Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, July 21, 2019

√ Selamat Tiba Tahun 2011!!!

banyak jadwal, rencana, sasaran dan keinginan untuk tahun 2011. tentu setiap orang menginkan hal yang baik-baik di tahun 2011.

rencana untuk mencapai keinginan itu hanya akan menjadi bualan kosong jikalau tidak ada tindakan untuk mewujudkannya. Karena kita hidup di alam tindakan, bukan di alam rencana.

memang, mewujudkan planning biar keinginan sanggup tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap planning butuh tindakan, bertindak butuh perjuangan, usaha tanpa rasa lelah dan pantang menyerah!

MARI KITA HIASI TAHUN 2011 DENGAN KESUKSESAN!
BISMILLAH...

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Saturday, July 20, 2019

√ Ingat Mati, Dan Berbahagialah!

Setiap hembusan nafas mendekatkan kita pada simpulan hayat √ Ingat Mati, dan Berbahagialah!
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, kita lalui. Seiring berjalannya waktu, semakin renta kita, semakin erat simpulan hayat kita.
Setiap hembusan nafas mendekatkan kita pada kematian. Pada hakikatnya kita berlari menjauh dari dunia ini dan berlari mendekat menuju akhirat.

Hari-hari kita di dunia, kita gunakan untuk mengejar harta dunia yang tidaklah kekal. Mobil, rumah, uang, itulah yang dicari oleh hampir semua insan di bumi. Apakah mereka tahu, jikalau semua harta dunia itu tidaklah dibawa ke liang kubur? Di kubur kita dihimpit oleh sempitnya liang kubur, gelap tak ada cahaya yang masuk alasannya yaitu tertutup tanah. Di dalam kubur sendirian, tiada seorangpun yang menemani. Ya, hanya amal perbuatan di dunia yang menemani. Mobil, rumah dan uang berlimpah tak kan ada guna. Dunia itu fana. Akhirat itu kekal.

Setelah mati, semua amal perbuatan akan dibalas oleh-Nya. Perbuatan baik, akan mendapat tanggapan yang baik. Amal perbuatan jelek sewaktu di dunia akan dibalas dengan siksa yang pedih di akhirat.

Duh, seandainya semua insan tahu bahwa harta dan kekayaan dunia tidak ada gunanya di alam abadi kelak. Berbuatlah baik wahai, manusia! Ingat, setiap perbuatan sekecil apapun akan mendapat balasan.

Berbuat sepakat terhadap sesama, alasannya yaitu akan menjadi hadiah yang indah di alam abadi kelak. Janganlah bermaksiat, alasannya yaitu siksa atas maksiat itu sungguh pedih. Beramallah dengan penuh harap! Jauhilah maksiat alasannya yaitu takut akan siksa-Nya! Laluilah hidup ini dengan penuh semangat, ingat mati maka engkau akan senang di dunia!

photo from: santrimudimesra.blogspot.com
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Friday, July 19, 2019

√ Ujian Final Semester Yakni Peperangan

 Ujian selesai semester menurutku sama dengan perang √ Ujian Akhir Semester Adalah Peperangan

Ujian selesai semester menurutku sama dengan perang. Perang membutuhkan kesungguhan untuk memenangkannya. Agar sanggup menang, segala sesuatu harus dipersiapkan. Persiapan matang dan usaha ketika perang berlangsung memilih hasil peperangan.

Ada beberapa faktor teknis yang harus dipersiapkan:
1. Persenjataan
Persenjataan disini mencakup catatan, buku, alat tulis dan lain-lain yang sekiranya berkhasiat untuk mengerjakan soal.
2. Harus tahu musuh yang dihadapi
Musuh disini diartikan sebagai soal-soal yang harus dikerjakan. Kita harus tahu materi-materi semoga mngetahui musuh yang dihadapi
3. Strategi peperangan
Setelah kita mngetahui benar karakteristik soal yang akan dihadapi, langkah selanjutnya yakni memilih cara untuk mengalahkan musuh tersebut.

Adapun faktor-faktor nonteknisnya adalah:
1. Menghadirkan semangat jihad
Jihad mempunyai arti bersungguh-sungguh. Ini memperlihatkan bahwa kita harus bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan dan menjalani proses peperangan.
2. Menikmati proses peperangan
Bagaimanapun wujud musuh kita, bagaimanapun beratnya menghadapi musuh kita. Kita harus menikmati proses peprangan. Nikmati detik demi detik menit demi menit, jam demi jam, yakinlah anda sanggup mengalahkannya.nikmati prosesnya jangan berorientasi pada hasil.
3. Senantiasa mengoreksi niat
Berniat alasannya yakni Allah baik diawal di tengah maupun di akhir. Niat sanggup memperlihatkan energi luar biasa bagi kita. Apalagi niat alasannya yakni Allah, insyaAllah peperangan akan berlangsung gampang dan berakhir indah.

Ingat! Jangan Nyontek! lebih baik kesannya jelek tanpa menyontek daripada berhasil baik tapi hasil dari menyontek...
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Wednesday, July 17, 2019

√ Kenapa Harus Mendukung Indonesian Premiere Leguae (Ipl)?

 Ada beberapa hal yang melatar belakangi mengapa aku pro √ Kenapa Harus Mendukung Indonesian Premiere Leguae (IPL)?

Ada beberapa hal yang melatar belakangi mengapa aku pro/ mendukung IPL, karena:
1. Tim tim yang berlaga di IPL tidak memakai APBD
2. Sebagai wadah gres untuk menyalurkan talenta dan minat anak bangsa
3. Bila berjalan seiringan dengan ISL, maka dapat:
- persepakbolaan di Indonesia lebih kompetitif
- meningkatkan perekonomian rakyat
- membuka lapangan perkerjaan baru

Salah satu tujuan PSSI ialah untuk memajukan persepakbolaan di Indonesia. Kalo memang itu tujuannya, kenapa PSSI melarang IPL bergulir????
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Tips Menciptakan Video

Adapun beberapa tips yang insyaAllah berkhasiat dalam pembuatan video.
Yang pertama memilih tujuan, Membentuk crew dan merencanakan tahapan produksi.

Crew
Terdiri dari:
1. Kepala Produksi
2. Sutradara
3. Aktor
4. Editor
5. Presenter
6. Penyunting naskah
7. Kostum
8. Kameramen

Tahapan pembuatan video
1. Pra-produksi
a. Penentuan Tema dan judul
b. Pengembangan skenario
c. Pembuatan naskah
2. Produksi
a. Proses pengambilan gambar
3. Paska-produksi
a. Pengolahan video
b. Distribusi file+cd
c. Laporan tertulis
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Tuesday, July 16, 2019

√ Perubahan Itu...

sebelum merubah dunia, rubahlah negaramu dahulu, sebelum merubah negara, ubahlah daerahmu, sebelum merubah daerahmu, ubahlah desamu, sebelum merubah desamu ubahlah keluargamu. sebelum merubah keluargamu, ubahlah dirimu!!!
Memang, sebelum merubah orang lain, kita harus merubah diri kita sendiri.

Merubah diri sendiripun ada tahap-tahap atau langkah-langkahnya, yaitu:
1. merubah cara pandang
kita harus bisa merubah cara pandang kita terhadap sebuah masalah, CHANGE OUR THINGKING, CHANGE OUR LIFE!!!
2. Merubah penguasaan ilmu kita
maksudnya, kita harus selalu menyebarkan kemampuan otak kita dengan mempelajari banyak sekali ilmu.
3. Bertindak
Ilmu hanya sanggup menjadi kekuatan, jikalau kita sanggup mengelolanya menjadi tindakan dan jadwal yang nyata. Tindakan merupakan FAKTOR PAMUNGKAS untuk mengubah ilmu menjadi kenyataan!!!

MARI BERUBAH MENUJU SESUATU YANG LEBIH BAIK!!!!
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Sunday, July 14, 2019

√ Menyontek Keteladanan

 Belum usang ini terbongkar kasus mencontek massal yang didalangi oleh oknum guru √ Menyontek Keteladanan
Belum usang ini terbongkar kasus mencontek massal yang didalangi oleh oknum guru. Miris memang mendengarnya, seorang guru yang seharusnya mendidik murid-muridnya, akan tetapi malah menyuruh bawah umur didiknya untuk mencontek dikala Ujian Akhir Nasional. Kasus ini terbongkar sehabis salah satu murid dan ibunya melapor ke pihak yang berwenang.

