis. Tidak ada senter.


Saya benar-benar menduga berjalan di urutan terakhir rombongan. Tapi ternyata, yang kami jadikan leader alasannya yaitu sudah berpengalaman masih di belakang. Alasannya mencari paralone air.


Dahulu, di Pos dua, katanya, ada paralone yang sanggup diambil airnya untuk para pendaki. Tapi kini sudah tidak ada. Makanya, leader tadi masih di belakang, mencari-cari paralone yang hilang.


DIa memotivasi Saya untuk terus bergerak supaya tidak terlalu mencicipi dingin. Saya memaksakan diri untuk mengikuti proposal dia hingga hingga di pos tiga.


Saya istirahat di sana hingga shubuh. Shalat sembari menunggu leader yang sedang turun lagi ke lereng mengisi jerigen 10lt. Gila.


Singkat cerita, Saya dan rekan-rekan hingga di Puncak CIkurai siang hari, sekira pukul 13:00 jika tidak salah.


Cuacanya tidak mendukung. Mendung. Tenda pun segera didirikan untuk kami beristirahat.


Dan benar, di Puncak turun hujan. Jangan tanya bagaimana suhu di sana. Pokoknya benar-benar drama, seluruh badan bergetar kedinginan, entah berapa skala richter.


Tidur di bawah tenda yang dihantam buliran air langit sungguh tidak enak. Sudah begitu, satu tenda rame-rame. Tidur desak-desakan.


Ah …


Semua Lelah yang Terbayar


 Saya rangkum sedikit jejak Saya dari awal melihat dunia hingga alhasil hingga di Pesantr √ Semalam, Dua Gunung


Sekian.



Sumber https://satriabajahitam.com

Friday, April 6, 2018

√ Tembok Arogan Ruang Kelas

 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: tango.image-static.hipwee.com

Kuliah itu apa?


Menurut Saya, kuliah ialah masa emas pendewasaan diri. Bukan ajang pencarian gelar dan lomba fashion.


Kuliah, buat apa?


Agar jadi insan bermanfaat, bukan dimanfaatkan; biar Kamu merasa lebih ndeso dari orang lain, yang kemudian akan membuatmu lebih bersemangat mencari ilmu. Bukan sok-sok intelek.


Iya. Tahu apa arti mahasiswa?


Mahasiswa itu berasal dari dua kata yang digabungkan. Maha dan Siswa; Maha berarti orang yang terhebat. Sedangkan Siswa berarti bodoh.


Jadi mahasiswa itu …


Banyak yang menyayangkan keputusan Saya berhenti dari acara perkuliahan. Katanya, Saya tidak bersyukur dengan ketetapan Tuhan.


Apa iya begitu? Saya jadi merasa ada pelecehan secual terhadap tafsir dari syukur.


Benar atau tidak, berdiam diri-bertahan pada keadaan yang tidak membaikkan pribadimu termasuk bersyukur? Kalau syukur Saya artikan sebagai Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk terus memperbaiki diri, dengan mencari kawasan yang layak, Kamu pilih pengertian yang mana?


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: 4.bp.blogspot.com

Ada sebuah isyarat, kalau satu pintu tidak bisa dibuka maka cobalah masuk dari pintu yang lain.


Saya merasa, pintu yang ada di depan Saya tertutup rapat. Ada duduk masalah dengan gambar di kepala. Susah sekali rasanya membayangkan diri ini menggunakan toga.


Selain itu, banyak mahasiswa yang tidak menjadi mahasiswa; kaum intelek tapi bodoh. Saya merasa terganggu dengan itu semua. Teori-teori dasar wacana Mahasiswa dan Pemuda yang digaungkan selama ospek …


… seperti hanya mantra untuk menyemangati saja. Tidak diamalkan secara penuh.


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: i.ytimg.com

Mahasiswa adalah agent of change, katanya. Agen perubahan yang tidak hanya pandai beretorika dan berdiksi, tapi berprestasi dan aksi. Membunuh bawah umur kebijakan yang salah urus.


