Tuesday, June 13, 2017

√ Ternyata! Perjaka Indonesia Kini Ini Dalam Pusaran Zonk Demografi, Buktinya Bikin Kaget!

 Pemuda merupakan generasi kunci kemajuan Indonesia √ Ternyata! Pemuda Indonesia Sekarang Ini dalam Pusaran Zonk Demografi, Buktinya Bikin Kaget!
Hari Sumpah Pemuda, #BeraniBersatu
Pemuda merupakan generasi kunci kemajuan Indonesia. Keberhasilan Indonesia di masa depan juga tergantung seberapa besar sumbangsih cowok dalam pembangunan nasional.

Pemuda, dalam suasana Hari Sumpah Pemuda kali ini, pembahasan wacana cowok sontak menjadi trending topik jagad maya. Tahukah kita mengenai pengertian dasar pemuda? Seringkali kita menyebutkan kata ini tetapi dalam perkembangannya belum ada definisi terang siapakah yang masuk dalam kategori pemuda. Dalam kesempatan ini, kita ambil dua dasar pengertian cowok untuk mengetahui batasannya. Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, disebutkan bahwa cowok yakni warga negara Indonesia yang berusia 16 - 30 tahun. Sedikit berbeda dengan batasan pengertian cowok berdasarkan World Health Organization (WHO), cowok merupakan penduduk berusia 10 - 24 tahun atau dalam bahasa lain disebut sebagai Young People, sedangkan penduduk yang berusia 10 - 19 dikenal sebagai remaja.

Berdasarkan dua pengertian tersebut, sanggup kita tarik benang merah bahwa cowok yakni penduduk yang berusia 10 - 30 tahun.

Indonesia sebagai negara yang kaya Sumber Daya Manusia (SDM), ada banyak potensi terpendam di dalamnya. Salah satunya yakni potensi penduduk usia produktif yang menjadi irisan penduduk tergolong cowok tadi. Penduduk usia produktif berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan penduduk usia 15 - 64 tahun. Dengan demikian, bisa ditarik titik simpul bahwa sebagian rentang cowok merupakan usia produktif.

Pada tahun 2016, BPS mencatat bahwa jumlah cowok Indonesia telah mencapai 62.061.400 jiwa. Dengan mengacu hasil proyeksi penduduk ketika itu sekitar 260.000.000 jiwa, maka sanggup dikatakan 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan pemuda. Kondisi ini tentu menunjukkan angin segar bagi Indonesia di masa depan. Apalagi, pada menjelang tahun 2025 nanti, Indonesia akan mencapai kondisi titik puncak Bonus Demografi. Menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk bisa 'mendidik' dan 'mengarahkan' generasi cowok yang masuk dalam penduduk produktif.

Bonus Demografi (BD) merupakan fenomena langka yang umumnya terjadi sekali dalam seumur hidup sebuah negara. Meski Indonesia mempunyai cowok yang berpotensi besar sebagai "mesin" pelopor kehidupan dan kemakmuran nasional, tapi perlu diingat bersama bahwa BD yakni pedang bermata dua. (bahasan Bonus Demografi bisa Anda baca di sini)

Selain sebagai peluang alias opportunity of wealth, BD juga bisa menjadi bahaya hancurnya masa depan Indonesia. Mungkin ketika ini Indonesia boleh lah menyatakan diri siap menyambut dan menggapai BD, tetapi bisa jadi justru Zonk Demografi (ZD) yang terjadi. Mengapa? Coba kita amati kenyataan yang terjadi pada cowok ketika ini.

Rasio ketergantungan Indonesia ketika ini masih sekitar 48,1 atau mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setiap 100 jiwa penduduk usia produktif menanggung beban usia non-produktif sebanyak 48-49 jiwa.

Meski demikian, pengangguran terbuka masih sebanyak 7 juta jiwa per Februari 2017 (Sakernas BPS). Dalam arti lain, tingkat ketergantungan memang rendah, namun tak semua dari penduduk usia produktif itu bisa meningkatkan nilai tambah perekonomian. Meski hasil Sensus Ekonomi (SE) 2016 Listing didapatkan ada sebanyak 26,71 juta perjuangan non-pertanian di Indonesia. Namun, kemajuan teknologi justru hanya menjadi iming-iming bagi SDM yang tersedia. Karena daya serap lapangan perjuangan terhadap tenaga kerja yang di dalamnya termasuk cowok masih minim. Kehadiran teknologi mentransformasi kebutuhan SDM bergeser pada mesin. Kalau dulu orientasi perusahaan masih padat karya, kini menjelma padat modal. Semua fungsi industri digantikan oleh mesin dan robot.

Kalau kondisinya begitu, meski generasi cowok zaman ini ditempa sedemikian rupa, alih-alih mencapai BD seolah isapan jempol belaka.

Pemuda diberikan skill sekian tinggi, malah mereka kelak akan bersaing dengan mesin dan robot yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang kuat. Di ketika mereka dipersiapkan sebagai generasi produktif, malah semua terancam zonk dan impactnya menjadi generasi yang pasif dan individualis.

Keniscayaannya, teknologi kelak bahkan mengakibatkan insan melupakan fungsi anggota tubuhnya alasannya yakni tergantikan mesin. Pemuda Indonesia yang awalnya bersiap diri meningkatkan nilai tambah suatu barang dan jasa, justru tersisa namanya saja usia produktif. Semua efek tersebut pastinya bukan cita-cita kita semua. Terlebih dengan jumlah cowok yang melimpah, keseimbangan antara demand dan supply tenaga kerja perlu dikontrol secara ketat. Belum ditambah dengan kian bebasnya persaingan pasar, cowok pembawa tongkat estafet masa depan harus dibekali kemampuan dan mentalitas prima biar bisa mengikuti perubahan zaman.

Keadaan cowok Indonesia ketika ini makin memiriskan dengan serbuan Narkoba. Pun gencarnya aksi-aksi "tak penting" sama sekali semisal demonstrasi yang tak membawa perubahan apapun bagi kemajuan bangsa. Juga akhir domino negatif internet melalui perusakan moralnya lewat tayangan p0rn*aksi dan p0rn*grafi. Otak cowok yang semula merupakan gelas kosong yang siap mendapatkan air bersih,

Justru terisi air lumpur bahkan najis. Alhasil, 2025 yang dicapai bukannya Bonus Demografi, tapi Zonk Demografi. Ini semua perlu sumbangsih tugas serta seluruh elemen bangsa untuk berpikir apa yang salah pada cowok kita, bukan mencari siapa yang salah sehingga cowok kita tak pandai, amoral bahkan tak lebih dari sekadar zombie setiap zaman.(*)
Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/