Sontak sehabis kasus ini terbongkar, mata dari seluruh penjuru tanah air tertuju kepada ibu dan anak yang mempunyai keberanian untuk membongkar kasus contek massal ini. Konsekuensi dari pembongkaran ini pun sangat berat, mereka dicemooh, dikucilkan bahkan diusir dari lingkungannya. Ironis memang ketika kejujuran tak lagi bermakna. Inilah bencana kejujuran yang terjadi. Seharusnya, seorang guru tahu bahwa mencontek bertentangan dengan tujuan pendidikan.

Bukankah tujuan dari pendidikan itu ialah merubah tingkah laku? Bukankah pengertian dari pendidikan ialah merubah anak yang belum cukup umur menjadi anak yang dewasa? Dalam kasus mencontek massal ini, cukup umur yang menyerupai apa yang dimaksud itu? Apakah seorang cukup umur yang akil mencontek dan lihai menipu? Kalo iya, tak salah apabila kita menjadi negara yang tingkat korupsinya sangat tinggi.

Memang pengertian mencontek apabila dicari dalam kamus besar bahasa Indonesia pastilah tidak ditemukan. Secara tidak eksklusif kata mencontek ditemukan dalam kata menjiplak. Menjiplak yaitu tindakan mencontoh atau menggandakan pekerjaan orang lain(tulisan, karya orang, dll). Menjiplak dan menyontek identik dengan menipu alasannya karya orang lain diatasnamakan dirinya.

Salah satu penyebab “dihalalkannya” mencontek ialah ketidakfahaman makna pendidikan itu sendiri. Menurut Langeveld, pendidikan ialah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang cukup umur kepada anak yang belum cukup umur untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan. Yang dimaksud dengan cukup umur ialah sanggup bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara pedagogis, biologis, psikologis dan sosiologis(Drs. Achmad Munib, S.H,M.Si).

Sulit memang kalau ingin mencetak generasi muda yang cukup umur apabila orang-orang disekitarnya tidak bertanggung jawab. Ketika ada oknum guru yang menyuruh anak didiknya bertanggung jawab akan tetapi ia menyuruh anak didiknya mencontek. Kesulitan pun bertambah dikala mencari tokoh teladan yang bertanggung jawab, apakah pejabat yang suka korupsi sanggup dijadikan teladan sebagai tokoh yang bertanggung jawab? Yah, setidaknya ada satu orang yang dikala ini sanggup dijadikan teladan bagi kita. Ia bukanlah pejabat bukan pula seorang konglomerat. Akan tetapi ia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mengajarkan kepada kita untuk menjadi seseorang yang berani dan bertanggung jawab. Ya, Ibu Siami namanya, seorang ibu rumah tangga yang mengajak putranya untuk membongkar kasus mencontek massal.

Sebenarnya kelak di lalu hari kita tidak akan kesulitan mencari sosok teladan apabila kita mau menjadi seseorang yang cukup umur dan bertanggung jawab. Mari kita canangkan kegiatan 3M kepada diri kita sendiri, yaitu memulai dari hal-hal kecil, memulai dari diri sendiri dan memulai dikala ini juga. Kita jadikan momentum Ujian Akhir Semester ini untuk memperbaiki diri semoga dikemudian hari kita sanggup dijadikan teladan bagi anak-cucu kita. Silahkan contek keteladan ibu siami!

Biodata Penulis
Nama:
NIM: 1401410099
Jurusan/ Fakultas/ Universitas: Pendidikan Guru Sekolah Dasar/ FIP/ UNNES
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Saturday, July 13, 2019

√ Refleksi Setengah Perjalanan: Nyanyian Sebagai Ujian Ketotalitasan Demi Pembuktian Sebuah Komitmen!

 Sebuah nyanyian yang digubah dari lagu netral yang berjudul Garuda di Dadaku √ Refleksi Setengah Perjalanan: Nyanyian sebagai ujian ketotalitasan demi pembuktian sebuah komitmen!


“Garuda maju di HIMA
Bukan karna ingin kuasa
Tapi karena
Hanya ingin tuk mengabdi”


Sebuah nyanyian yang digubah dari lagu netral yang berjudul Garuda di Dadaku.
Sebuah lagu yang pertama kali dinyanyikan ketika kampanye dialogis yang menjadi salah satu program rangkaian acara pemilihan mahasiswa raya PGSD 2010 untuk menentukan pimpinan tertinggi hima 2011.
Sebuah lagu yang menjadi jargon kampanye salah satu pasangan calon ketua dan wakil ketua HIMA PGSD 2011. Ya itulah jargon pasangan garuda, galih karo huda.
Sebuah lagu yang yang diciptakan dengan makna yang begitu dalam alasannya yakni mengandung niatan dan tujuan kami. Ya, “kita maju di Hima untuk mengabdi dan melayani, Da!” itulah rangkaian kata yang ditawarkan dan menciptakan saya setuju maju mendampingi mas galih suci pratama.
Mungkin pencalonan ku menjadi sebuah tanda Tanya besar, diragukan sehingga banyak yang meremehkanku. Akupun mencicipi hal itu alasannya yakni saya hidup di lingkungan PGSD gres 5bulan dan terasa “kewanen”. Akan tetapi alasannya yakni kepercayaan mas alih dan dukungan teman-teman, saya tetap emberanikan diri untuk tetap berdiri untuk mendampingi mas galih. Aku berdiri alasannya yakni sesuatu yang penting, ada yang lebih penting dari hanya sekedar mewakili individu atau kelompok tertentu. Aku berdiri disini alasannya yakni sesuatu yang paling penting, yaitu untuk mencari ridha Allah SWT. Sehingga, saya berdiri disana dan melaksanakan semua ini harus dilakukan atas dasar keikhlasan.
Dua sesudah lagu itu dikumandangkan untuk pertama kalinya di bumi PGSD, maka PGSD menentukan dan kamipun menjadi pasangan terpilih dengan selisih bunyi yang cukup besar. Sejak ketika itu, akad dan totalitas kami untuk mengabdi diuji. Aku pun memohon kepada Allah SWT semoga tetap diberi petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan amanah ini, sehingga akad dan totalitas kami sejalan dengan jalan Allah yang luas dan lurus. Dan pada kesudahannya saya berharap kami sanggup melanyani teman-teman PGSD dengan baik.

Hidup ini berubah
Selang beberapa waktu, alasannya yakni kegiatanku semakin banyak, bertahap hidupku berubah. Waktu tidurku berkurang, waktu bahu-membahu dengan sahabat seangkatanku semakin sedikit, referensi makanku tak teratur, pengeluaran bertambah sehingga untuk mengatasi hal tersebutaku mengurangi uang jatah makanku. Dan pada kesudahannya saya lebih akrab dengan cacing-cacing alasannya yakni perut ini jarang diisi.
Aku pun sadar. Memang dalam meutuskan dan melaksanakan sesuatu ada akhir yang harus ditanggung. Akupun mencoba menanggung akhir itu. Aku mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Aku pun menciptakan jadwal untuk memanage waktu semoga kehidupanku kembali seimbang.
Akan tetapi penjadwalan itu tak bisa berbicara banyak, jadwal banyak berubah alasannya yakni harus menyesuaikan dengan kegiatan-kegiatan yang harus diikuti, dihadiri dan dilaksanakan. Akupun sadar bahwa jadwalku kini dijadwal oleh orang banyak, inilah jadwal social! Inilah kerja social!
Kehidupan yang berubah alasannya yakni kerja social, mengakibatkan banyak pengorbanan. Berkorban waktu, kulian, kawasan tinggal, pikiran, harta dan teman. Semua itupun bisa saya terima alasannya yakni saya sadar bahwa inilah sebuah konsekuensi logis bila saya benar-benar ingi mengabdi!

Korban Tempat Tinggal dan sahabat seperjuangan!