Mahasiswa ialah investasi negara; iron stock, katanya. Generasi yang membaja dan siap pakai untuk menggantikan para pemimpin yang sudah udzur hati dan pikirannya.


Mahasiswa harus menjadi social control, katanya. Operator massa, kawan kritis pemerintah yang menawarkan kritik solutif dikala para pemimpin di Gedung glamor sana ada hal yang salah. Mencerdaskan masyarakat biar tidak di-cerdas-i pemimpinnya.


Saya tidak sedang memukul rata semua mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sadar, tapi banyak juga yang lupa. Mungkin termasuk Saya.


Maka dari itu …


Keputusan yang kemudian Saya ambil sebagai bentuk rasa syukur adalah, berhenti kuliah.


Ini alasannya.



Tidak Bisa Beradaptasi dengan Lingkungan yang Statis


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: healtheconnect.bannerhealth.com

Statis yang Saya maksud adalah, terus berputar-putar dalam bulat tidak berujung. Mungkin tidak semua universitas ibarat itu, tapi yang Saya alami, acara perkuliahan ya … ibarat itu setiap hari.


Dosen tidak masuk, tapi kiprah menumpuk. Mahasiswa jangan telat, dosen mah … bebas.


Mahasiswa hanya diajari menjadi ‘penumpang’ yang baik. Jarang sekali Saya ditugaskan untuk menciptakan konsep kreatif atau minimal, mencari duduk masalah sosial –yang masih berkaitan dengan jurusan- dan perumusan solusinya.


Rasanya, tembok ruang kelas itu arogan sekali. Terlalu menuntut mahasiswa yang ada di dalamnya angguk-angguk tanpa sebab. Ah, mungkin hanya perasaan Saya saja.


Salah Jurusan


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: artlimited.net

Anu … daripada disebut Salah Jurusan, sesungguhnya lebih pantas dikatakan salah mikir. Jujur, dulu Saya kuliah itu mikir wacana prospek pekerjaan yang kedepannya, sehabis Saya lulus, bisa bekerja di Perusahaan besar dengan honor yang tumpeh-tumpeh.


Biasa. Gengsi.


Tapi seiring berjalannya waktu, Saya menemukan fakta bahwa jurusan kuliah tidak memengaruhi masa depan seorang mahasiswa. Artinya, tidak menjamin sehabis wisuda nanti akan berkarya pada bidang yang sama dengan jurusan yang digeluti semasa kuliah.


Pernah lihat headline koran yang menulis sekian puluh ribu sarjana menganggur? Atau sekian puluh ribu sarjana daftar jadi driver Go-Jek?


Atau malah punya sobat yang jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) jadi karyawan bank? Banyak, tuh …


Tapi Saya salut ke salah seorang kawan online, Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNPAD, atas motivasinya.


Dia bilang –yang intinya- begini, “Segera berkarya! Jangan terlalu usang tenggelam dalam perasaan salah masuk jurusan. Skenario indah sudah Tuhan siapkan. Tinggal mau menjalani dan berusaha menjemputnya.


Harus aktif mengikuti kegiatan-kegiatan perlombaan, baik akademik maupun non-akademik. Aktif dalam acara kemahasiswaan, organisasi dan acara sosial.


Mengasah kemampuan public speaking, baik bahasa nasional atau internasional. IPK dijaga biar tetap kondusif dan milikilah kepribadian yang baik.”


Oke. Dua jempol. Saya setuju. Mahasiswa harus jadi pekarya yang mengkaryakan orang lain.


Intinya: berkarya, sukses pribadi, dan sukses sosial.


Bukan Misi


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: i.ytimg.com

Misi ialah langkah strategis yang dirumuskan sehabis tahu tujuan akhir. Penting bagi Saya –dan mungkin bagi semua orang, misi-misi yang hendak dikerjakan harus mendekatkan pada cita-cita.