Mengorbankan kawasan tinggal dengan meninggalkan kosku yang usang dan tinggal di PKM. Dari sana saya meninggalkan sebuah keluarga tentara yang kecil namun terlihat senang dan meninggalkan teman-teman seperjuangan, sahabat kos yang bisa menenangkan hatiku ketika galau, menyenangkan hatiku ketika saya merasa suntuk, dan bisa menghiburku ketika saya sedih. Tapi sekali lagi,, saya tidak meninggalkan kalian alasannya yakni menyerupai anggapan kebanyakan orang bahwa seseorang akan lupa dengan sahabat usang sesudah ia mendapat sahabat baru. Akan tetapi saya masih mengingat kalian, mengingat saat-saat bersama kalian, menghabiskan waktu untuk bercanda dan tertawa bersama(nice experience with you, my brothers!).
Sadarlah teman-teman, inilah tuntutan seseorang bila ingin amanah yang diembannya sanggup diselesaikan dengan baik. Ia harus mencurahkan semuanya, berfikir sungguh-sungguh dan melaksanakan sesuatu dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Sekali lagi, saya tidak mau melupakan kalian, apalagi meninggalkan kalian. Kita masih bisa menghabiskan waktu bersama, tapi dengan perencanaan yang matang dan diagendakan jauh-jauh hari. Ayo, ke pantai lagi, ayo kita lakukan kegilaan-kegilaan itu lagi!!!

Korban barang berharga
Dalam menjalankan kiprah guna menuntaskan amanah ini, tak jarang saya harus mengorbankan diri untuk tidak makan, semoga uang saku bisa digunakan untukmenjalankan, memenuhi seruan dan menjadi delegasi perwakilan di luar jurusan. Bukan hanya hal itu, mengorbankan barang berharga bukanlah hal yang absurd lagi bagiku. Menjual barang hingga barang dicuri pernah saya alami dalam menjalankan kiprah dari teman-tean PGSD ini.
Sebenarnya tak problem apabila barang itu hilang. Akan tetapi ada kekecewaan tersendiri apabila barang tersebut hilang dicuri. Pencurinya pun seseorang yang ada di sekitar kita, entah siapa, entah ia mengakui saya sebagai temannya apa bukan. Yang saya tahu, seorang sahabat tak akan mengambil barang milik temannya tanpa ijin, alian MENCURI! Barang yang dicuri pun beragam, satu hape, uang saku dari orang tua, kehilangan STNK motor pinjaman hingga charger netbook dan hapeku hilang tak berbekas!

Apakah Pencuri mengaku beriman dan butuh teman?
Barang berharga yang menjadi hartaku untuk hidup di rantau orang pun kesudahannya hilang dicuri orang. Satu hape sudah saya ikhlaskan pada bulan Maret lalu, ketika saya masih awal-awal tinggal di PKM. Sempat tidak terima dengan bencana ini, saya coba sadarkan diri dengan meikhlaskan diri dan membeli hape dengan tipe yang sama(jika malingnya baca: harga hapenya 180rb. Murah to, ling? :P). Memang semenjak awal kehilangan hape ini saya tidak menawarkan rasa sedihku, frustrasiku bahkan depresiku. Karena saya tahu, apabila saya mengalami hal-hal menyerupai itu, sang pencuri niscaya akan puas dan senang atas apa yang diperbuatnya terhadapku.
Pengorbanan harta berharga pun berlanjut, tepatnya pada tanggal 15Juli 2011 saya menjadi korban pencurian lagi. Kali ini, uang saku Rp 250rb, STNK motor pinjaman dan charge laptop dan charger Hape yang dicuri. Padahal sekitar 2,5minggu yang kemudian saya gres saja kehilangan sepeda motor ketika digunakan oleh kedua orang tuaku sholat shubuh di masjid.
Kejadian ini berawal pada hari Kamis, 14 Juli 2011 Malam sesudah saya berdiskusi dengan beberapa rekan terkait dengan pelaksanaan acara orientasi mahasiswa gres PGSD. Diskusi tersebut berakhir sekitar jam sebelas malam, kemudian saya keluar ke ujayNet untuk ngeprint kiprah seni drama dan tari. Setelah itu mengantar kiprah tersebut ke kos seorang sahabat yang baik hati, Ahmad Bukhori, Nuki, Wisnu dan Fadly. Sekitar pukul 12 malam saya pulang dari kos mereka.
Sesampainya di PKM saya tidak pribadi tidur akan tetapi menaruh tas yang berisikan dompet dan menmpatkan laptop dan hape diatas meja kerja HIMA kemudian mengerjakan Standar Operasional Proseduran Orentasi Mahasiswa Baru PGSD. Sampai pukul 2 dini hari, saya merasa kantuk dan lelah alasannya yakni seharian menjalani aktifitas yang sangat padat, saya tetapkan untuk tidur. Aku lepas charger hape dan laptop, saya bawa hape dan netbookku ke dalam lemari, tanpa membawa charger dan tas yang berisi dompet tadi. Aku pun tertidur di balik almari dan membelakangi meja kerja hima. Tidur dibalik almari yang menjadi pebatas ruang menciptakan diriku tidak sanggup melihat meja kerja HIMA.
Keesokan harinya, Karena tidur terlalu larut, saya bangkit sedikit siang. Setelah bangkit saya pun segera membersihkan diri dan sholat shubuh. Tak lama, ketika jam menawarkan pukul setengah delapan pagi saya merasa lapar. Lalu saya putuskan untuk pergi makan. Aku ambil dompetku akan tetapi saya dapati dompetku yang berisi uang saku tinggal seribu rupiah. Aku pun pribadi berteriak dan menginformasikannnya pada penghuni PKM yang lain. Ternyata mas Budiyanto juga kehilangan sejumlah uang. Gila! Ada pencuri!
Siang hari jumat tanggal 15Juli, sesudah bencana encurian itu dan sesudah mengerjakan UAS dengan penuh emosi dan kurang konsentrasi, saya putuskan untuk berangkat sholat jumat lebih awal, saya menggunakan sandal dan memakainya menuju ke masjid di Beringin Asri. Disana Alhamdulillah sesudah mendengarkan khotbah dan sholat jumat saya mendapat ketenangan hati. Akan tetapi ketenangan hati itu tidak berlangsung usang alasannya yakni saya ketahui bahwa sandal Rei kesayanganku tidak ada di teras masjid. Hilang lagi, mencoba untuk tulus dan sabar..
Sore hari saya putuskan diisi dengan acara merefresh pikiran. Aku putuskan untuk jalan-jalan ke luar. Akan tetapi sesudah saya lihat di dompet dan mencarinya di sekitar PKM, saya tidak menemukan STNK motor pinjaman dari bulikku ini. Dari sore hingga malam, saya terus berusaha mencarinya. Sampai pada kesudahannya saya terjatuh dan tiba-tiba sudah pagi.
Pagi hari sabtu tanggal 16 Juli saya telepon orang tuaku dan Alhamdulillah mereka tidak mempermasalahkanya walaupun pada awalnya sedikit tidak bisa terima alasannya yakni itu hanyalah motor pinjaman yang seyogyanya dijaga dan dirawat dengan baik. Akhirnya suasana di hatiku sedikit terkendali lagi.
Akan tetapi jelang siang saya ketahui ternyata charger hae dan charger netbookku tidak ada, wah hlang lagi nih, batinku dalam hati. Sedikit emosi tapi sanggup dikendalikan alasannya yakni ada tunjangan dari Allah SWT. Alhamdulillah, ikhlaskan saja, insyaAllah sanggup ganti yang lebih baik.
Setelah kehilangan banyak hal saya pun sadar bahwa semua akan kembali pada-Nya melalui apa saja. Entah kembali dengan jalan yang masuk akal maupun dengan pencurian. Aku sadar juga bahwa semua ini hanya titipan dari Allah yang cepat atau lambat akan kembali juga kepada pemiliknya sesungguhnya, yaitu kembali kepada Allah SWT.

Pesan Untuk Pencuri
Pada akhirnya, saya analisis pencurian yang terjadi di PKM, yang menjadikan saya kehilanagn hape, uang, stnk dan charger serta menjadikan mas kebijaksanaan kehilangan sejumlah uang pelakunya yakni sama. Pencuri tersebut melaksanakan gerakan yang sama yaitu di pagi hari.
Sadarlah wahai pencuri, saya yakin engkau meyakini akan adanya Tuhan, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka sadarlah, setiap tindakan niscaya akan mendapat balasannya. Perbuatan jelek akan mendapat siksa, baca Albaqarah ayat 268!!!
Sekali lagi kepada pencuri, sadarlah. Aku tetap berharap engkau mendapat petunjuk dari Allah SWT dan mengmbalikan apa yang engkau curi kepada yang berhak. Kalau tidak, silahkan duduk manis dan tunggu PEMBALASAN dari Tuhanku, Tuhan orang-orang Beriman!

Kemudian Aku….
inilah yang saya alami selama hampir setengah tahun terakhir, memang banyak kerugian dan pengorbanan, akan tetapi Bila Allah SWT mengijinkan, saya akan tetap disini, hingga amanah ini terselesaikan, hingga semua tanggung jawab tertuntaskan, dan hingga teman-teman mahasiswa terlayani, terfasilitasi dengan baik. Semoga saya menjadi sosok yang mempunyai kegunaan bagi kalian, orang banyak dan Agamaku. Inilah komitmenku. Semoga Allah selalu memberi kekuatan dan menawarkan jalanNya kepadaku.
Jangan dikira saya duduk manis dan enak-enakkan disini. Disini saya berfikir, merenung dan bertindak semoga PGSD menjadi jurusan yang diperhitungkan. Mari kita bahu-membahu melangkah maju semoga PGSD benar-benar JAYA!
Dan pada kesudahannya saya sadar, inilah konsekuensi yang harus saya alami dan saya jalani sesudah menyanyikan lagu gubahan itu ketika Pemira PGSD. Allah sedang menguji akad dan kesabaranku. InsyaAllah saya akan berusaha untuk memenuhi akad ini dengan kesungguhan dan ketotalitasan. Inilah ceritaku, komitmenku, dan ketotalitasanku ketika ini. Semoga semakin baik!


Mahasiswa angkatan 2010
PGSD FIP UNNES
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Pemimpin: Bagaikan Ombak...

Suatu ketika ada sekelompok mahasiswa yang mendapat tugas. Tugas tersebut mengharuskan mereka untuk saling bekerja sama, memutuskan sesuatu bahu-membahu dan bertindak bersama-sama. akhrnya untuk menuntaskan kiprah tersebut mereka berkumpul.

Ketika ditanyai bagaimana kelanjutan dan penyelesaian kiprah ini? mereka saling melempar tanya. Dan kebanyakan dari mereka menjawab "manut" atau ngikut saja. Terjadilah kebuntuan diantara mereka. Sehingga pertemuan kelompok itu tidak menghasilkan apa-apa, tidak memutuskan apapun. Dan pada akhirnya, kiprah kelompok itu pun terbengkelai.

Sebenarnya inti dari pemasalahan sekelompok mahasiswa di atas ialah tidak adanya sosok pemimpin. Apabila sosok pemimpin tersebut ditemukan, permasalah saling "manut" sanggup terselesaikan. Diperlukan sosok pemimpin yang bisa memotivasi, cerdas dalam memutuskan sebuah pilihan dan mengatasi permasalahan, serta bisa menggerakkan orang-orang disekitarnya biar sanggup menuntaskan kiprah tersebut dengan baik.

Pemimpin itu bagaikan ombak yang sanggup menggerakkan pasir. Pasir hanya akan diam, tidak bergerak apabila tidak ada yang menggerakannya. Saat ombak menyapu, pasir tersebut akan bergerak sesuai dengan arah kemana ombak tersebut bergerak.

Begitu pula dengan pemimpin. Pemimpin akan bisa menggerakkan yang dipimpinnya bagaikan ombak yang mengerakkan pasir. Pemimpin sanggup menggerakkan yang dipimpin kemanapun sesuai dengan keinginannya, menyerupai pasir yang bergerak sesuai dengan arah ombak itu mengalir. Ya, pemimpin itu bagaikan ombak...

Tapi, menjadi pemimpin tak boleh takabur. Karena ombakpun bergerak alasannya adanya gravitasi. Gravitasi ini jika dianalogikan sanggup diartikan sebagai Allah SWT yang menggerakkan semua yang ada, termasuk pemimpin itu. Pemimpin bergerak alasannya ada kekuatan dan imbas dari Allah SWT...


Suatu ketika ada sekelompok mahasiswa yang mendapat kiprah √ Pemimpin: Bagaikan Ombak...
Sebuah ilham dari

ketika melihat ombak di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. 23 Juli 2011...
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Friday, July 12, 2019

√ Faktor Penunjang Cumlaude!

Mahasiswa berguru di perguruan tinggi tinggi untuk mendapat ilmu √ Faktor Penunjang Cumlaude!
Mahasiswa berguru di perguruan tinggi tinggi untuk mendapat ilmu. Berdasarkan sistem pendidikan yang diterapkan, keberhasilan berguru mahasiswa dalam menuntut ilmu ditunjukkan dalam bentuk nilai. Sehingga tak jarang orang menganggap mahasiswa yang memperoleh nilai tinggi yaitu mahasiswa yang cerdas, sedangkan mahasiswa lain yang mendapat nilai rendah yaitu mahasiswa yang tidak berhasil. Karena paradigma ibarat inilah, nilai terkesan segala-galanya.

Orang renta pun terkesan menuntut anaknya untuk mendapat nilai tinggi, padahal pada kenyataannya nilai belum bisa merefleksikan kemampuan si anak. Terkadang mahasiswa cerdas memperoleh nilai buruk alasannya yaitu faktor-faktor x dan bukan alasannya yaitu penguasaan ilmunya yang kurang.
Setiap mahasiswa niscaya ingin memperoleh nilai yang baik. Dan bagaimanapun, mahasiswa niscaya tidak akan menolak ketika ia mendapat nilai tinggi. Dan pada hasilnya nilai cumlaude menjadi dambaan mahasiswa.

Cumlaude menjadi dambaaan alasannya yaitu tidak setiap mahasiswa bisa meraih predikat ini. Sebutan cumlaude disematkan ketika Indeks Prestasi mahasiswa >3,50, tentu IP dalam kisaran 0 hingga 4,00. Salah satu laba memperoleh nilai cumlaude yaitu sanggup mengambil 24 SKS di semester depan. Pengambilan SKS yang maksimal(24 SKS) sanggup mempercepat masa studi dan mengurangi beban kuliah di semester akhir.

Karena banyaknya laba yang diperoleh, mahasiswa sebelum mengawali perjalanan mengarungi semester selanjutnya, biasanya mereka memasang sasaran Indeks Prestasi yang ingin diraih. Terkadang ada pula yang takut untuk memasang sasaran tinggi, padahal memasang sasaran merupakan sebuah keharusan. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan apabila kita memperhatikan faktor-faktor yang sanggup menghipnotis nilai(indeks prestasi).

Adapun faktor-faktor yang perlu diingat ketika memasang sasaran cumlaude di simpulan semester selanjutnya, yaitu:

1. Memilih dosen
Pemilihan dosen untuk mengampu mata kuliah tertentu sangatlah kuat terhadap proses perkuliahan selama satu semester. Walau bagaimanapun dan sepait apapun, ketika ini dosen masih menjadi sosok yang berkuasa dan cenderung menjadi satu-satunya sumber ilmu yang wajib dibenarkan.
Ketika kebanyakan dosen sudah berlaku diktatorial ibarat itu. Kita cari dosen yang mau mengenal mahasiswa, terbuka, ramah, tidak pelit nilai dan tidak suka memblacklist mahasiswa tertentu.

Dosen yang ibarat itulah dosen yang kita perlukan. Apabila dosen mau mengenal mahasiswa, maka apabila suatu ketika nanti mahasiswa tersebut bermasalah niscaya ada yang membela. Pun ketika dosen sudah mengenal mahasiswa, niscaya ia tidak tega memberi nilai buruk kepada mahasiswa yang dikenalnya.

Kiat perhiasan ketika menentukan dosen, kenali secara utuh dosen yang mengampu mata kuliah 3SKS. Hal ini penting mengingat 3SKS sanggup kuat besar terhadap Indeks Prestasi. Bila nilai 3SKS ini baik, maka sanggup mengangkat IP. Akan tetapi apabila nilainya buruk, maka sanggup menjadi kerikil sandungan untuk kita.

2. Penampilan Diri
Terkadang mahasiswa cenderung hambar terhadap penampilannya di depan dosen. Tak jarang juga ada mahasiswa yang tampil tidak rapi dan terkesan tidak sopan. Ketika situasi ibarat ini, dosen niscaya akan menciptakan catatan khusus terhadap mahasiswa yang tidak memperhatikan penampilan dirinya.