Makanya Stephen R. Covey di dalam bukunya yang bertajuk 7 Habits Of Highly Effective People menyebutkan, “Mulailah dari Akhir di Pikiran.”


Maksudnya adalah, sebelum melaksanakan perjalanan penting untuk punya tujuan, peta, dan kompas.


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: anpa.nationalparks.gov.uk

Kenapa?


Karena tujuan bisa berfungsi sebagai alat ukur sejauh mana kaki sudah melangkah. Mungkin Kamu bisa bayangkan, kalau bepergian tapi tidak tahu arah tujuan. Kamu tidak akan pernah tahu berapa jauh lagi akan sampai, pun sudah berapa jauh jarak yang telah ditempuh.


Peta ialah alat untuk melihat jalan mana yang harus kita susuri –dengan segala rintangannya- biar hingga pada tujuan akhir. Tanpa peta, ada dua kemungkinan: tersesat dan tidak tahu kalau sedang tersesat.


Sementara kompas menjadi petunjuk arah, yang mengingatkan bila salah melangkah.


Nah, kuliah tidak menjadi misi dalam pemenuhan visi Saya. Tapi Saya tidak menafikkan, kalau selama bergiat asuh di kampus, banyak hal yang Saya dapatkan. Khususnya dari organisasi.


Laki-laki Harus Mandiri dan Banyak Pengalaman


 kuliah ialah masa emas pendewasaan diri √ Tembok Angkuh Ruang Kelas
sumber: blissfullydomestic.com

Penelitian membuktikan, kecerdasan anak diturunkan dari gen ibunya. Nah, jadi, berdasarkan Saya, sekolah dan gelar berada di nomor sekian untuk laki-laki. Sing penting pandai cari istri yang cerdas. Pft.


Laki-laki harus banyak pengalaman. Benar-benar harus. Sebab, pengalaman-pengalaman itu akan membuatnya semakin bijak memecahkan masalah.


Dan bijak, penting dimiliki oleh seorang ayah biar rumah tangga yang dibina tidak tenggelam di tengah perjalanan.


Bahasan ini terlalu jauh. Intinya, semua harus dipersiapkan; baik dan buruknya. Kalau kuliah sanggup memberimu hal ini, maka lanjutkan. Tapi kalau sebaliknya, coba dipikirkan lagi. Ya … kayak Saya ini.


Saya ingin menarik kesimpulan, mengutip dari postingan sebelumnya, “Silakan kuliah kalau itu membuatmu menjadi eksklusif yang lebih baik. Jika sebaliknya, berhenti saja.”


Sejak awal, Saya tidak pernah menganggap kuliah hanya sebagai perpindahan episode dari Sekolah Menengah kejuruan ke Universitas, tapi lebih dari itu.


Ini soal masa depan dan waktu yang dihentikan kita sia-siakan pada hal-hal yang tidak menjadi penunjang tujuan kita.


Saya dan kau hanya singgah saja di dunia ini. Sebentar. Besok lusa mungkin kita mati. Pertanyaannya, sudah bermanfaat untuk masyarakat?


Ah, iya, sebagian dari kita memang kuliah untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi sebagian lagi … hanya main-main saja.



Sumber https://satriabajahitam.com

√ Jakarta, Ibukota Perjuangan

 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Selama Saya menjadi mahasiswa, ada sebuah harapan untuk mencicipi medan aksi, memperjuangkan hak-hak masyarakat yang dikebiri pemerintah tanpa sepengetahuan mereka.


Maka sebisa mungkin, Saya harus ikut organisasi yang punya track record agresi tenang yang banyak. Keluar dari sofa nyaman kampus, turun ke jalan menyuarakan suara-suara rakyat.


Orasi yaitu seni.


Silakan Kamu berpikir bahwa demonstrasi tidak ada gunanya. Hanya menghabiskan tenaga tapi tidak menghasilkan apa-apa.


Silakan Kamu berpikir bahwa demonstrasi yaitu cara yang kolot, tidak mencerminkan intelektualitas, menganggu kenyamanan orang lain.