Seharusnya, setiap mahasiswa yang berkeinginan untuk mendapat IP tinggi memperhatikan penampilannya. Penampilan itu terdiri dari busana yang digunakan dan model rambut yang diterapkan. Busana yang digunakan tak perlu baru. Akan tetapi busana yang digunakan itu bersih, rapi, dan menggunakan pakaian yang harmonis warnanya.
Untuk model rambut diusahakan rapi dan tidak gondrong. Rambut selalu dijaga kebersihannya. Selalu disisir dan tidak awut-awutan.

Percaya atau tidak, penampilan diri kuat pada evaluasi dosen terhadap anda. Penampilan diri merupakan implikasi dari pendidikan huruf yang ketika ini sedang dibesar-besarkan. Karena masih ada keyakinan bahwa kekuatan diri terletak pada penampilan diri dan apa yang keluar dari mulutnya(Ajining dhiri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana). Saran yang sanggup dilakukan, tampillah serapi mungkin dan jaga setiap omongan yang keluar dari mulut!

3. Kedekatan dengan Dosen
Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa dosen yaitu pemegang otoritas tertinggi dalam menilai mahasiswa. Oleh karenanya tidak ada salahnya kita mencoba untuk mendekatkan diri pada bapak/ ibu dosen. Cara-cara yang sanggup dilakukan adalah: mematuhi apa yang diperintahkan, jarang membantah di depannya, memberi salam ketika bertemu, bersilaturahmi ke rumahnya, meminta waktu diluar jam kuliah untuk berdiskusi, dan lain-lain.

Mungkin cara-cara di atas kurang optimal bila dosen yang bersangkutan sibuk dan jarang bertatap muka dengan mahasiswa di ruang kuliah. Ada satu cara jitu untuk mendekati dosen ketika dosen jarang masuk, yaitu jadilah pelopor mahasiswa!

Aktivis mahasiswa niscaya akan dimintai oleh pihak jurusan untuk menjadi delegasi atau terlibat dalam acara jurusan maupun fakultas. Mungkin ketika terlibat dalam acara jurusan atau fakultas itu kita dituntut untuk bekerja sama dengan dosen dan saling bantu membantu dalam menuntaskan kiprah kegiatan. Di saat-saat ibarat inilah mahasiswa pelopor sanggup “PDKT” dengan dosen yang bersangkutan.


4. Keaktifan di Kelas dan Kegiatan mata kuliah
Keaktifan di kelas pun menjadi faktor penting untuk mendongkrak nilai anda. Perilaku aktif yang paling sederhana yaitu bertanya. Memang diakui apa tidak, bertanya yaitu sesuatu hal yang mudah. Cara untuk menciptakan sebuah pertanyaan yaitu menyebarkan konsep 5W+1H.

Tingkatan selanjutnya yaitu menambahkan pendapat kita terhadap materi perkuliahan yang sedang diuraikan. Penambahan pendapat ini harus mempunyai dasar teori yang terang dan dikaitkan dengan materi yang sedang diuraikan serta sanggup dikaitkan juga dengan realita kehidupan yang terjadi. Agar pendapat kita selalu diperhitungkan dan mempunyai dasar teori yang kuat, rajin-tajinlah membaca!

Hendaknya pula kita aktif dalam setiap acara di luar kelas yang ada kaitannya dengan proses perkuliahan. Misal ada mata kuliah yang mengharuskan pengambil mata kuliah tersebut untuk menciptakan sebuah seminar(mis.filsafat ilmu) atau pagelaran(mis. mata kuliah tari). Bila ada kegiatan-kegiatan ibarat di atas, ada baiknya kita ikut dalam kepanitian acara tersebut. Biasanya dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan menawarkan nilai yang cukup baik kepada panitia yang sudah berjuang untuk mensukseskan acara tersebut.

5. Presensi
Semua akan berakhir sia-sia ketika presensi kita kurang dari 75%. Apabila presensi tidak memenuhi, nama kita tidak akan muncul sebagai penerima ujian simpulan semester. Bila keadaan sudah demikian kita harus rela mendapat nilai yang kurang memuaskan bahkan bisa jadi tidak mendapat nilai.

Ada pula dosen yang menghargai sekali presensi. Sampai-sampai apabila ada mahasiswa yang tidak berangkat kuliah dua kali saja, nilai maksimalnya bermetamorfosis AB. Ketika ditanya alasan mengapa tidak bisa mendapat nilai maksimal A yaitu alasannya yaitu ada presensi yang bolong dan mahasiswa tidak bisa mendapat nilai maksimal(Apakah anda setuju dengan kebijakan ibarat ini?).

Yaahh, lagi-lagi mahasiswa terjebak dalam kekuasaan dosen, namun hal itu tak menjadi duduk masalah ketika mahasiswa bisa menghadapinya. Caranya, berangkat kuliah yang rajin, tetap berangkat walaupun hanya membisu saja dan hindari tiba terlambat.

Tapi bagaimana bila kita tidak bisa berangkat? Carannya ada, dan sudah terbukti. Saya sudah menunjukan sebuah cara yang sanggup memaksimalkan presensi padahal tidak berangkat. Tetapi maaf, cara ini hanya untuk kalangan sendiri(maaf ya, hihihi)

6. Tugas
Seringkali ada dosen yang menawarkan kiprah yang banyak kepada mahasiswa. ada pula mahasiswa yang ogah-ogahan mengerjakan tugas. Setelah ogah-ogahan, biasanya kiprah terbengkelai dan tidak tuntas.

Berdasarkan pengalaman, jangan hingga kita meremehkan tugas. Tugas menjadi salah satu materi pertimbangan untuk menawarkan nilai kepada mahasiswa. Jangan hingga kita tidak mengumpulkan tugas. Kalau tidak bisa mengerjakan kiprah dengan baik, gunakan prinsip “asal numpuk”.
Satu lagi, kalau bisa, kerjakan kiprah sesuai dengan impian dosen dan kumpulkan sempurna waktu.

7. Ujian
Dalam perkuliahan biasanya dilaksanakan dua kali ujian, yaitu ujian tengah semester dan simpulan semester. Dalam penilaiannya ujian simpulan semester lebih tinggi daripada ujian tengah semester. Sehingga, jangan mengesampingkan ujian simpulan semester. Dalam mengerjakan ujian simpulan semester, diusahakan untuk dikerjakan secara sungguh-sungguh.

Akan tetapi yang terpenting yaitu tidak melaksanakan tindakan curang ketika mengerjakan Ujian. Karena perbuatan curang dibenci oleh Allah SWT. Ketika kita melaksanakan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT, dukungan dari Allah SWT akan menjauh.

Ketika melihat orang lain berbuat curang, yakinlah bahwa Allah SWT Maha Adil dan niscaya akan menawarkan perbedaan pada mahasiswa yang mencontek dan tidak. Perbedaan itu bisa dalam bentuk nilai dan hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya. Karena dukungan Allah SWT niscaya tiba di ketika yang kita butuhkan.

Beberapa aspek yang dibahas di atas yaitu usaha/ ikthiar yang bisa kita lakukan. Selebihnya sebagai insan biasa hanya sanggup memohon kepada Allah SWT biar diberi fasilitas dalam menuntut ilmu di perguruan tinggi tinggi dan berharap mendapat nilai yang terbaik. Setelah berikhtiar, faktor pamungkas yang harus dilakukan setiap mahasiswa yang sudah berikhtiar yaitu bertawakal kepada Allah SWT. Sehingga jangan lupa berdoa kepada Allah SWT!



Pembahasan di atas merupakan penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh penulis sesudah kuliah selama dua semester di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang sehingga pembahasan di atas masih terkesan khusus dan memilii kekurangan disana-sini. Oleh karenanya penulis membuka selebar-lebarnya pintu kritik dan saran biar goresan pena ini menjadi lebih baik. :)

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Thursday, July 11, 2019

√ Inilah Pembeda Antara Orang Kecil Dengan Besar!

ketegasan
tentang caramu berpikir
adalah revolusi awal
tatanan hidup yang kamu inginkan
bagaimana kamu mendapati
sosok-sosok yang Hebat
dan Luar Biasa
mereka juga manusia
sama sepertimu
hanya mereka berbeda
ketika mereka..
berpikir
merencanakan
melaksanakan rencananya
dan mengevaluasinya
tanpa..
melupakan penghambaan
terhadap Tuhannya..
hanya untuk Allah..
hidup dan mati mereka...