Tapi, adakah hal lain yang sanggup membuka ikat pasung di kaki para cowok selain jalan?


Oh, benar sekali, mahasiswa sanggup melaksanakan audiensi; ngobrol bertatap-tatap dengan pengambil kebijakan yang bersangkutan. Di daerah sejuk ber-AC sambil makan-makan.


Menyelipkan haha-hihi di antara obrolan. Sungkem nunduk tanda penghormatan dan katakan, “Saya tiba untuk memberikan aspirasi masyarakat, pak.”


Bisa sekali.


Tapi sayang, pemimpin kita hari ini menganggap audiensi sebagai jalan cari kondusif dari amuk massa, kemudian katakan, “Terimakasih, aspirasi masyarakat yang adik mahasiswa sampaikan, akan kami pertimbangkan.”


Lalu sudah, hingga di sana. Tindak lanjut yang dijanjikan seringkali tidak ditepati. Ketika difollow up, yang keluar hanya pernyataan, “Sedang kami proses.” Atau, “Sebentar, dik, ada urusan yang lebih mendesak.”


Atau malah, “Maaf, pak anu sedang ada urusan di luar kota.” kunjungan mahasiswa diterima petugas lain.


Itu sebagian contoh. Mungkin tidak semua alur kejadiannya menyerupai demikian. Tapi kenyataannya, banyak yang begitu.


Nah, kemudian sesudah itu apa lagi …


… apa lagi yang sanggup diperbuat mahasiswa selain turun ke jalan?


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Itulah alternatif lain yang paling mungkin dilakukan mahasiswa, bila pendengaran pemimpin kita tersumpal, maka pecahkan sekalian gendang pendengaran mereka. Agar diganti.


Tapi perlu dicatat, agresi bakar-bakaran yaitu perbuatan yang kurang tepat. Demonstrasi itu pakai seni; sanggup orasi, teaterikal, dll.


Itulah yang menjadi dasar Saya menaruh tubuh di organisasi KAMMI. Organisasi ekstra kampus yang berfokus pada isu-isu nasional-politik-pemerintahan dan memberikan solusi berupa solusi Islam.



Dijebloskan ke Jalan yang Benar


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Sebenarnya, harapan untuk mencicipi medan agresi yang disebutkan di atas, muncul sesudah Saya masuk ke dalam bulat organisasi ini.


Organisasi yang Saya ikuti alasannya yaitu dijebloskan seseorang yang begitu menginspirasi sekali perjuangannya.


Setelah mengikuti proses kaderisasi yang tidak mengecewakan panjang dan menguras hati, pikiran, bahkan air mata. Menciptakan perenungan yang mendalam bahwa, cowok dilarang santai-santai saja.


Pemuda haruslah terus bergerak. Bahkan, ketika kelelahan pun, katanya, yang mesti dilakukan cowok bukanlah beristirahat, melainkan terus bergerak.


Teruslah bergerak hingga kaki kanan berada di pelataran Surga. Sebab, dunia dan bumi dihamparkan untuk insan bertualang, buikan santai-santai kondusif dalam kandang.


Istirahat yang sebenarnya, nanti … di Surga.


Tapi akhirnya, orang yang menjebloskan Saya keluar dari organisasi alasannya yaitu harus fokus ke wirausaha dengan pertimbangan yang, berdasarkan Saya, sangat-sangat matang.


Ya sudah. Itu keputusan ia yang tidak sanggup Saya ganggu gugat.


Saya tidak ikut ia meninggalkan organisasi. Ada hal yang sudah mengikat hati Saya, yakni persaudaraan yang melibihi fatwa darah.


Sampai sekarang, meskipun Saya sudah tidak kuliah, hubungan baik itu masih terjalin. Banyak ilham yang Saya dapatkan di organisasi ini, terutama dari Kang Rijal Wahid Muharram, yang kini menjadi guru, inspirator, sekaligus abang Saya.