Kutipan yang saya sanggup dari blog seorang teman yang luar biasa. Kucoba merenung untuk mendalami rangkaian kata di atas. Dan hasilnya sungguh inspiratif dan bisa dipakai untuk berintropeksi diri kenapa kita merasa tidak bisa menyamai langkah jejak orang besar yang menginspirasi kita.

Sesuai dengan pernyataan diatas bahwa sebelum melangkah, ada langkah awal yang harus dilakukan. yaitu memikirkan apa yang dirasakan hati. Karena hatimulah yang mensugesti pikiranmu, lalu pikiran itu yang menghasilkan perkatakan. Lalu perkataanlah yang mensugesti tindakan, selanjutnya tindakan yang kita perbuat menjadi kebiasaan dan pada balasannya kebiasaan menjelma karakter.

Sehingga sebelum melaksanakan sesuatu, hendaklah kita menyucikan hati kita dari segala kotoran yang ada. lalu memikirkan apa yang menjadi planning kita, lalu melangkah melaksanakan planning itu atas dasar ajaran yang jelas. dan langkah pamungkas untuk mengetahui tindakan kita benar atau salah, lakukan evaluasi. Saat mengevaluasi diri, libatkan Allah dan suadara-saudaramu. alasannya tidaklah celaka orang yang beristikharah dan tidaklah merugi orang yang bermusyawarah.

Dan balasannya hingga pada kesimpulan bahwa perhatikan hati/ perasaan, ucapan, tindakan, kebiasaanmu. biar engkau menjadi orang yang berkarakter baik. Jangan lupa libatkan Allah SAW dalam segala hal. alasannya orang-orang besar yang bisa berpikir dengan tegas, merencanakan dengan tepat, bertindak dengan baik dan berkarakter yaitu alasannya keyakinannya pada Tuhan-Nya.
:)

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Wednesday, July 10, 2019

√ Prinsip Kerja: Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

 Kita sebagai orang jawa seharusnya gembira dengan leluhur kita √ Prinsip Kerja: Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe
Kita sebagai orang jawa seharusnya gembira dengan leluhur kita. Karena banyak pemikirian-pemikiran dari leluhur kita yang masih relevan dengan keadaan dikala ini. Makara tidak salah bagi kita untuk sedikit menyisihkan waktu dan menyelami lebih dalam budaya, pemikiran dan filsafat yang bersumber dari leluhur kita.
Untuk menyelami hal tersebut, kita harus mempunyai sumber yang sesuai dan masih murni tanpa campur tangan budaya hasil perubahan zaman. Oleh karenanya, sumber yang paling pas dan paling sesuai yaitu dari kisah wayang purwa baik dari kisah Mahabarata maupun Ramayana. Wayang Purwa merupakan kebudayaan hasil dari budaya Jawa yang telah mengakar berpengaruh di kehidupan masyarakat Jawa. Biasanya sebelum dalang wayang kulit purwa memulai lakon pewayangan, Sang Dalang menyampaikan Sabdha Pandhita Ratu Tan kena Wola Wali.
Bawalaksana
Sabdha Pandhita Ratu tan kena wola-wali mempunyai arti bahwa setiap perkataan ulama/ ratu/ pemimpin/ dihentikan berbolak-balik. Atau lebih mudahnya perkataan tersebut dihentikan esuk dhele sore tempe(baca; mencla-mencle). Perkataan ini memang harus dijaga alasannya yaitu perkataan pemimpin yang akan menjadi dasar dan panutan pengikutnya untuk melaksanakan aktivitas.
Ungkapan lain yang masih berkaitan yaitu Dene utamaning nata berbudi bawa laksana. Maksudnya yaitu seorang raja haruslah bermurah hati dan bawalaksana. Bawa laksana merupakan prinsip hidup yang benar-benar dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Pelaksanaan dari perilaku bawa laksana itu sangatah berat dan sulit. Sehingga orang yang bisa bersikap bawalaksana secara tepat sebagai orang yang mempunyai ilmu yang mumpuni.
Bawalaksana dalam kamus jawa sering tidak disebutkan, akan tetapi arti kata bawalaksana sanggup ditemukan di kamus jawa yang terbit dikala penjajahan jepang. Menurut kamus tersebut bawalaksana yaitu melaksanakan sesuai ujaran. Artinya kita harus melaksanakan dan konsekuen terhadap apa yang sudah kita ucapkan. Entah itu berupa janji, sumpah atau hanya ucapan biasa. Budaya jawa telah memberikan bahwa perilaku bawa laksana dijunjung tinggi melebihi perilaku atau nilai yang lain. Jadi, bawalaksana harus ditegakkan walau harus melanggar norma dan nilai yang ada.
Salah satu lakon pewayangan yang sanggup menggambarkan betapa dijunjung tingginya perilaku bawa laksana yaitu kisah penjemputan Dewi Durgandini oleh Bisma. Ketika itu Bisma diutus oleh Ayahya, Prabu Sentanu, untuk menjemput Dewi Durgandini yang hendak ia jadikan istri. Bisma mengiyakan kiprah dari Ayahnya dan sebagai seorang ksatria ia harus berhasil melaksanakan kiprah tersebut. Akan tetapi ketika Bisma dan Dewi Durgandini bertemu dan Bisma memberikan maksud kedatangannya. Sang Dewi mengajukan syarat semoga keturunannyalah yang akan menduduki tahta kerajaan Prabu Sentanu dan bukan Bisma. Sehingga untuk meyakinkan Dewi Durgandini dan untuk keberhasilan kiprah dari ayahnya, Bisma bersumpah untuk Wadad, yaitu tidak pernah kawin selama hidupnya. Wadad dilakukan untuk meyakinkan Sang Dewi semoga keturunannya yang melanjutkan kepemimpinan Prabu Sentanu.
Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa. Dan sebagai pahlawan utama Bisma memang konsekuen memenuhi pengiyaan terhadap kiprah dari Ayahnya untuk memboyong Sang Dewi serta memenuhi sumpah Sang Dewi. Dan kisah inilah yang menjadi bukti betapa perilaku Bawalaksana benar-benar dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.
Oleh karenanya, kita harus bawalaksana. Bukan hanya alasannya yaitu kita dari suku jawa. Akan tetapi secara kebutuhan kita memang harus menegakkan prinsip tersebut. Jika prinsip bawalaksana ditegakkan maka akhir instan yang didapat yaitu kita menjadi orang yang jujur dan berwibawa. Jujur yang berarti menyampaikan yang hitam memang hitam dan yang putih memang putih. Serta berwibawa yang artinya mempunyai harga diri serta kehormatan untuk menegakkan kebenaran dan konsekwen melaksanakan apa yang sudah dikatakan.
Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe
Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe dapat diartikan bahwa dalam melaksanakan sesuatu hendaknya kita tidak terlalu memikirkan apa yang akan kita sanggup dan tidak banyak bicara. Akan tetapi melaksanakan apa yang menjadi tugasnya. Penjelasan lebih lanjut yaitu dalam bekerja kita tidak terlalu memikirkan imbalan/ pamrih. Pamrih sedikit tidak apa, asalkan sepi-sepi saja. Dan kalau dibandningkan dengan pelaksanaan tugasnya/ gawe maka haruslah lebih ramai.
Sehingga dalam pelaksanaannya prinsip sera memang membutuhkan keikhlasan yang sangat tinggi. Ikhlas untuk tidak menceritakan kebaikan yang sudah kita lakukan, bekerja tidak untuk dipuji dan tetap bekerja tanpa pengawasan/ perhatian dari orang lain.
Kemudian apa yang sudah menjadi komitmen dan tanggung jawabnya tetap dilaksanakan tanpa memperhitungkan imbalan ataupun kebanggaan dari orang lain. Bukankah kebanggaan itu hanya udara yang bergetar dan hiang begitu saja? Bukankah imbalan dari insan itu hanya berlaku di dunia saja dan tidak berkhasiat di akhirat?
Ketika kita berprinsip Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe, sudah barang niscaya kita tidak koar-koar menyebutkan kebaikan- kebaikan kita dan menyebut-menyebut pekerjaan/ kekurangan orang lain. Karena mungkin orang lain yang kita anggap kerjanya kurang itu mlah lebih banyak kerja dari pada kita. Mungkin juga kerjanya di balik layar dan memang tidak mau dilihat oleh kebanyakan orang. Kalau sesuai dengan pola ini, kini siapa yang Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe?
Islam, Bawalaksana dan Sera
Konsep Sera dikaitkan dengan Agama, maka kita akan mengingat salah satu kunci utama dalam beribadah, yaitu ikhlas. Sedangkan Bawalaksana dibuktikan dalam Surat As-Shaff ayat 2-3 “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kau menyampaikan apa yang tidak kau perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kau menyampaikan apa-apa yang tiada kau kerjakan.” Harapannya sesudah menegakkan prinsip ini kita sanggup berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjadi insan yang terbaik.
Cara yang paling bijak untuk melaksanakan prinsip Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe dan bawalaksana adalah tidak terlalu memikirkan/ mempermasalahkan apa yang sudah dilakukan orang lain. Tapi merenung, merefleksi dan mengintropeksi apa yang sudah kita lakukan dan berikan. Mari kita laksanakan kata-kata yang selalu kita ucapkan diakhir rapat atau kegiatan-kegiatan kita. Mari bawalaksana dengan konsekuen melaksanakan apa yang diucapkan, yuk tegakkan prinsip Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe!
Sumber: Kitab Sabdha Pandhita Ratu dan diskusi kecil dengan Ayah tercinta, Padma Hadi, S.Pd.
Semarang, 15 April 2012