Seorang pendidik, musisi, trainer, dan penulis. Ini orangnya …



Beliaulah yang mengajari Saya semoga tidak mengalah pada keadaan yang sulit dan bijak menyikapinya. Setiap geraknya mengajarkan produktifitas, perkataannya menginspirasi amal nyata.


Saya beruntung.


Aktualisasi Diri


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Di KAMMI, Saya diajari perihal keikhlasan dalam berbuat, apapun. Sehingga tidak ada hal lain yang menjadi tujuan kecuali Allah swt.


Allahu Ghayatuna.


Sulit memang, ketika harus mengurangi unsur insan kita. Tapi, di situlah nikmatnya perjuangan. Saling mengembangkan bahu untuk meringankan beban. Saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.


Indahnya persaudaraan dalam bingkai Islam.


Tidak hanya itu, amalan sehari-hari Saya jadi ter-perhatikan. Puasa sunnah berjamaah tidak lagi menjadi hal yang asing. Sunnah dhuha, tahajjud, tilawah, bahkan baca buku pun kadang kala ada yang menyinggung, “Sudahkah?” katanya.


Saya juga diajari menjadi muslim yang moderat. Artinya, berjalan di tengah-tengah golongan yang berselisih paham perihal perkara-perkara kecil.


Lebih mengedepankan “Saya Islam.” tanpa suplemen apapun. Saya tidak problem dengan orang yang celananya cingkrang, menyerupai halnya perilaku Saya terhadap orang yang tidak melaksanakannya.


Toleransi sesama muslim. Saling menyayangi alasannya yaitu Allah.


Ada satu program, namanya Rumah Cerdas, kontennya yaitu pelatihan-pelatihan penunjang skill yang sanggup –in syaa Allah- digunakan di kehidupan sosial masyarakat.


Di sinilah awal mula Saya tertarik terhadap insan dan segala gerak-geriknya. Sebab dengan mempelajari ilmu perihal manusia, Saya sanggup dengan sempurna bersikap ketika berinteraksi dengan mereka.


Hal tersebut sangat Saya butuhkan. Kenapa? Agar semakin banyak yang sanggup Saya ajak pada hal-hal baik. Sampai kini Saya masih belajar. Susah sekali.


Tapi mencar ilmu itu … batas waktunya hanya liang lahat, kan?


KAMMI, organisasi yang memberi inspirasi.


Saya beruntung.


Memperjuangkan Hak Rakyat


Salah satu aktivitas KAMMI yaitu aksi. Masyarakat lebih mengenalnya dengan demonstrasi. Tidak apa-apa, sama saja.


Saya pernah beberapa kali mengikuti aksi. Entah itu agresi penggalangan dana, penolakan kebijakan pemerintah, maupun agresi dalam rangka mengingatkan pemerintah untuk membuka mata pada permasalahan Indonesia.


Aksi terbesar yang pernah Saya ikuti yaitu agresi penilaian pemerintahan rezim Jokowi – JK, pada tanggal 21 Mei 2015, di Istana Merdeka, Jakarta.


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Aksi yang digelar BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) dan organisasi ekstra kampus se-Indonesia ini berlangsung di tengah terik yang menyengat.


Tapi semangat massa agresi tidak berkurang sedikit pun. Ini yang menciptakan Saya merinding hingga sekarang.


Masih ada orang-orang yang peduli terhadap bangsa ini. Mereka rela menyerahkan segalanya demi terselenggaranya pemerintahan yang sehat; pun suasana nyaman di semua lapisan masyarakat.


Saya tidak tahu pasti, berapa ribu jumlah mahasiswa yang tiba ke Istana Merdeka ketika itu. Yang jelas, dominasi kampus di Indonesia mengirimkan perwakilannya; negeri maupun swasta. Mereka merapatkan barisan, saling berpegang erat. Menghilangkan perbedaan.