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Makna Kehidupan: Sesuaikan Dirimu Dengan Lingkungan!

Dalam menjalani kehidupan yang diamanahkan oleh Allah SWT kepada manusia, insan mempunyai dua peran, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Makhluk individu yaitu kiprahnya sebagai diri sendiri. Sedangkan tugas sebagai makhluk sosial yaitu tugas insan dalam menjalin korelasi dengan individu lain.

Dalam memainkan peranannya dalam kehidupan. Ada aneka macam kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan itu sanggup dibagi sesuai dengan tujuan pemenuhan kebutuhan, apakah kebutuhan tersebut  untuk memenuhi kebutuhan sebagai individu atau sebagai mahkluk sosial. Kebutuhan insan sebagai individu antara lain kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Sedangkan kebutuhan sebagai makhluk sosial salah satunya yaitu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kaprikornus untuk memuaskan kebutuhan sebagai makhluk sosial langkah pertama yang harus dilakukan yaitu insan tersebut harus bisa diterima oleh lingkungannya.

Ada kiat yang sanggup dipakai semoga kita sanggup diterima oleh lingkungan. Yang harus kita lakukan yaitu menumbuhkan kesadaran untuk beradaptasi dengan lingkungan, bukan malah kita memaksakan kehendak semoga lingkungan yang harus beradaptasi dengan kita. Karena kehendak tersebut akan menciptakan kita terkesan egois. Dan menjadi kasus yang tidak mungkin saat kita harus merubah lingkungan sekitar kita. Akan tetapi ada hal yang lebih gampang dan mungkin dilakukan, yaitu kita yang beradaptasi dengan keadaan lingkungan kita.

Misalnya saat kita di masjid. Di dalam masjid terdapat kipas angin dan lampu penerangan. Kipas angin sering dinyalakan alasannya memang kebanyakan dari jamaah banyak yang merasa gerah/ kepanasan. Ketika kita menjadi jamaah masjid tersebut tiba-tiba kita mematikan kipas angin alasannya alasan merasa kedinginan. Padahal jamaah lain merasa gerah dan membutuhkan kipas angin tersebut berputar.  Otomatis banyak pihak yang menegur kita. Teguran ini merupakan menunjukan awal bila kita merupakan orang yang tidak diterima oleh lingkungan. Teguran merupakan kesan negatif orang lain terhadap tindakan kita.

Dalam permisalan di atas, bekerjsama kita sanggup menghindarkan diri dari rasa hirau taacuh dan teguran dari jamaah yang lain dengan cara beradaptasi dengan keadaan. Yaitu, memosisikan diri untuk tidak terlalu akrab dengan kipas angin. Karena sekali lagi, Kita tidak bisa menyuruh kebanyakan orang untuk menyesuaikan dengan keadaan kita. dan kita akan dicap egois saat kita hanya berusaha memenuhi kebutuhan kita sendiri dengan mengorbankan kebutuhan lingkungan. Bukankah lebih gampang dan nyaman kalu kita yang beradaptasi dengan keadaan lingkungan dan orang lain?

Kesimpulannya, kunci untuk memenuhi kebutuhan sosial berupa penerimaan diri kita dengan individu lain/ lingkungan yaitu kita harus beradaptasi dengan lingkungan dan bukan malah sebaliknya!

_rubahlah arah gerak sayapmu saat engakau tak bisa merubah arah angin_

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Tuesday, July 9, 2019

√ Sang Merah Putih Yang Islami


Menurut  id.wikipedia.com, Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang secara singkat disebut Bendera Negara, ialah Sang Merah Putih. Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta penggalan atas berwarna merah dan penggalan bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.
Dewasa ini banyak kalangan yang memaknai Bendera Negara Sang Merah Putih dengan warna merah yang diartikan berani dan warna putih berarti suci saja. Akan tetapi ada inovasi dari mahir sejarah ihwal asal-usul penggunaan warna merah dan putih pada Bendera Negara. Penemuan tersebut menawarkan bahwa Bendera Negara Sang Merah Putih menerima dampak Islam. Merah dan putih dipakai lantaran warna tersebut merupakan simbolisasi darah ibu dan warna bendera Rasulullah SAW. Berikut kutipan dari buku berjudul Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara.
Pada proses kehamilan, janin mengalami aneka macam macam fase. Salah satunya ialah fase janin selama pra-milad – sebelum lahir, janin mengonsumsi darah ibu yang berwarna merah selama 9 bulan 10 hari atau 280 hari. Sejak dalam ovum atau sel telur ibu, dalam waktu 14 hari. Ditambah dengan waktu sesudah pindah dalam rahim 266 hari. Seluruh waktunya 14 + 266 hari ialah 280 hari. Menurut hadist dijelaskan setiap 40 hari, janin dalam rahim mengalami perubahan bentuk. Dengan demikian, selama dalam kehamilan, janin mengalami perubahan 7 kali.
Setelah lahir (pasca milad), bayi masih mengonsumsi darah ibu yang disebut Air Susu Ibu (ASI) yang berwarna putih selama 20 bulan 20 hari. Total waktu yang diharapkan bayi untuk memperoleh pinjaman darah ibu pra-milad 9 bulan 10 hari, plus pasca-milad 20 bulan 20 hari ialah 30 bulan atau Tsalatsuna syahra (QS 46:15). Pemberian ASI sanggup digenapkan 24 bulan (QS 2:233). Proses kehamilan dan kelahiran yang menuntut pengorbanan darah ibu yang demikian ini, Al-Quran menilai sebagai usaha ibu yang sangat berat (QS 31:14 dan 46:15). Mungkin inilah sebabnya mengapa para pencipta lagu nasional di Indonesia banyak memakai kata Ibu sebagai kata ganti bangsa Indonesia. Misalnya dalam lagu Indonesia Raya dan Kulihat Ibu Pertiwi.
Selanjutnya dijelaskan lebih lanjut oleh Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Bendera Rasulullah berwarna merah dan putih. Memberikan pengertian sebagai lambang kemanusiaan yang kehadirannya di muka bumi ialah lantaran takdir Allah. Pernyataan Rasulullah SAW ihwal Merah Putih ini , diangkat oleh Imam Muslim dalam Kitan Al Fitan, Jilid X, halaman 340: Innallaha zawaliyal ardha – Allah menawarkan kepadaku bumi. Masyaariqa haa wa magharib- aku ditunjukkan pula timur dan baratnya. Wa a’thanil kazaini – Allah menganugerahkan kepadaku warna yang indah. Al ahmar wal abyadh- Merah Putih. Dari dasar inilah para ulama Indonesia semenjak Abad ke-7M menyebarkan Bendera Merah Putih menjadi bendera umat Islam sebagai dominan bangsa Indonesia. Juga dibudayakan sebagai lambang penyambutan kelahiran bayi dan tahun gres Islam dengan bubur merah putih.
Sehinggga kita sebagai umat Islam hendaknya gembira terhadap Bendera Negara Sang Merah Putih. Karena hal ini merupakan salah satu bukti bahwa Ulama Indonesia telah memasukkan nilai-nilai Islam di kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga melalui goresan pena ini sanggup menambah rasa nasionalisme umat. Dirgahayu Indonesia yang ke-67, Indonesia Jaya!

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Monday, July 8, 2019

√ “Stand Up Comedy” Sebagai Kekuatan Mensugesti Khalayak



Stand up comedy ialah komedi yang ciri khasnya terletak pada pelawak yang melucu di depan khalayak dengan menggunakan media mic dan stand mic. Sehingga humor yang disajikan menggunakan komunikasi satu arah layaknya orang yang berpidato atau berbicara di atas mimbar bebas. Komedian yang ditampilkan pun kebanyakan merupakan orang muda ganteng dan gaul.

Di Indonesia, Stand up comedy diperkenalkan melalui program yang disiarkan secara nasional oleh stasiun televisi terkemuka di Indonesia. Sejak ditayangkan, stand up comedy mulai menjadi program yang digemari. Selain alasannya ditanyangkan melalui televisi, penyebab terdongkraknya kepopuleran stand up comedy ialah alasannya dalam program tersebut, pelawak yang ditampilkan merupakan sosok ganteng dan gaul. Sedangkan bahan yang disampaikan menyentil kehidupan sosial, mengkritisi kebijakan pemerintah dan tak jarang berisi usikan kepada diri sendiri maupun orang lain.

Terlepas dari bahan yang disampaikan, ternyata stand up comedy bisa mengubah paradigma, pandangan dan anutan khalayak umum. Misalnya terkait dengan paradigma dikala kita mendengar kata laki-laki. Laki-laki itu kalau tidak bajingan ya homo. Itulah kata-kata yang didengungkan oleh salah satu pembicara favorit di stand up comedy. Akhirnya, sampaumur ini dalam masyarakat muncul paradigma menyerupai itu.

Secara tersirat kita sanggup mencar ilmu dari stand up comedy. Belajar wacana bagaimana caranya mempengaruhi anutan khalayak umum. Kekuatan mempengaruhi Stand up comedy, selain alasannya disiarkan secara nasional namun juga alasannya penyampaian stand up comedy disajikan oleh anak muda gaul/ ganteng dengan sifat humoris dan santai.

Sehingga dikala kita ingin mempengaruhi orang lain maka yang sanggup kita lakukan ialah memperbaiki penampilan diri dan bersikap humoris. Penampilan diri tidak harus menggunakan baju serba baru, yah cukup menggunakan pakaian yang nyaman digunakan dan rapi. Rapi disini contohnya dikala biasanya tidak kita setrika, kita bisa meluangkan waktu untuk menyetrika. Yah, semoga tidak kusut.

Begitu pula dengan perilaku humoris, kita tidak perlu kesana kemari tertawa-tertawa dan menunjukkan perilaku “nyelelek”. Namun cukup kita senyum, menampakkan wajah penuh kehangatan dikala bertemu dengan orang lain. Bukankah senyum itu sebagian dari ibadah dan menjadi sebuah keharusan dikala bertemu dengan orang lain kita harus menampakkan wajah berseri?

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Sunday, July 7, 2019

√ Alamat Gres Semangat Baru








Blog ini sebelumnya beralamatkan di kangmasguru.blogspot.com. blog yang dibentuk pada malam tahun gres 2011. Tujuan pembuatan blog ini yaitu untuk membuatkan cerita. tidak ada niatan untuk memasang iklan melalui blog ini. murni untuk sharing.

akan tetapi niatan untuk mempublikasikan kisah secara rutin belum sanggup terwujud. alasannya yaitu memang kesibukan pemilik yang sanggup digantikan.dalam rangka menawarkan sentuhan semangat baru, maka alamat blog menjelma rahmahuda.blogspot.com. perubahan nama ini pun bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke 21.

Harapannya melalui alamat blog yang gres ini tulisan-tulisan sanggup terpublikasikan secara rutin. minimal satu goresan pena setiap minggu. sehingga usia 21 tahun sanggup lebih bermanfaat. mari berbagi!
:)
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Kelolalah Murka Dengan Bijak



“Tiga macam sifat orisinil yang ada pada diri insan untuk penyempurnakan watak hewaniyahnya, yaitu: (1) Kecenderungan (2) Marah (3) Mementingkan diri sendiri.” (Hamka, 1984, hal 101)

Manusia dianugerahi banyak sekali macam sifat oleh Tuhan. Salah satunya yakni marah. Marah identik dengan berang dan gusar. Sehingga KBBI menjelaskan murka sebagai keadaan sangat tidak bahagia (krn dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb).
Seseorang murka lantaran dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb. Pada pada dasarnya kemarahan itu disebabkan oleh adanya masalah. Masalah diartikan sebagai kesenjangan antara impian dan kenyataan. Ketika kenyataan yang dihadapi insan tidak sejalan dengan apa yang diharapkan, insan mempunyai kecenderungan untuk marah. Entah murka kepada diri sendiri atau orang lain.
Berdasarkan pendapat Prof. Dr. Hamka murka merupakan sifat yang manusiawi. Karena sifat murka dimiliki oleh semua manusia. Buktinya, semua orang niscaya pernah mencicipi marah. Baik dimarahi atau memarahi. Sehingga aristoteles beropini “Siapa pun sanggup marah. Marah itu mudah. Tetapi, murka pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah”.
Sebagian orang beropini bahwa ketika kau marah, maka obat yang paling sempurna untuk menghilangkan rasa kesal lantaran murka yakni dengan cara melampiaskan kemarahannya. Manusia melampiaskan kemarahan dengan banyak sekali macam cara. Misalnya ada yang membanting apa yang ia pegang, menghancurkan apa yang ada di hadapannya, dsb. Namun di zaman yang serba modern ini, kemarahan seringkali dilampiaskan melalui status di banyak sekali media sosial. Tak jarang status facebook banyak berisi cemoohan dan hujatan yang isinya kata-kata yang kurang pantas untuk disampaikan kepada khalayak.
Daniel goleman dalam bukunya yang sangat populer: Emotional Intelligence, mengutip hasil riset Diane Tice, spesialis psikologi dari Case Western Research University, yang menemukan bahwa melampiaskan amarah merupakan satu cara terburuk untuk meredakannya (dalam Kompasiana).
Dijelaskan lebih lanjut bahwa ledakan murka biasanya memompa perangsangan otak emosional. Akibatnya, orang akan menjadi lebih murka dan kehilangan rasionalitas. Melampiaskan murka justru memperpanjang suasana marah. Sehingga sanggup dikatakan kalau melampiaskan murka yakni tindakan yang tidak tepat.
Lantas bagaimana caranya mengahadapi marah? Daniel Goleman menawarkan saran dengan cara menenangkan diri dan memaafkan. Karena memaafkan bukan berarti menunda kemarahan, namun memperbolehkan diri mencicipi amarah. Merasakan murka tidak menciptakan sesorang menjadi lebih murka sehingga rasionalitas tidak menghilang.
Namun, ada cara yang lebih konstruktif dan terarah. Yaitu dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.  Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian murka ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad). Kemudian dijelaskan murka yakni api setan yang sanggup mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. (Syekh Sayyid Nada dalam media.zoya.co.id) sehingga disarankan untuk wudhu atau mandi.
Mario Teguh pernah mengingatkan, “Setan membesarkan rasa murka di hati kita dan menambahi nikmat dalam pelampiasannya semoga kita mengkasarkan kata-kata dan mengkejikan tindakan, sehingga rusak hubungan kita dengan keluarga dan sahabat.”
Kesimpulannya yakni murka merupakan sifat yang pernah dirasakan oleh semua manusia. Menghadapi murka dengan cara melampiaskannya yakni cara yang tidak tepat. Cara yang sempurna yakni dengan menenangkan diri. Proses penenangan dan memaafkan ini dilakukan dengan cara mendudukkan (ketika marahnya ketika berdiri) dan kalau belum reda dengan cara berbaring. Bisa juga dengan berwudhu atau mandi.
Mari kelola murka dengan cara yang sempurna dan bijak. Karena imbalan yang diberikan bagi orang yang sanggup mengendalikan amarahnya begitu istimewa. “Barang siapa yang sanggup menahan amarahnya, sementara ia sanggup meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap makhluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya menentukan bidadari nirwana dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad).



Referensi: Hamka. 1984. Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas
 
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com