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Dan kami, dari Tasikmalaya, hanya organisasi eksternal saja yang berangkat. Perwakilan kampus tidak ada sama sekali. Duh.


Sedikit kecewa sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, pada ketika itu, alasan yang Saya tahu, pemerintahan kampusnya belum terdaftar ke BEM SI.


Anggota KAMMI Tasikmalaya sangat terbatas sekali. Maklum, di Tasik organisasi eksternal masih dianggap tabu oleh orang dalam kampus.


Jadinya banyak mahasiswa yang cari kondusif saja. Berkegiatan hingga lelah di dalam kampus, mengurusi organisasi dalam kampus, dan tentu … permasalahan kampus.


KAMMI Tasikmalaya kemudian menghubungi KAMMI Ciamis dan Garut untuk menciptakan penuh bis yang sudah disewa. Sayang, kan, kalau kosong.


Berangkat dari Tasikmalaya sekira pukul 22:00, hingga di Jakarta pagi-pagi sekali.


Masjid Istiqlal jadi daerah pemberhentian utama. Setelah shalat dan sarapan secukupnya, kami berembuk membicarakan seni administrasi dan mempersiapkan perangkat-perangkat aksi.


Spanduk, bendera, topeng, toa, dan juga pembagian-pembagian tugas; orator, korlap, danlap, dinlap, dll. Saya kurang paham.


Yang jelas, dalam barisan yang rapat kami berjalan didampingi polisi. Terdengar dari handy talkynya, ternyata starting point setiap kampus berbeda-beda.


Di Istiqlal kami bertemu dengan Universitas Lampung dan STT Telkom Bandung.


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Singkat dongeng kami long march dari Masjid Istiqlal dengan khidmat. Menujukan setiap langkah kaki yang tertapak hari itu demi tujuan mulia, saling ingat-mengingatkan dalam hal kebenaran pada pemerintah.


Salah satu tujuan mahasiswa turun ke jalan yaitu memberitahu masyarakat dan khalayak luas bahwa mereka sedang dikadali pemimpinnya.


Sebab tidak semua rakyat paham yang terjadi, mereka tahunya hanya harga pokok naik di sana-sini.


Di tengah perjalanan, nyanyian-nyanyian hati masyarakat tertuangkan dalam sebuah lirik yang, Saya rasa, semua mahasiswa mengetahuinya.


Judulnya Darah Juang. Begini.



Di sini negeri kami


Tempat padi terhampar


Samuderanya kaya raya


Tanah kami subur, tuan.


 


Di Negeri permai ini


Berjuta rakyat bersimbah luka


Anak kurus tak sekolah


Pemuda desa tak kerja


 


Mereka dirampas haknya


Tergusur dan lapar


Bunda relakan darah juang kami


Untuk membebaskan rakyat


 


Mereka dirampas haknya


Tergusur dan lapar


Bunda relakan darah juang kami


Padamu kami mengabdi


Padamu kami berjanji



Miris sekali memang. Tanah kaya raya dieksploitasi pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Terlebih lagi oleh orang asing.


Indonesia tanah surga, katanya.


Megabiodiversitas, katanya.


Jamrud khatulistiwa, katanya.


Katanya dan katanya.


 ada sebuah harapan untuk mencicipi medan agresi √ Jakarta, Ibukota Perjuangan
pict: koleksi pribadi

Maka hari itu, menggema satu lagi lagu mahasiswa di jalan-jalan Jakarta. Saya menyebutnya Halo Halo Jakarta. Begini.



Halo-halo Jakarta, Ibukota perjuangan


Halo-halo Jakarta, kota kenang-kenangan


 


Sudah usang beta, tidak berjumpa dengan kau


Sekarang telah menjadi lautan aksi!


Mari, bung, rebut kembali.



Saya beruntung mengalami hal ini. Meskipun tidak hingga tamat menjadi mahasiswa, tapi setidaknya … Saya pernah turun ke jalan membela hak rakyat yang diperkosa.



Sumber https://satriabajahitam.com